Alisya dan Tangis Malam Itu


img-20160702-wa0025
Ilustrasi

Aku merasakan bibirnya yang hambar ketika kami saling mendekap. Tubuhnya dingin tidak seperti yang kubayangkan malam itu. Temaram lampu kamar samar-samar menampakkan sisa-sisa paras ayu perempuan 25 tahun tersebut. “Alisya, apakah ini yang pertama kali kau rasakan?” kataku lirih.

Alisya hanya mengangguk pelan. Dua matanya masih terpejam lekat menikmati dinginnya AC dua puluh derajat. Aku menggeser pantatku, kusandarkan punggung di dinding kamar sambil mencari letak kacamata yang terlepas dari mataku.

Alisya masih terbaring di sampingku. Dia menarik selimut dan menyelimuti kakiku. “Aku tahu kau juga kedinginan, sayang,” katanya. Kami pun akhirnya bersandar pada tembok bercat putih. Aku mengusap kelopak mata dan mengenakan kacamata minus satu.

Aku meminta izin kepada Alisya untuk beranjak sebentar menyalakan lampu kamar. Ia membolehkan. Tetapi begitu mataku menyapu wajahnya, kulihat pipinya basah. Alisya menangis.

Perempuan berdarah Jawa itu tidak bisa menyembunyikan emosinya yang bergejolak. Aku merapatkan tanganku ke lengannya. Aku sedikit mengusap pelan pundaknya ke bawah. “Jangan membuatku gusar, ceritakan sekarang.”

Wanita berambut sebahu itu hanya menggeleng. Ia tak ingin menceritakan alasannya menangis malam itu. Tapi aku terus membujuk. Alisya masih bergeming. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur menjauhiku. Sebuah tas ransel berwarna hitam ia tunjukkan. Namun aku masih tidak memahami sikapnya.

Aku menghampiri dan memeluknya dari belakang. “Ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan?” Tangisnya malah semakin menjadi. Air matanya merambat membasahi bibir. Saat itu aku semakin kebingungan. Dekapanku kian erat.

“Kau lihat ini!” ucap Alisya. Ia menunjukkan selembar foto bergambar anak kecil yang ia keluarkan dari tas itu. Anak kecil itu tampak tengah duduk di dalam gerbong kereta. Tidak ada keterangan apapun di foto itu. Tapi gambar anak perempuan yang sepertinya belum genap lima tahun telah menyita pandanganku seketika.

Aku melepas peluk terhadap Alisya. Gadis kecil di foto menurutku sangat mirip dengan perempuan yang ada di depanku malam itu. “Aku tahu maksudmu, Alisya. Tapi aku belum siap.”

Alisya menceritakan darah dagingnya sendiri dengan sangat detail. Setiap akhir pekan, ia habiskan waktu untuk putrinya. Ia beralasan, cara itu adalah yang terampuh untuk melupakan kejadian pahit satu tahun lalu. Ia mengakui kini sudah berdamai dengan masa lalunya. “Aku tidak ingin kecewa lagi,” kata Alisya menutup pembicaraan malam itu.

 

Penulis: Danang Firmanto

Tulisan ini diilhami dari kisah nyata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s