Pertemuan Dua Pekan Lalu


Oleh Danang Firmanto

 

dsc_0055-copy
Bapak, selepas mengayuh sepeda di Bantul, Yogyakarta. Rabu, 7 Desember 2016/Danang Firmanto

Aku benci dengan diriku sendiri. Kebencian yang mungkin juga dirasakan orang lain ketika berhadapan dengan perasaan rindu. Tapi kebencianku tak bisa berbuah kemarahan. Aku benci karena sulit mengeja rasa cinta dan kasih kepada dia melalui kata-kata. Selalu saja begitu.

Aku kesulitan mengekspresikan dia dengan tulisan, kecuali rasa bangga yang membuncah. Mungkin, sudah ada ribuan cerita yang mengisahkan perjalanan hidup orang-orang baru yang aku kenal. Sudah banyak cerita aku tulis dari orang-orang yang akan menjadi sejarah. Sudah ada banyak orang yang kutemui dalam perjalanan hidup. Mereka dengan mudah kukisahkan. Tapi kisah dia, sangat sulit aku terjemahkan dalam rangkaian kata.

Sudah dua puluh tahun lebih aku mengenal dia. Aku sangat paham cara dia bicara, marah, gelisah, bahkan menyembunyikan bahagia dan harapan. Aku pun paham pengorbanan dia, rasa sakit, peluh, keringat yang tak kunjung mengering, dan air mata yang jarang kulihat keluar darinya. Tapi tetap saja aku benci karena sampai detik ini, aku tak bisa berbuat lebih untuk dia. Bahkan sekadar mengisahkan dalam cerita.

Sekitar dua pekan lalu, aku merencanakan bertemu dia kembali di sebuah desa. Niatku sengaja memberikan kejutan untuknya. Aku menempuh perjalanan yang menelan waktu delapan jam lebih di dalam kereta, malam itu.

Pada 5 Desember 2016, aku kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran, ratusan kilometer dari Ibu Kota. Sepelemparan batu dari posisiku berdiri, rumah itu tak berbeda jauh kondisinya dengan beberapa tahun lalu. Namun aku melihat atap yang semakin menghitam, dinding-dinding yang tampak lumutan, dan sepedanya yang menyimpan sejuta cerita. Dedaunan pun masih rimbun serta bau wewanginan alam seolah mengobati kerinduan.

Aku sudah membayangkan dia sumringah ketika melihatku nanti. Aku membayangkan dia tak akan tidur lebih cepat karena ingin mendengar ceritaku malam nanti. Pasti juga akan ada sajian yang tidak kutemui di perantauan.

Namun saat itu, aku tidak langsung menemui dia. Langkahku kepergok oleh dua anak kecil yang ternyata juga menyimpan rindu terhadapku. Mereka mencuri perhatianku. “Om kriting,” kata anak yang belum genap 3 tahun itu sambil memandangi mukaku. Seolah tak percaya apa yang dia lihat saat itu.

Aku tersenyum haru. Tapi juga ingin tertawa melihat batang hidung dan pipinya. Kami pun tertawa pada akhirnya. Dia memburuku dengan sebongkah keceriaan dan cerita yang sudah disimpan lama. “Om Dan pulang,” kata kakak anak itu menimpali. Mereka lari memanggil ibunya, mengabarkan kepulanganku dua pekan lalu.

Tapi saat itu, aku masih belum melihat orang yang sebenarnya ingin kutemui. Aku masih bersembunyi di balik tembok rumah dua anak itu yang bersebelahan dengan rumahnya. Aku berharap masih ada waktu untuk memberi kejutan. Tapi tampaknya tidak.

Suara dua anak itu sampai di telinganya. Suaraku pun tampaknya sudah akrab di telinganya. Tak lama setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang juga tak asing. Suara itu datang dari arah belakang rumahnya. Aku sudah menduga, pasti dia, pasti dia. Tidak salah lagi.

Ya Allah, kerinduan kami terlunasi saat itu juga. Guratan senyumnya masih sama. Suaranya yang khas. Tapi langkahnya tidak setegap dulu lagi. Raut mukanya sudah tak sekencang dulu. Aku melihat jelas lipatan kerut di keningnya. Kantung matanya…suaranya yang semakin berat…rambutnya yang kian memutih rata… mataku mulai berkaca-kaca. “Pak, ragilmu pulang!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s