img_20161104_203635

Suasana kerusuhan pada demo 4 November 2016 di depan Istana Negara/Danang Firmanto

Kali ini saya ingin cerita sedikit soal liputan menjelang demo massal Jumat, 4 November 2016. Lebih khususnya soal bagaimana saya memburu Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto. Awalnya kantor menjadwalkan saya mengikuti agenda Wiranto dari pagi sampai selesai. Sekitar pukul 10.00 saya sudah harus berada di kantornya. Nungguin dia rapat.

Sebelum sampai ke kantor Wiranto, sambil jalan kaki saya mengamati pendemo sudah mulai memadati ujung Jalan Medan Merdeka Barat, di dekat patung Arjuna Wijaya (patung kuda). Kaget juga, mereka buanyak, berpakaian serba putih, dan membawa bendera serta spanduk. Takbirr..

Sampai kantor Menkopolhukam, suasana kantor sepi. Tapi dari kantor mulai terdengar orasi mereka yang mendesak Ahok dipenjara karena dugaan penistaan agama. Pidato mereka cukup lama sampai menjelang salat Jumat. Meski rapat sudah selesai Wiranto tak kunjung keluar dari kantornya.

Seusai salat Jumat, Pak Menkopolhukam dijadwalkan bertemu dengan Menteri Sekretariat Negara Pratikno (dulu Rektor UGM), dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin di kantor Sekretariat Negara pukul 14.00. Sekitar pukul 13.00 Wiranto keluar dari kantor. Dia pakai baju putih lengan pendek dan bertopi. Mobil dinas sudah disiapkan lengkap dengan pengawalnya. Koordinasi pun dilakukan. Tapi ternyata dia memilih jalan kaki dengan pengawalan.

Wajah Wiranto cukup datar saat itu. Saya dan beberapa wartawan mencoba mendekat untuk wawancara, tapi ditolak. Sakit ya rasanya ditolak. Tapi okelah, kami membuntuti dia hingga keluar dari kantor. Sempat dilarang untuk mengikuti langkahnya. “Sudah, jangan ikuti saya,” kata Wiranto sambil menoleh ke arah kami. (kurang lebih begitu ya)

Ratusan pendemo yang melihat Wiranto agak kaget. Beberapa dari mereka sempat mengambil foto Wiranto yang tanpa ekspresi itu. Saya clingak-clinguk memastikan dia tak lepas dari pandangan. Ia menyeberang jalan lewat jembatan penyeberangan orang di dekat kantor Menkopolhukam. Waktu itu massa demonstran sudah mulai longmarch dari Merdeka Barat ke Istana Negara.

Sampai di samping patung kuda, satu unit mobil polisi bersiap untuk menjemput Wiranto untuk bertemu dengan Pratikno dan Lukman. Lalu, wusss… Wiranto dan mobil itu menerabas tengah-tengah area dalam Monas.

img_20161104_151223

Sejumlah demonstran salat Ashar berjamaah di Jalan Merdeka Barat pada 4 November 2016/Danang Firmanto

Massa makin membludak memadati jalan. Saya memutuskan untuk mengikuti mereka ke Istana. Menjelang sore masih belum ada kerusuhan. Ketika Ashar, saya melihat banyak dari mereka yang salat berjamaah di jalan. Bagi-bagi air minum, roti, bahkan ada juga kurma.

Saya pun terjebak kerumunan di depan Istana Negara. Mau balik kanan susah, akhirnya dengan kartu sakti, bisa menerobos pertahanan polisi bertameng. Saya benar-benar semakin terjebak di depan Istana. Ruas Jalan Merdeka Utara dan Barat ditutup dengan penjagaan berlapis. Gulungan kawat juga dipasang di depan kantornya Presiden Jokowi.

Situasi semakin tak kodusif menjelang Maghrib. Entah siapa yang memulai, saya melihat beberapa pendemo melempari benda ke arah polisi. Orasi terus berjalan, puluhan seruan takbir juga terdengar jelas. Sewaktu Maghrib tiba, situasi mereka. Begitu pula saat Isya datang.

Doorrr….doorrr… saya mendengar percikan api di langit. Tembakan gas air mata. Situasi setelah Isya semakin memanas. Kerusuhan pun pecah. Beberapa orang pendemo ditangkap. Saya pun meihat seorang polisi dipapah masuk ke ambulans dengan wajah penuh darah. Kobaran api membumbung, satu unit mobil ludes dibakar.

Saya mulai merasakan perih di bagian mata akibat efek gas air mata. Ratusan orang terlihat mengoleskan bagian bawah kelopak matanya dengan odol. Nafas mulai sesak, saya menutup hidung dengan slayer. Malam itu, saya benar-benar kehilangan jelak Wiranto.