Oleh Danang Firmanto

img-20160917-wa0036

Selepas wawancara dengan mantan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi.

Sudah satu tahun lebih saya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Enggak terasa dan tanpa diduga memang. Sebab, saya tak pernah membayangkan sebelumnya bisa menjadi bagian dari Tempo. Seperti mengalir saja, tapi ada sedikit cerita seru sebelum memutuskan menjadi wartawan.

Saya mulai dari SMP ya. Saya sekolah di SMP 1 Bantul. Termasuk sekolah favorit saat itu dan mungkin sampai sekarang. Waktu itu, saya masih berpikir untuk menjadi ilmuan, arsitek, dan cita-cita yang berbau eksak. Saya kasih tahu, cita-cita saya itu banyak dulu. Bahkan tak terhitung jari, tetapi sekadar impian yang silih berganti.

Sekolah di SMP membuat saya mengenal lebih banyak kawan, pelajaran, dan perasaan. Dulu pelajaran yang paling asik waktu SMP seperti Biologi, Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. Tapi ketika beranjak ke kelas IX, saya suka sama Bahasa Indonesia. Suka menulis puisi-puisi enggak jelas gitu. Nyambung dengan perasaan yang sedang muncul saat itu.

SMP kelas 9 saya mulai jatuh cinta dengan seseorang. Ini serius cuy.. Orang itu yang tidak sengaja membuat saya suka menulis. Gadis itu pula yang tanpa sadar menggiring saya menamatkan sebuah buku tentang cinta setebal 400an halaman. Saya mendadak jadi romantis, beberapa malam terlewat untuk membuat puisi berlembar-lembar. Entah, sekarang beberapa puisi itu ke mana larinya.

Enggak cukup dengan puisi, cerita pendek pun lahir untuk si cewek itu. Saya jadi semakin ingin menulis saat itu. Hingga lulus dan sekolah di SMA 2 Bantul, kegiatan menulis pun berlanjut. Tapi yang membedakan, tulisan saya beralih ke jenis yang lebih ilmiah. Mulai belajar menulis artikel. Bahkan beberapa kali menang lomba menulis. Kuncinya simpel, yang penting seneng.

Semasa SMA lumayan banyak kegiatan. Beberapa organisasi saya ikuti. Tidak luput yang berbau jurnalistik. Oleh salah seorang Guru Bahasa Indonesia, saya ditunjuk memimpin redaksi majalah pada 2009. Waktu itu saya kelas XII IPS. Jujur, agak berat waktu itu karena masih belum pengalaman. Tapi ya akhirnya terbit juga majalahnya.

Bicara soal cita-cita, sejak mau lulus SMA sudah mulai mengerucut. Ingin menjadi seorang penulis. Dorongan ingin menjadi penulis lahir dari saya sendiri. Setelah SMA lulus, saya memutuskan memilih jurusan komunikasi. Mungkin menarik ya, saya ini lulusan dengan hasil nilai paling jelek di Ujian Nasional.

Saya mendaftar ke beberapa kampus dengan memasukkan Komunikasi sebagai salah satu pilihan jurusan. Tapi dari sekian kampus, tidak ada yang menerima saya di jurusan itu. Agak kecewa waktu itu. Tapi bersyukur, masih diberikan kesempatan masuk di Manajemen UNY tanpa tes dan gratis sampai lulus.

Kesibukan menulis tetap lanjut dong. Saya gabung di Hima Manajemen pada 2010 dan masuk di divisi media. Tahun selanjutnya menjadi Kepala Departemen Media di Hima. Keinginan untuk terus menulis kala itu cukup gila-gilaan. Saya sering banget ikut lomba menulis. Pada 2011 saya bikin blog. Tahun selanjutnya diundang ke KPK untuk menerima penghargaan menulis. Pada 2013 saya ikut proyek menulis di Gramedia sampai terbit satu buku antologi cerita. Kuncinya simpel, yang penting seneng.

Masih banyak lagi cerita soal dunia menulis yang saya geluti. Tapi saya ingin kembali ke topik yang mengantarkan saya menuju ke Tempo. Pada 2012, kampus membuat acara workshop jurnalistik. Salah satu pembicaranya adalah Kepala Biro Tempo Jogja, enggak usah saya sebutin namanya kali ya. Sebab, dia sekarang jadi redaktur saya di Tempo.

Di sela diskusi pada acara workshop itu, saya tanya bagaimana caranya bisa bergabung di Tempo. Nah, pembicara itu bilang silakan daftar saja kalau sudah lulus. Saya lulus pada Agustus 2014 dengan IPK 3,47. Setelah lulus itu saya ingin menjadi wartawan. Tapi melihat kesempatan yang ada, saya melmar di beberapa lowongan pekerjaan. Mulai dari BPJS Kesehatan, CPNS Kementerian Keuangan, Editor Buku, Freelance, dan sebagainya.

Sedikit melupakan Tempo, karena memang enggak ada lowongan di sana waktu itu. Pada Februari 2015 saya memutuskan menjadi marketing di LKBN Antara, perusahaan milik pemerintah. Tapi bekerja di marketing tidak bertahan lama, karena mungkin memang tak cocok. Belum genap satu tahun, saya keluar dari Antara.

Galaunya, saat akhir Mei 2015, Tempo membuka kesempatan untuk menjadi calon reporter. Wah, keren ini! Saya bingung waktu itu, karena bagaimanapun juga bekerja di perusahaan BUMN itu menjadi impian banyak orang. Tapi di sisi lain, saya ingin mewujudkan impian sejak dulu.

Setelah berdiskusi yang cukup alot dan sedikit dramatis, saya memutuskan mendaftar sebagai calon reporter. Beberapa tahapan berhasil saya lewati. Hingga akhirnya, di salah satu tahapan tes yaitu wawancara saya benar-benar tidak menyangka. Saya bertemu dengan Kepala Biro (Kabiro) Tempo Jogja yang dulu saya temui saat mengisi acara di kampus pada 2012. Tampaknya, dia sudah tak lagi menjadi Kabiro. Dan sekarang hampir setiap pekan kami bertemu dan bertegur sapa.