IMG_20160508_101708

Jumadi tengah menggendong Julia, putri bungsu yang berperan sebagai pocong dalam atraksi Kuda Lumping di Bundaran HI, Ahad, 8 Mei 2016 /Danang Firmanto

Jakarta – Suara pecut memecah keramaian Bundaran Hotel Indonesia menjelang siang hari ini. Dari sudut Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumadi menggelar pertunjukan Kuda Lumping sederhana bersama istri dan anak perempuannya. Sejumlah pengunjung Car Free Day (CFD) tampak kaget dengan suara pecut yang memekik. Mereka menoleh ke arah laki-laki asal Surabaya itu.

Suara gamelan Bonang, Gong, dan Kendang melantun dengan ritme cepat dari tangan perempuan paruh baya, istri Jumadi. Beberapa kali ujung cambuk yang dimainkan Jumadi mengenai aspal diiringi suara gamelan khas Jawa Timur. Belasan pengunjung CFD berkerumun. Jumadi lalu meletakkan seutas pecut warna merah itu di dekat gamelan.

Bapak lima orang anak itu memanggil bungsunya, Julia Wulansari. Selembar kain putih lusuh telah disiapkan untuk membalut tubuh anaknya yang masih berumur 7 tahun, nyaris seperti pocong. Julia hanya diam, tubuhnya mengikuti gerakan tangan ayahnya yang membungkus rapat.

Atraksi tak cukup sampai di situ, Jumadi mengambil seutas tali warna hijau dan melilitkan ke tubuh Julia. Julia tetap diam dikerumuni para pengunjung. Sementara itu alunan gamelan Kuda Luming kian memanas.

Seorang pria lalu datang sembari memegang dua buah tongkat berukuran 50 cm. Ujung tongkat itu masing-masing terlilit kain dengan api yang membakar. Laki-laki itu lalu menyemburkan minyak tanah dari mulutnya ke arah ujung tongkat. Kobaran api menyambar di udara hingga pengunjung tampak kian serius.

Gamelan terus dilantunkan. Julia telah terbungkus rapat dengan tali melilit kencang. Tubuh Julia seakan melemas. Jumadi memanggul anaknya dan memasukkan ke tenda kecil warna merah di dekat gamelan diletakkan. Tempo mendekat, mencoba berdialog dengan pria 50 tahun itu. Jumadi mengatakan atraksi itu bak pesan bahwa semua orang akan mati.

“Hanya anak pocong tadi itulah namanya kecil, gede, tua, muda akan mati. Pesannya itu orang enggak boleh takabur, harus sopan santun,” kata Jumadi kepada Tempo di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Ahad, 8 Mei 2016.

Suara gamelan pelan-pelan mereda, samakin sayup-sayup terdengar. Di balik tenda merah itu, terbaring Julia dengan seutas tali yang melilit. Para pengunjung mencermati seksama tenda itu. Tidak lama, Julia keluar dengan tali yang sudah terlepas. Jumadi mengibaratkan seutas tali itu adalah setan yang melilit. “Bagaimana bisa lepas, diam atau doa atau wiritan kan kita enggak tahu, itu rahasia,” kata dia.

Jumadi sudah menekuni profesinya sebagai pekerja seni secara turun temurun. Ia mengaku telah merantau ke Jakarta dari tahun 1970. Di samping tampil di CFD, bersama rekan-rekannya ia kerap diundang di acara penyambutan tamu-tamu di hotel dengan menampilkan kesenian Kuda Lumping. Pendapatannya terhitung pas-pasan. Dalam sekali penampilan ia mendapatkan honor sekitar Rp 2.000.000. Jumah itu harus dibagi rata dengan minimal 15 orang dalam satu rombongan.

Untuk tampil di acara CFD, Jumadi umumnya mengantongi sekitar Rp 240.000 setiap akhir pekan. Ia bersama anak dan istrinya datang ke Bundaran Hotel Indonesia dari pukul 08.00-11.00. Biasanya ia tampil sebanyak 3 kali di tiga titik sekitar Bundaran. Kepada Tempo, ia menceritakan kesenian itu sudah tiga turunan di keluarga Jumadi. Pria yang saat ini tinggal di Tanah Abang itu pun berkukuh akan terus melestarikan kesenian Kuda Lumping di Ibu Kota.