Danang Firmanto

Screenshot_2016-04-15-15-29-46_com.miui.videoplayer

Jakarta – Kalur, nelayan berusia 32 tahun terlihat membawa dua plastik hitam. Ia melangkah berpakaian setengah setengah telanjang mendekati pengepul ikan di perkampungan nelayan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Tubuhnya berkeringat, tampak lesu membawa ikan hasil tangkapannya. “Ikan dari kemarin, seharian lebih,” ujar dia kepada Tempo di Muara Angke, Sabtu, 9 April 2016.

Kalur berujar telah melaut sekitar 20 tahun, sejak ia kecil. Ia adalah satu dari seribu lebih nelayan di Muara Angke yang terdampak reklamasi Pulau G. Matanya berkaca-kaca menceritakan kehidupannya yang tak kunjung membaik.

Bibirnya bergetar seiring kata demi kata terlontar soal proyek reklamasi yang merampas kehidupannya. Dalam sehari, ia biasa mendapatkan ikan sebanyak 30 kilogram lebih. Jumlah itu ia peroleh sebelum puluhan bahkan ratusan kubik pasir mengurug lahan pencahariannya. Reklamasi juga mematikan populasi kerang hijau di Muara Angke. “Saya minta reklamasi dihentikan sekarang, kasihan kami,” ujarnya.

Kalur kembali melihat hasil tangkapannya. Pengepul ikan mengangkat dua plastik hitam itu bergantian dan menimbang. Kalur tak terkejut, ia sudah tahu tangkapannya menurun drastis. Angka 9,5 dan 5 kilogram tertera di timbangan gantung milik pengepul. Transaksi pun terjadi, tampak dua lembar uang seratus ribu berpindah tangan.

Edi ketua kelompok nelayan di Muara Angke berujar bahwa kondisi penurunan tangkapan ikan terjadi semenjak reklamasi berjalan hingga saat ini. Sebesar 80 persen pendapatan nelayan tergerus. Kapal-kapal tampak bersandar tak melaut.

Kalur kembali melontarkan kritik kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bohong, bahwa reklamasi akan menyejahterakan nelayan. Ia menantang pihak-pihak yang bilang bahwa reklamasi akan memperbaiki kehidupan nelayan. “Ikut kami, nabur, biar percaya!” tuturnya.

Hasyim, salah satu tokoh masyarakat yang berusia 61 tahun angkat bicara. Ia tak menampik sebagian warga Muara Angke pro terhadap reklamasi. Ia menunjuk orang-orang daerah pinggiran Kali Adem. “Mereka dukung,” kata dia.

Rupanya, Hasyim punya alasan. Masyarakat yang setuju akan reklamasi telah menerima kucuran dana dari salah satu pengembang. Ia menduga Agung Podomoro, sebab bangunan-bangunan menjulang di dekat Muara Angke adalah milik Agung Podomoro.”Ada juga empat orang yang mengaku tokoh masyarakat yang diberangkatkan umroh,” kata dia.

Sementara itu dari pinggiran pesisir Kali Adem, Muara Angke, tampak alat-alat berat bertengger di Pulau G. Tumpukan pasir menutupi sebagian permukaan laut. Beberapa kapal berukuran sedang terlihat berada di sekitar kawasan reklamasi tersebut.

Di kalangan elit politik, pembahasan rancangan peraturan daerah soal reklamasi tak kunjung usai. Namun Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berkukuh melaksanakan proyek tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi pun mencium ketidakberesan proyek reklamasi juga rancangan peraturannya. Hasilnya, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi ditangkap tangan karena diduga menerima suap guna memuluskan proyek.