Oleh Danang Firmanto

DSC_0442 copy-1

Monas

Jakarta – Muhyi Sandi, pria asal Madura ini sudah dua tahun berjualan kopi di Ibu Kota. Beberapa renteng kopi ia gantungkan di bagian depan sepeda bersama tumpukan puluhan gelas plastik. Sementara dua buah termos ia letakkan di belakang sepedanya, ditemani ice box berisi pecahan es batu. “Saya keluar biasanya dari jam lima sore sampai jam satu, kalau rame jam tiga (dini hari),” kata dia saat ditemui Tempo di depan kantor Gubernur DKI Jakarta, Kamis malam, 21 Januari 2016.

Muhyi menuturkan banyak kesulitan selama berjualan kopi keliling setahun terakhir. Mulai dari penurunan penghasilan, tertangkap petugas pamong praja, hingga pembeli yang enggan membayar. Selama dua bulan lalu sudah tiga kali dagangannya dirazia petugas di sekitar Monas. Menurut dia bukan petugas gabungan resmi. Lima orang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) datang menggunakan dua mobil tanpa menunjukkan surat-surat lalu mengangkut sepeda beserta rentengan kopi itu. “Nanti bisa ditebus,” kata Muhyi menceritakan ucapan petugas itu.

Ketika Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, kata Muhyi, penghasilannya bisa mencapai Rp 3 juta per bulan. Namun semenjak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi gubernur, penghasilannya turun hingga 50 persen. Ia menilai peraturan yang melarang pedagang berjualan di kawasan Monas membuat penghasilannya tercekik. “Cuma Ahok yang nutup-nutup Monas,” kata dia.

Pria berumur 24 tahun itu menilai Satpol PP hanya merazia para pedagang kopi keliling. Ia dan beberapa penjual kopi keliling lebih memilih pasrah ketika razia datang. Umumnya petugas akan meminta uang tebusan Rp 250 ribu agar sepeda dan dagangan Muhyi bisa kembali.

Muhyi ternyata bukan satu-satunya pria asal Madura yang berjualan kopi keliling. Ia menyebut ada sekitar seratus orang Madura yang ia kenal menjual kopi keliling di Jakarta Pusat. Para penjual itu umumnya berkelompok dan tinggal bersama kelompoknya. Dalam satu kelompok, kata dia, ada satu orang yang menjadi atasan. Ia menyebutnya sebagai bos yang menyediakan kopi-kopi dagangan.

Muhyi menuturkan razia itu biasanya pada pagi hari hingga sore. Tetapi malam pun terkadang ia mendapati cerita dagangan temannya terkena razia. Ia menceritakan pengalaman terkena razia saat seorang pegawai dinas perhubungan membeli kopinya. Muhyi saat itu sudah ingin pergi berkeliling, namun pembelinya menahan. “Sini dulu,” kata dia menceritakan. Tak lama setelah itu Satpol PP datang dan Muhyi tidak bisa menolak sepeda dan kopi-kopinya diangkut. Sementara pegawai dinas perhubungan itu, kata dia, hanya diam.

Muhyi pertama datang ke Jakarta pada 2011 dan mengawali dengan berjualan rokok sekitar delapan bulan. Namun ia mengaku tidak betah lalu kembali ke Madura. Di Madura, pikiran Muhyi bergejolak ingin kembali merantau. “Kalau tidur malam, mimpi dagang, akhirnya berangkat lagi sama teman ke Jakarta)” ujar dia.

Muhyi masih bertahan dengan pendapatannya sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan. Bahkan ia masih menyisihkan beberapa penghasilannya itu untuk orang tua di Madura. Meski tidak rutin setiap bulan, ia selalu mengirimkan uang untuk orang tuanya. Ia bersyukur atasannya yang juga tetangga Muhyi di Madura menyediakan tempat tinggal tanpa harus membayar.

Pria yang saat ini tinggal di Tanah Abang itu masih bermimpi terus mengadu nasib di Jakarta. Ia bahkan berujar akan dijodohkan dengan tetangganya di Madura. Kepada Tempo, ia mengaku berencana melepas masa lajangnya tahun depan. “Saya akan bawa keluarga ke sini, biar mereka tahu,” kata Muhyi.