Oleh Danang Firmanto

IMG_20160111_143149 copy

Jakarta – Rapat kerja membahas devisa antara Anggota DPR Komisi XI dengan Bank Indonesia (BI) lagi-lagi mundur sesuai jadwal. Rapat yang dijadwalkan Senin, 11 Januari 2016 mulai pukul 14.00 itu terpaksa ngaret. Dari balkon lantai dua di atas ruang rapat Komisi XI terlihat baru belasan pegawai BI. Sementara anggota dewan, belum tampak satu pun.

Jajaran pegawai BI terlihat kompak, yang laki-laki mengenakan kemeja putih dan dasi warna merah. Sementara beberapa perempuan mengenakan blazer hitam. Tempo melihat juru bicara Gubernur BI, Tirta Segara, tengah duduk di barisan kedua dari deretan kursi untuk pegawai BI. Ia menyibakkan lengan kemeja sembari melihat jam tangan yang dikenakan di tangan kanannya.

Dari arah pintu utama rapat, seorang laki-laki memasuki ruangan menuju deretan kursi komisi XI. Sepertinya dia salah satu anggota di komisi itu. Tirta beranjak mendekati laki-laki berjas abu-abu itu. “Apa kabar Pak? Semoga sehat sukses selalu,” kata dia sambil berjabat tangan. Tempo sempat mendengar percakapan singkat mereka soal perayaan tahun baru kemarin. Keduanya tampak mencair.

Tak lama setelah itu, Gubernur BI Agus Martowardoyo didampingi para deputi memasuki ruangan. Mereka duduk di deretan kursi sebelah kiri jika dilihat dari balkon lantai dua. Sedangkan anggota Komisi XI pun secara bersamaan memasuki ruangan dan mengambil posisi duduk di sebelah kanan.

Fadel Muhammad, Ketua Komisi XI DPR tampak rapi duduk di antara dua anggotanya yaitu Marwan Cik Asan dan Gus Irawan Pasaribu. Belasan orang lainnya juga terlihat memenuhi ruang rapat seluas sekitar 400 meter persegi itu. Tidak ada kamera CCTV kecuali lambang Burung Garuda yang terpasang berhadapan dengan jam dinding yang menunjukkan pukul 15.10.

Agus tampak tenang duduk berhadapan dengan Fadel. Di balkon lantai dua, belasan wartawan tampak membenarkan posisi duduk. Seperti biasa, Fadel memberi kesempatan bagi Agus bicara. Agus yang didampingi kelima deputinya terlihat menekan tombol microphone. Dengan basa-basinya, ia mulai bicara nada pelan. Namun, belasan wartawan yang sudah menunggu lebih dari satu jam itu kecewa. “Kami meminta rapat ini berjalan tertutup,” ujar Agus.

Fadel angkat bicara. Ia membuka beberapa lembar tata tertib rapat dan menyebut rapat bisa dinyatakan terbuka dan tertutup. Ia kembali berujar agar pembicaraan bisa mendalam maka sepakat dengan Agus. “Pimpinan juga setuju, saya menyatakan rapat …,” kata dia sambil mengangkat palu.

Belum selesai bicara, salah seorang anggota komisi XI, Mukhamad Misbakhun mengajukan interupsi. Dengan suaranya yang lantang, ia menilai rapat tidak perlu tertutup karena bahan yang akan dibahas sudah menjadi konsumsi publik. “Dibahas banyak peraturan BI tentang devisa, itu diunduh juga bisa,” kata dia.

Misbakhun kembali bicara jika rapat tertutup, ia berharap BI mau membuka blak-blakan ihwal devisa Indonesia yang dikelola dan jumlah dollar yang dimiliki. Ia bahkan menyebut sejak awal meminta data cadangan devisa namun tak pernah diberikan. Misbakhun berujar nilai kurs rupiah jatuh, tetapi DPR tidak tahu berapa cadangan denominasi yang dikeola BI. “Trus kami ini mau jadi anggota parlemen seperti apa?” ujar dia menatap Fadel dan Agus bergantian.

Lalu Misbakhun pergi meninggalkan ruangan rapat sebentar. Fadel angkat bicara. Ia mengambil langkah menanyai satu per satu anggotanya. Marwan, kata dia, menginginkan rapat kerja berjalan tertutup, demikian pula Gus Irawan. “Kalau kami ingin dapatkan informasi lebih, tertutup lebih bijaksana,” ujar anggota Fadel lainnya.

Fadel tampak mengunyah makanan yang mungkin sejenis kacang sambil mendengarkan argumen para anggotanya. Ia tetap terlihat tenang. Sementara jajaran pegawai BI terlihat serius menatap para mitra kerja mereka yang sedang berembug memutuskan jalannya rapat. Fadel berhenti mengunyah makanan, ia mengusap telapak tangannya dan menekan tombol microphone.

“Kami harapkan Gubernur BI, istilah Pak Marwan buka-bukaan. Ini konsumsi umum, kami harapkan lebih jauh dari ini. Saya putuskan saja, pertemuan ini kami bikin tertutup,” ujar Fadel sambil mengetuk palu ke meja rapat satu kali. Dan para wartawan akhirnya satu per satu meninggalkan balkon.