Oleh: Danang Firmanto

Suara adzan shubuh membangunkan saya mendadak. Selasa, 25 Agustus 2015 menjadi titik balik cita-cita yang sempat terlontar di depan dosen penguji skripsi, Naning Margasari. “Mau jadi apa setelah lulus?”

“Jurnalis,” jawab saya pada saat itu.

Pukul 05.15 WIB saya menuju stasiun Tanah Abang demi sebuah perjalanan bertemu dengan sebagian dari keluarga besar Tempo dan mengenal Tempo lebih dalam. Kami berdua puluh hanya dibekali dua amplop yang salah satunya berisi petunjuk dan uang Rp25,000. Tantangan yang membuat saya harus berpikir untuk menggunakan uang itu sebijak mungkin. Menarik, karena dari 20 orang itu dibagi menjadi dua kelompok dengan rute pemberangkatan yang berbeda, stasiun Tanah Abang dan Cikini. Saya mendapatkan rute perjalanan dari stasiun Tanah Abang.

Saya tiba pukul 05.30 WIB di stasiun Tanah Abang dan melihat cukup banyak calon penumpang yang akan memulai beraktivitas. Wajah mereka datar dibarengi langkah yang tampak buru-buru. Selepas membeli tiket, saya coba tanya ke salah seorang petugas terkait jadwal pemberangkatan pertama menuju stasiun Bogor.

Akhirnya saya menuju ke peron tiga, tempat berkumpul kelompok yang berangkat dari stasiun Tanah Abang. Kami sepakat berkumpul pukul 05.30 WIB. Terlihat Bagus dan Diko sudah berada di area dalam stasiun terlebih dahulu. Menyusul berikutnya, Arief dan Egi. Pada pukul 06.00 WIB kereta menuju stasiun Bogor tiba. Kami berempat naik dalam gerbong nomor 5.

Saya melihat di dalam kereta hanya beberapa orang saja yang berdiri. Di samping saya, duduk salah seorang mahasiswi baru dari fakultas MIPA, Universitas Indonesia, Rafiqatul Khairi, membawa atribut OSPEK. Di tempat duduk yang berbeda, tampak seorang ibu tertidur sambil menutup kepalanya dengan pasmina.

Perjalanan selama menuju ke stasiun Bogor tak mengalami kendala. Saya akhirnya tiba di stasiun Bogor sekitar pukul 07.30 WIB. Sempat menunggu beberapa menit karena ada teman yang masih dalam perjalanan menuju stasiun Bogor. Setelah kami lengkap berdua puluh, segera melanjutkan perjalanan menuju Wisma Tempo Sirnagalih (WTS). Hanya angkot yang bisa mengantarkan kami dengan pertimbangan biaya yang lebih terjangkau.

Sebelum menuju ke WTS, saya transit di dua tempat, Sukasari dan Masjid Jami Nurul Huda. Tiba di Sukasari saya harus menaiki angkot yang berbeda menuju masjid Jami Nurul Huda. Di awal kami memutuskan untuk berangkat menggunakan dua angkot untuk menghemat biaya dan waktu.

Kami duduk berdesak dengan posisi tas berada di pangkuan. Sempat terjadi tawar-menawar harga antara kami dengan sopir. Salah seorang dari kami, Bolang, yang memang memiliki kemampuan berbahasa Sunda mencoba bernegosiasi dengan sopir angkot dengan bahasa yang sama. Akhirnya ongkos bisa disepakati. Angkot dari stasiun Bogor ke Sukasari, satu orang dikenakan biaya Rp4,500. Sementara dari Sukasari ke masjid Jami Nurul Huda, Rp7,000.

Setibanya di depan masjid, kami sepakat untuk berjalan kaki menuju WTS yang berjarak dua setengah kilometer. Membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke WTS dengan berjalan kaki. Dari pukul 09.00 kami tiba di masjid Jami Nurul Huda, akhirnya pukul 09.20 saya dan rombongan tiba di WTS dan langsung mendapat sambutan hangat dari Tempo.