Tags


Oleh: Danang Firmanto

Meja Kerja

Meja Kerja

Dunia jurnalistik bagi saya menyimpan pesona tersendiri. Entah dari mana ‘ruh’ itu merasuki pikiran saya, tetapi semakin lama nyawa-nyawa untuk menulis muncul kian kuat. Bapak bukan seorang wartawan, ibu pun sama. Lalu?

Mungkin kakak pertama yang tidak sengaja mendoktrin saya untuk terjun dalam dunia kepenulisan. Dia dulu kerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen pada bidang jurnalistik. Tempat kerjanya kerap memberikan pelatihan jurnalistik kepada para wartawan dari pelbagai media di tanah air. Jelas saja, pimpinan lembaganya sudah tak diragukan lagi kiprahnya di media. Beliau adalah penulis novel Cintaku di Kampus Biru, juga kalau tidak berlebihan bisa saya bilang pakarnya di bidang jurnalistik. Tulisannya acap kali mengisi rubrik di media cetak nasional.

Saya mulai menyadari bahwa Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y), tempat kakak saya bekerja pada saat itu memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang dan impian saya. Jujur saja, saya mulai mencintai buku kala itu. Dan kesempatan mengenal dunia jurnalistik semakin terbuka dengan keikutsertaan saya pada workshop jurnalistik yang diadakan LP3Y 2007 lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA kelas sepuluh.

Selepas pelatihan itu, saya diminta membagikan pengalaman di depan kelas oleh salah seorang guru Bahasa Indonesia, Bu Sis. Dua orang berdiri di depan kelas, saya ndredeg alias gemetaran waktu itu. Maklum, kali pertama cerita di depan teman-teman sekelas. Andhika Bayu, teman yang dulu saya ajak ikut pelatihan sepertinya lebih bisa rileks dibanding saya. Tidak sampai setengah jam berdiri, rasanya lama sekali. Tapi ada kejutan setelah itu, saya menjadi aktif berkontribusi di majalah dinding sekolah.

Semacam kecanduan, SMA menjadi awal mula saya semakin mengenal dunia penuh kata itu. Tawaran menulis datang dari berbagai pihak. Dan seperti kebanyakan orang, saya mencoba menulis puisi. Tidak dipublikasikan hingga sekarang karena sangat pribadi menyangkut soal cinta pertama saya dulu. Lalu mencoba menulis cerpen, hingga ada teman yang diam-diam melakukan investigasi siapa sebenarnya tokoh yang ada dalam cerpen itu. Memang, cerpen itu sebagian besar kisah nyata.

Rasanya kok kurang greget kalau tidak mencoba menulis karya nonfiksi. Naik kelas sebelas, ada tawaran datang dari guru Bahasa Indonesia untuk menulis artikel ilmiah soal Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Dapat dukungan pula dari guru Ekonomi, Bu Dwi (semoga beliau tidak baca tulisan ini :-D). Akhirnya tawaran itu saya terima, lalu berdiskusi bersama dua guru hebat itu. Jadilah artikel yang melewati revisi berkali-kali dan siap untuk dilombakan dalam Olimpiade Membaca APBN tingkat Provinsi. Saya menulis soal pajak pada saat itu.

Peringkat tiga provinsi! Terima kasih untuk kedua guru yang telah membimbing saya. Ini yang saya katakan kecanduan. Semakin fokus di bidang itu meski banyak tantangan. Saya dulu ingin sekali masuk IPA. Tapi setelah dipikir-pikir, IPS lebih keren! Belum tentu saya bisa mencintai dunia jurnalistik kalau saya masuk IPA. Ada teman saya dari lembaga pers di sekolah yang menawari untuk gabung dalam keredaksian tahun 2008. Namun tawaran itu saya tolak, masih belum siap kalau harus liputan ke mana-mana dan lebih suka menulis freelance.

Naik kelas dua belas, suasana sudah berbeda. Sudah tidak aktif di beberapa organisasi sekolah seperti Rohis, OSIS, dll. Tetapi ada teman yang mendesak saya untuk gabung dalam grup nasyid, padahal suara saya mah apa atuh. Ambil nada tinggi sedikit saja rasanya leher seperti tercekik. Tapi tawaran untuk gabung dalam grup acapella itu saya terima. Sebenarnya bukan alih minat, hanya ingin mencoba sejauh mana kemampuan bernyanyi. Meski sering salah ambil nada saat latihan, tapi heran juga kok bisa mendapat peringkat ketiga provinsi saat lomba MTQ di Kulon Progo 2009 lalu. Ya, itu karena teman-teman saya suaranya bisa menutup suara fals saya. Kalian luar biasa!

Ada godaan terberat sebelum tawaran gabung grup nasyid. Yaitu menjadi pemimpin redaksi majalah perdana yang terbit di lingkungan sekolah. Tanpa sepengatahuan saya, tiba-tiba saja nama saya diusulkan menjadi pemimpin redaksi Majalah Exsotic. Tampaknya ada kong-kalikong antara pengurus OSIS dengan guru Bahasa Indonesia yang sengaja memasukkan nama saya. Kaget, setelah saya diminta ikut rapat redaksi waktu itu. Loh, kok..? Saya menolak berkali-kali untuk menjadi pemimpin redaksi karena memang belum siap. Tapi satu suara jelas kalah dengan belasan suara yang mendukung saya memimpin penerbitan majalah itu.

Berat rasanya menjadi pemimpin, ciyus. Tapi melihat semangat teman-teman redaksi dan motivasi membangkitkan media sekolah, kami akhirnya bisa menerbitkan majalah itu di bulan Mei 2009. Senang, bangga, dan haru ketika saya lihat majalah itu dicetak dan dibagikan. Terima kasih untuk teman-teman yang dulu berjuang bersama, klesotan bersama di aula sekolah. Hujan-hujan liputan, lembur menulis karena deadline, dan maaf kalau ada yang pernah saya marahi waktu itu😀.

Mendekati ujian nasional di tahun 2010 adalah waktu yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Semua siswa harus mengikuti program tambahan belajar dari sekolah. Alhasil, dari jam tujuh pagi hingga habis ashar masih berada di sekolah. Saya tidak menargetkan lulus dengan nilai tinggi, tetapi dalam pikiran saya waktu itu saya harus lulus dengan kemampuan sendiri! Benar, saya lulus, tetapi dengan nilai terendah dibanding teman-teman seangkatan saya. Ini tamparan telak untuk saya dan keluarga.

Malu? Tidak! Saya berjalan pelan saat menaiki panggung ketika prosesi wisuda kelulusan berlangsung. Saya ada di urutan terakhir, berjabat tangan dengan kepala sekolah dan jajaran guru dengan rasa bangga. Ini hasil ujian nasional saya Ibu/Bapak.

Lulus SMA, saya kembali disadarkan bahwa saya harus tetap menulis. Maka dari itu saya coba mendaftar di jurusan komunikasi di beberapa kampus negeri di Jawa. Satu pun tidak ada yang menerimaku di jurusan itu. Akhirnya di Manajemen UNY lah saya berlabuh. Kuliah empat tahun dengan beasiswa penuh adalah tanggung jawab yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh. Saya harus bisa bermanfaat minimal untuk orang di sekitar saya. Dan itu saya lakukan dengan konsisten menulis, menulis, dan menulis.

Tahun 2011 saya membuat blog pribadi yang isinya tulisan-tulisan dengan beragam tema. Dan inilah rumah kedua saya yang saat ini kalian kunjungi. Inilah wujud kecintaan saya pada dunia yang kini saya tekuni. Meski masih banyak kekurangan, saya berharap ada secuil pelajaran yang bisa sama-sama kita petik melalui tulisan-tulisan di blog ini.

Menulis bukan semata soal keindahan kata, melainkan kejujuran hati dan rasa.

Bogor, 23 Agustus 2015 2:17 am