Tags


Oleh: Danang Firmanto

BNI Jogja

Secangkir kopi hitam dicampur sedikit gula menemaniku malam ini menulis kisah perjuangan masa lalu. Aku seruput perlahan kopi panas itu, sambil mengingat 5 tahun lalu ketika aku baru saja lulus SMA.

“Nggak usah kuliah, biayanya mahal.”

Pesan itu hingga kini masih aku ingat. Tapi orang yang pernah berpesan seperti itu, sudah tiada. Beliau adalah nenekku, namanya aku abadikan menjadi nama blog yang sekarang kawan-kawan kunjungi.

Tahun 2010 aku lulus dari salah satu SMA di Bantul, Jogjakarta. Seperti kebanyakan siswa SMA, kelulusan adalah momen bersejarah. Kebahagiaan tumpah ruah seketika itu juga di aula dan lapangan basket sekolah. Namun ada satu hal yang mengganjal. Aku belum diterima di perguruan tinggi manapun, tidak seperti sebagian teman yang sudah sumringah diterima di berbagai kampus.

“Sabar, besok juga dapat kuliah,” kata Ibu dalam sebuah pembicaraan di rumah.

Akupun bertekad tetap ingin kuliah seperti ketiga kakakku. Bagaimana dengan biayanya, sementara orangtua tidak sanggup lagi membiayai kuliahku? Mencari beasiswa! Itu cara yang paling mungkin bisa dilakukan. Syukurlah, aku terbantu dengan kebijakan pemerintah yang memberikan tawaran beasiswa penuh di berbagai perguruan tinggi. Akhirnya aku mulai mencoba mendaftar di berbagai kampus negeri di Jawa. Lagi-lagi harus menerima kenyataan, kampus yang menjadi pilihan pertama gagal aku masuki.

Takdir pada akhirnya membawaku belajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Sekitar bulan Juni 2010, aku dinyatakan diterima sebagai mahasiswa di kampus itu, tanpa tes. Lebih mengejutkan lagi aku mendapat beasiswa penuh 4 tahun masa studi. Tapi di tahun itu juga, aku harus kehilangan nenek yang akhirnya meninggal di usia 91 tahun karena sakit yang diderita. Aku berpikir, beasiswa itu akan jadi kabar baik untuknya di sana, juga hadiah terindah bagi kedua orangtuaku yang dengan sabar telah merawat nenek lebih kurang 4 tahun lamanya. Terhitung sejak 2006, gempa bumi menimpa masyarakat Jogja dan nenekku menjadi salah satu korban yang tertimpa reruntuhan bangunan.

BNI Mengawali Perjuanganku

Beberapa pekan setelah pengumuman, aku diminta datang ke kampus mengurus registrasi ulang. Termasuk ada beberapa tes kesehatan yang harus dijalani hingga akhirnya aku benar-benar dinyatakan resmi sebagai mahasiswa baru.

Ada dua kebahagiaan yang saat itu aku rasakan. Diterima di jurusan favorit dan berkesempatan mendapat beasiswa penuh. Ini nikmat yang Allah kasih, khususnya kepada perjuangan kedua orangtua yang selalu memberikan prioritas pendidikan bagi kami putra-putrinya. Lalu bagaimana peran Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi teman perjuanganku hingga lulus kuliah? Begini kisahnya…

Buku Tabungan

Buku Tabungan dan ATM BNI

Pihak kampus mewajibkan seluruh penerima beasiswa dari pemerintah untuk membuka rekening di BNI karena sebelumnya memang sudah ada kerjasama di kedua pihak. Saat itulah untuk kali pertama aku menjadi nasabah BNI. Semua pendaftaran diakomodir oleh pihak keuangan rektorat kampus, sehingga mudah dan proses pembuatan rekening tidak menunggu lama.

Rekening berhasil dibuka, kartu mahasiswa sekaligus kartu ATM BNI sudah di tangan. Saatnya memulai perjuangan baru memasuki dunia kampus. Kala diterima menjadi mahasiswa Manajemen, tentu harus pintar mengatur keuangan selama studi hingga lulus. Apalagi dituntut 4 tahun harus sudah lulus, target belajar dan penggunaan dana beasiswa pun harus efektif serta efisien.

Melalui ATM BNI, aku mengelola keuangan pribadi. Setiap bulan, ada aliran dana masuk ke rekening sebesar Rp600ribu khusus untuk biaya hidup. Besaran itu ditentukan dari tingkat biaya hidup di Jogja, sementara untuk biaya kuliah sudah diurus pihak kampus. Dari uang itu, aku harus bisa mengalokasikan untuk biasa hidup, transport, dll. Penarikan tunai lewat ATM harus benar-benar terukur dengan kebutuhan. Mungkin bisa dikatakan rutin tiap minggu ke ATM untuk ambil uang. Kalau dilihat dari nominal yang didapat dan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi, uang tersebut tentu tidak cukup. Tapi dengan alokasi yang tepat, serta menerapkan skala prioritas kebutuhan, segalanya bisa menjadi cukup (red: dicukup-cukupin sebenarnya he..he..).

Tiap awal bulan, berasa menjadi seorang karyawan yang baru saja gajian. Tapi bedanya ada pada tanggung jawab penggunaan dana yang diamanahkan. Sebisa mungkin tidak lagi meminta tambahan dana dari orangtua. Orangtua juga bukan dari kalangan ekonomi yang berkecukupan. Jadi berapapun yang diterima, itulah yang harus disyukuri dan digunakan sebaik mungkin.

Kadang yang membuatku bahagia ketika Ibu tanya, “Sudah turun uangnya bulan ini?”

Sambil senyum ku jawab, “Alhamdulillah sudah, tadi aku cek ke ATM BNI sudah ditransfer.”

Kalau dipikir, hidup tidak sekaku hitungan matematis. Kadang aku menutupi kekurangan finansial dengan aktif mengikuti beberapa proyek menulis. Meski tidak sering, tapi lumayan juga hasilnya.

Perkenalanku dengan BNI semakin lekat hingga akhirnya aku lulus kuliah. Tepat waktu, 4 tahun aku lulus kuliah dan BNI menjadi partner terbaik selama itu. Sampai sekarang pun masih teringat ketika malam-malam naik sepeda ke ATM untuk mengambil uang karena ada kebutuhan mendesak.

Masih Setia Bersama BNI

Lulus kuliah, sudah mulai jarang ke ATM BNI lagi karena tidak ada pemasukan. Tapi waktu itu aku ingat masih ada sedikit saldo di rekening BNI yang sengaja aku sisakan. Beberapa bulan tidak mengecek rekening, takut juga kalau sampai rekeningku diblokir. Tapi untung saja masih aktif.

Lulus dari perguruan tinggi negeri, tidak serta merta langsung mendapatkan pekerjaan. Ada waktu beberapa bulan yang aku habiskan di rumah tetap dengan kesibukan menulis. Orangtua ingin aku bekerja, mereka memberikan semangat dan doa tentunya.

Beberapa perusahaan aku coba lamar, bahkan pernah mencoba tes pegawai negeri sipil juga, meski gagal he..he.. Namun orangtua tetap memberikan semangat, dorongan untuk terus maju. Alhamdulillah, karena doa dan dukungan mereka, aku diterima kerja di salah satu BUMN di Jakarta. Akhirnya hijrah, menjadi anak kos di ibukota. Berat rasanya harus mengawali hidup sendiri di sini. Tapi lagi-lagi, doa dan dukungan keluarga membuatku bertahan.

Sebagai karyawan baru, aku diminta melengkapi berkas dan membuka rekening tabungan untuk keperluan administrasi. Hal yang mengejutkan adalah, gaji karyawan di tempatku bekerja juga menggunakan rekening BNI. Akhirnya, rekeningku terpakai lagi. Bersyukur, bisa memiliki rekening BNI dari awal-awal perjuangan kuliah hingga sekarang masuk dunia kerja.

Oh iya, ngomong-ngomong tinggal seseruput lagi kopiku. Hemmm.. terima kasih untuk keluarga dan juga BNI yang telah mendukung kuliah dan karierku. Sukses terus, semoga semakin memberi arti untuk negeri.

Tulisan ini secara pribadi aku sampaikan sebagai wujud terima kasihku kepada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. yang sudah 69 tahun melayani negeri menjadi kebanggaan bangsa.