Tags


DSC_0891 copy

Ada yang berbeda lebaran kali ini. Bukan hanya aku, melainkan juga orangtua turut merasakan perbedaan itu. Semenjak aku memutuskan bekerja di luar Jogja, orangtua merasa kian sepi berada di rumah. Terlebih saat bulan puasa, ragil yang biasanya pesan untuk dibuatkan kolak pisang, kali ini tidak. Aku yang biasa sering makan kolak buatan mamak, kali ini hanya bisa berangan dalam perantauan. Sahur juga terasa hambar, hanya sendiri tanpa mendengar teriakan mamak memanggil namaku untuk bangun saat sahur.

Emosiku memuncak ketika mendekati hari-hari mudik lebaran. Senengnya bukan main, lantaran teringat semua memori dari kecil hingga tumbuh dewasa bahwa lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu. Tiket sudah didapat, pesan 3 bulan sebelum lebaran. Dan ini adalah pengalaman pertama merasakan mudik lebaran berjubel dengan banyak orang di stasiun kereta.

Rabu, H -2 lebaran aku tiba di rumah bersama kakak. Bukan seneng lagi rasanya, melainkan haru dan trenyuh melihat mamak berjalan pulang dari shalat shubuh di masjid. Kami menatap dari kejauhan, langkahnya agak cepat sambil menenteng kunci pintu rumah. Ini kami, anakmu pulang! Aku jabat tangannya, cium kedua pipinya. Melihatnya tersenyum hangat diselimuti mukena yang masih dikenakan adalah kebahagiaan tiada tara.

Tradisi kami masih melekat, selepas shalat ied, kami berempat sungkem dengan orangtua. Biasanya dari kakak yang tertua, terakhir aku. Sungkem kali ini terasa berbeda dan jauh lebih haru aku rasakan. Lantas kenapa tiba-tiba giliranku sungkem di depan mamak, rasanya mulut tidak bisa berkata maaf. Hanya air mata yang terus menerus mencair membasahi pipi. Seketika kupeluk erat pundaknya, kami terisak beberapa saat. Terdiam beberapa detik, membiarkan batin ini merasakan betapa hebatnya perjuangan mamak membesarkanku bertahun-tahun.

Hal yang sama aku lakukan di depan bapak yang semakin renta. Pelukan tangannya sudah tidak sekuat dulu ketika memelukku waktu kecil. Ini ragilmu yang dulu sering kau antar berobat menggunakan sepeda! Ini ragilmu yang dulu sering kau antar menggunakan sepeda saat akan menunggu bus untuk berangkat kuliah… Ini aku yang sekarang berusaha hidup mandiri di perantauan. Jumat pagi itu, kami berkumpul di ruang tamu, melepas segala rindu, dan kasih sayang dalam hari yang suci.

Lebih kurang seminggu aku berkumpul bersama keluarga. Rasanya memang kurang lama berada di rumah, tetapi tetap harus kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Lagi-lagi ini membuat orangtua merasa haru, setelah ramai berkumpul tiba-tiba sepi kembali. Bagaimanapun juga, orangtua tetaplah ingin melihat putra putrinya bisa lebih baik. Terima kasih mamak, bapak, dan ketiga kakakku. Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1436H, Taqobalallohu minna wa minkum..

Mohon maaf lahir dan batin untuk kawan, saudara, dan pembaca sekalian..

Salam,

Danang Firmanto