Oleh: Danang Firmanto

Aku melangkah perlahan menuju surau kecil yang terletak di dekat tempat tinggal di kampung halaman. Hanya ada jalan setapak dan beberapa bohlam yang terpasang menerangi jalan menuju surau itu. Ada sedikit ketakutan yang menyelinap di benak karena suasana kampung yang mulai sepi.

Hayya alas salaah…

Hayya alas salaah…

Suara adzan Maghrib memantapkan langkahku untuk segera memasuki surau dan melaksanakan shalat berjamaah. Ketika sampai di depan pintu surau, aku melihat hanya ada sepasang sendal lapuk yang telah berkali-kali dipijak. Pasti Pakdhe, tidak salah lagi. Iya, beliau adalah tokoh masyarakat di kampungku sekaligus muadzin di surau itu. Jarang sekali ada yang mendahului mengumandangkan adzan selain beliau. Suaranya berat, khas dan mudah dikenali.

Aku melepas sandal, memasuki surau yang mungkin sudah belasan kali direnovasi. Selepas adzan, beliau menoleh, melempar senyum, sementara aku mendekat, menjabat tangannya. Setelah shalat sunah 2 rakaat, kami duduk berdua, sesekali menatap jam dinding yang terpasang di atas tempat pengimaman. Tak lama aku mendengar suara langkah kaki dari arah timur. Satu orang lagi datang, mengenakan baju muslim, sarung, dan peci hitam. Selang beberapa menit, datang lagi seorang dari arah selatan.

Pakdhe melihatku, memberikan kode. Beliau memintaku untuk mengumandangkan iqamah karena yakin tidak ada jamaah lain yang akan datang. Dan kami hanya berempat seperti biasa, Pakdhe sebagai imam, aku dan dua tetangga lain menjadi makmum.

Sekali lagi, Pakdhe menoleh, memastikan tidak ada warga lain yang datang ikut berjamaah. Allahu akbar… khusyu’ dalam balutan suasana senja menjelang malam.

Aku yang paling muda dari deretan jamaah lainnya. Namun aku menaruh kata salut dan bangga kepada mereka yang ‘berani’ melangkahkan kakinya untuk shalat berjamaah. Selesai shalat, kami berjabat tangan, tidak ada maksud lain kecuali semakin mengeratkan persaudaraan di antara kami. Aku kemudian menggeser pantatku beberapa jarak ke belakang, duduk sesaat, kami tertunduk berdoa. Selesai berdoa kami bercakap ringan dengan senyum ramah yang kian mengakrabkan.

Pakdhe beranjak, berjalan pelan menuju meja kecil, lalu mengangkatnya, meletakkan ke arah kami. Aku pun berdiri, mengambil beberapa buku Iqro’ dan kembali duduk sambil membuka-buka Iqro’ tersebut.

“Kemarin sampai Iqro’ berapa Pak?” tanyaku kepada salah seorang jamaah yang tadi berdiri di sampingku.

“Iqro’ 4 belum selesai” jawab Bapak itu.

“Kalau sampeyan, Pak, kemarin sampai halaman berapa?” tanyaku kepada jamaah satu lagi.

“Sama, masih di halaman Iqro’ 4,” jawabnya.

“Pakdhe, monggo,” aku meminta beliau ikut menyimak bacaan mereka. Namun beliau hanya tersenyum dan menyerahkan kepadaku. Beliau seolah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepadaku, meski aku sendiri masih dalam tahap belajar, belajar, dan belajar membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Aku meneladani semangat dua jamaah tersebut. Meski sudah berusia separuh abad, bahkan lebih, mereka tetap berkeinginan kuat untuk bisa membaca Al-Quran. Aku sebagai generasi muda, hanya bisa membantu semampu yang aku bisa lakukan untuk mereka. Aku merasa bangga melihat mereka yang optimis. Mereka tidak malu belajar membaca Al-Quran, meski bersama seorang pemuda yang terpaut jauh. Apa yang kita cari di dunia? Ketika semua hanya menyajikan kesemuan-kesemuan belaka, maka berbagi pengalaman dan ilmu adalah poin berharga yang bisa sama-sama kita lakukan.