Oleh: Danang Firmanto

GUYUBMITRA Indonesia kini dihadapkan oleh paham-paham radikal yang menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran yang meluas hingga ke berbagai daerah. Seperti belum lama ini tersiar kabar di beberapa daerah di Indonesia diduga ada kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang kian meresahkan masyarakat. Munculnya kelompok radikal tersebut telah menjadi ancaman bagi ketahanan nasional.

Sebelum lebih jauh membahas penetrasi radikalisme ke Indonesia, perlu dikaji apakah semua radikalisme mengancam ketahanan nasional. Ada dua pendapat dalam memaknai radikalisme. Beberapa ahli mengungkap bahwa radikalisme merupakan pemahaman terhadap suatu prinsip secara mendasar dan menyeluruh, seperti istilah radix yang bermakna berakar. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa radikalisme adalah pemahaman pada doktrin atau pemikiran tunggal sehingga seseorang yang berpaham radikal memiliki kecenderungan tertutup terhadap pendapat orang lain. Hal itu berdampak pada pola pikir selalu paling benar dan menganggap orang lain salah.

Mengacu pada pemahaman pertama, sekitar tahun 1908 Indonesia mulai terbentuk sebuah Radicale Concentratie yang terwujud oleh berdirinya gerakan-gerakan nasional. Seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Indische Partij, atau Gerakan Pemuda yang bertujuan sebagai pemersatu bangsa, hingga gerakan yang fokus pada upaya mengusung kemerdekaan Indonesia. Gerakan tersebut merupakan pemahaman mendasar (radix) akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Akan tetapi radikalisme yang sekarang muncul adalah gerakan yang sifatnya keras, brutal, dan syarat dengan kekerasan. Sangat disayangkan, gerakan tersebut membawa nama Islam sebagai dalih kepentingan tertentu.

Alih-alih ingin mengembalikan umat Islam kepada tatanan Al Qur’an dan Hadist, justru gerakan tersebut menjadi musuh bersama umat Islam di dunia. Sebab jika berkaca dari dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW, tidak ada istilah kekerasan dalam menanamkan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin. Namun sebuah pertanyaan besar apakah benar gerakan tersebut sebagai upaya mengembalikan umat Islam ke dalam Al Qur’an dan Hadist atau ada tendensi politik dan kepentingan ekonomi yang melatarbelakangi. Semua itu bisa dinilai dari tindakan yang mereka lakukan.

Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia harus turut memberikan pencegahan dan perlawanan terhadap kelompok-kelompok radikal yang mencoba masuk. Jangan sampai ada kesempatan bagi mereka untuk menyelipkan paham-paham radikal kepada generasi bangsa. Meskipun secara persentase warga negara Indonesia yang disinyalir tergabung dalam kelompok radikal hanya sebagian kecil, tidak serta-merta itu dibiarkan. Pemerintah harus bertindak cepat dan tepat.

Pemblokiran Situs Radikal, Tidak Efektif

Berbagai upaya dilakukan untuk menangkal paham radikal masuk dan menggoyah ketahanan nasional. Salah satu upaya pemerintah dalam menangani masalah tersebut adalah melakukan pemblokiran situs-situs yang dianggap radikal. Hampir semua situs tersebut bernafaskan Islam. Namun penulis melihat upaya tersebut tidak efektif.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin, melalui antaranews.com, menilai pemblokiran situs hanya akan menumbuhkan radikalisme baru disebabkan ada kekecewaan terhadap tindakan pemerintah. Besar kemungkinan akan tumbuh situs-situs baru sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya pemerintah mencegah radikalisme.

Di sisi lain, pengelola situs-situs yang sebagian besar berkonten agama (Islam) akan sangat mudah mengganti nama situs yang diblokir dengan nama baru. Pengunjung yang biasa mengakses situs tersebut pun akan mudah mengetahui pergantian nama situs karena pengelola dengan mudah menyebar luaskan melalui media informasi yang sudah sangat bebas diakses masyarakat. Selain itu dampak pemblokiran situs yang dianggap radikal justru berakibat kepercayaan yang semakin berkurang dari umat Islam di Indonesia terhadap pemerintah. Pemerintah akan dinilai merugikan umat Islam karena belum tentu semua situs tersebut memuat isu-isu radikal yang mengancam ketahanan nasional.

Sidney Jones, pakar terorisme, International Crisis Group (ICG) mengatakan bahwa kebijakan pemblokiran situs internet yang dicurigai digunakan sebagai media komunikasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), tidak akan signifikan mencegah masuknya propaganda kelompok radikal tersebut ke Indonesia. Ia menilai pemerintah perlu memahami inti dari ajaran ISIS sehingga dapat mengambil kebijakan yang tepat.

Penulis menilai pemerintah harus melihat faktor-faktor yang menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia tertarik untuk bergabung dalam kelompok radikal. Dari pemberitaan yang ada, sebagian besar mereka yang tergabung adalah golongan usia produktif. Bukan tidak mungkin faktor kesejahteraan dan jaminan yang kurang dari pemerintah menjadi salah satu faktor pendorong mereka bergabung dalam kelompok tersebut. Kesejahteraan bisa diartikan terpenuhinya hierarki kebutuhan dari fisiologis (sandang, pangan, dan papan) hingga kebutuhan aktualisasi diri.

Oleh karena kelompok radikal mengatasnamakan Islam dalam gerakannya, maka tidak hanya pemerintah, peran umat Islam khususnya di Indonesia dalam menangkal kelompok tersebut menjadi sangat penting. Menurut penulis ada empat pilar utama yang harus dibangun oleh umat Islam di Indonesia untuk meningkatkan ketahanan nasional. Empat pilar tersebut adalah menjadikan Al Qur’an dan Hadist sebagai benteng utama dalam meningkatkan ketahanan nasional, menyatukan ahlussunnah wal jamaah, penguatan organisasi Islam, dan menjadi umat Islam moderat.

Al Qur’an dan Hadist, Benteng Pertahanan Umat Islam

Sebagai umat Islam, haruslah meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berjuang menyebarkan agama Islam (syi’ar). Menjadi pembaharu (mujadid) dalam konteks mengembalikan umat Islam sesuai Al Qur’an dan Hadist harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai ajaran Islam. Jika mereka (para kelompok radikal) mendoktrin dengan ideologi-ideologi radikal, maka sebagai umat Islam juga harus melawan dengan ideologi kebenaran sesuai Al Qur’an dan Hadist. Pahami terlebih dahulu arah gerakan radikal yang mereka usung sebelum mengambil langkah untuk melawan ideologi mereka.

Melihat sejarah Islam, bahwa Islam pernah mengalami kemenangan dalam perang melawan kafir quraisy yang jumlah tentaranya jauh lebih besar dibanding umat Islam. Maka secara logis, untuk memerangi kelompok radikal yang jumlahnya sedikit dibanding populasi umat Islam di dunia adalah bukan hal yang sulit. Kuncinya adalah umat Islam harus bersatu. Tidak memandang segala perbedaan yang selama ini ada, namun demi kejayaan dan tumbangnya kelompok radikal, kita harus bersatu menyamakan visi dan misi untuk meningkatkan ketahanan nasional.

Al Qur’an dan Hadist harus dijadikan pedoman seutuhnya bagi umat Islam dalam setiap tindakan. Umat Islam harus mengkaji, memahami, dan melaksanakan ajaran apa yang terdapat dalam Al Qur’an dan Hadist. Sebab, benteng pertahanan dari masuknya ideologi radikal adalah ideologi yang haq (benar) dan itu bersumber dari Al Qur’an dan Hadist. Maka mengembalikan segala persoalan kepada kedua pedoman umat Islam tersebut adalah hal yang mutlak harus dilakukan agar ideologi-ideologi radikal tidak dapat masuk mendoktrin umat Islam.

Menyatukan Ahlussunnah Wal Jamaah

Mayoritas umat Islam di Indonesia adalah dari kalangan ahlussunnah wal jamaah. Mereka adalah pengikut salah satu dari imam seperti Imam Hanafi, Maliki, Asy Syafi’i, dan Hambali. Eksistensi dari ahlussunnah wal jamaah terlihat dari berbagai organisasi, lembaga, atau kegiatan keagamaan lainnya. Hal itu sebenarnya bisa menjadi modal besar untuk memperkuat pertahanan nasional. Misal dengan sering diadakan kajian bersama, kegiatan rutin untuk memperkuat hubungan antarpengikut ahlussunnah wal jamaah.

Namun tidak dapat dielakkan bahwa tantangan besar umat Islam di Indonesia adalah menyatukan kalangan ahlussunnah wal jamaah. Saat ini masih kita lihat terdapat peselisihan di antara mereka. Mereka berselisih pada perkara figih, muamalah, bahkan menyingung kepentingan politik. Perselisihan yang timbul berakibat pada konflik horizontal yang pada akhirnya justru memecah belah penganut ahlussunnah wal jamaah itu sendiri. Ketika umat Islam yang notabene mayoritas di Indonesia sudah sering terjadi perselisihan, hal itu akan mengancam ketahanan nasional.

Sebagai umat Islam, perlu untuk memahami keempat mahzab tersebut secara mendasar, menyeluruh, dan bijaksana. Tujuannya jelas, agar mereka timbul rasa saling menghargai, sebagai kontrol untuk tidak memicu perselisihan yang mengarah pada perpecahan umat. Sebagai contoh sebagian muslim/muslimah menganut mahzab Hambali, namun sebagian orang lainnya berbeda mahzab dengannya sehingga terjadi perdebatan masalah fiqih atau muamalah. Perdebatan tersebut harusnya tidak perlu terjadi jika keduanya bisa saling memahami konsep ajaran dari masing-masing mahzab dan mampu menghormati perbedaan keduanya.

Penguatan Organisasi Islam

Peran dari umat Islam di tanah air bisa diwujudkan melalui beberapa organisasi Islam. Ada dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Peran umat Islam dalam meningkatkan ketahanan nasional bisa dilakukan dengan memperkuat dua organisasi tersebut. Para ulama hendaknya secara intensif melakukan upaya-upaya strategis mencegah berkembangnya paham radikal di Indonesia. Termasuk membekali kader-kader mereka dengan pemahaman yang sama, bahwa sepakat menolak radikalisme.

Perbedaan yang kerap terlihat antarorganisasi Islam kadang menimbulkan konflik. Seperti halnya proses peribadatan yang berbeda, bahkan penentuan awal Ramadhan yang sering kita lihat terjadi perbedaan. Sudah saatnya perbedaan semacam itu dikelola menjadi sikap saling toleransi dan menghargai satu sama lain. Jangan sampai perbedaan tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengadu domba dan memecah belah persatuan. Kita sebagai pengikut dari salah satu organisasi tersebut harus berpikir visioner. Yang terpenting adalah menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk menguatkan sikap saling menghargai. Dengan demikian, tidak ada pihak yang mampu mendoktrin paham-paham radikal.

Sebagai negara demokratis, wajar jika berdiri banyak organisasi termasuk organisasi partai politik. Di Indonesia ada beberapa organisasi politik yang bernafaskan Islam. Meski organisasi politik, namun harapan penulis, mereka mampu berkontribusi dalam upaya peningkatan ketahanan nasional melalui visi misinya.

Penulis menilai langkah yang efektif sebagai bentuk peran meningkatkan ketahanan nasional adalah membentuk kader-kader unggulan. Partai politik tidak hanya berfokus pada perolehan kepercayaan publik melalui pungutan suara, tetapi juga fokus pada upaya membantu ketahanan nasional. Ketika stabilitas politik terganggu, negara dalam bahaya. Kekacauan politik akan mengganggu sistem pemerintahan yang berdampak pada goyahnya ketahanan nasional sehingga akan banyak intervensi dari pihak luar. Pada akhirnya, keruntuhan sebuah bangsa menjadi sangat mungkin terjadi.

Organisasi partai bernafas Islam sudah saatnya berpikir bersama untuk meningkatkan ketahanan nasional. Duduk bersama, berdiskusi, dan menghasilkan langkah-langkah strategis mencegah menyebarnya paham radikal di Indonesia. Masalah ini sudah bukan kepentingan kelompok tertentu, melainkan sudah menjadi masalah bersama yang harus diselesaikan bersama pula. Melalui pembentukan kader-kader organisasi dan pembekalan secara intensif, maka perlahan bangsa ini menjadi kuat dan peranan umat Islam akan tampak signifikan.

Menjadi Umat Islam Moderat

Faturrahman (2011) menjelaskan istilah moderat berasal dari bahasa Latin, moderare yang berarti mengurangi atau mengontrol. Definisi lain menyebutkan istilah moderat adalah tidak berlebihan dalam hal tertentu. Moderat mengandung makna obyektif dan tidak ekstrim, sehingga definisi Islam moderat adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir pertengahan (jalan tengah).

Konsep Islam moderat ditawarkan sebagai langkah untuk mengakomodasi segala perbedaan yang memicu konflik akibat perbedaan penafsiran Al Qur’an dan Hadist. Menjadi umat Islam yang moderat berarti berusaha memahami segala perbedaan dan keragaman sebagai sunatullah dan rahmat. Selain itu tidak memiliki sifat berlebihan dalam beragama karena akan mengarah pada sikap ekstrim. Seperti yang terkandung dalam hadist, Hindarilah sifat berlebihan dalam agama. Karena umat sebelum kalian, hancur hanya karena sifat tersebut. (HR. Bukhari)

Quraish Shibah (2007) dalam bukunya menyatakan bahwa keanekaragaman dalam kehidupan merupakan keniscayaan yang dikehendaki Allah. Termasuk dalam hal perbedaan dan keanekaragaman pendapat dalam bidang ilmiah, bahkan keanekaragaman tanggapan manusia menyangkut kebenaran kitab-kitab suci, penafsiran kandungannya, serta bentuk pengamalannya.

Perbedaan yang kerap muncul di Indonesia belum sepenuhnya menimbulkan sikap saling menghormati, saling menerima pendapat, dan bersedia berdialog sesuai dengan konsep rahmatan lil’alamin. Maka dengan Islam moderat, umat Islam diajak untuk bersikap sebagaimana tercermin di atas. Dalam hal syiar pun, umat Islam tidak cukup hanya berbekal semangat. Kedangkalan ilmu dapat pula dengan mudah menimbulkan hal-hal ekstrim dan mudah mengkafirkan seseorang. Oleh sebab itu, diperlukan ilmu yang memadai dan sikap moderat dalam hal menegakkan syariat Islam.

Untuk menjadi umat yang moderat, maka pemahaman secara parsial saja tidak cukup. Ajaran Islam harus dipahami secara komprehensif atau menyeluruh. Pemahaman parsial tentang Islam hanya akan memunculkan sikap radikal. Syariat Islam ibarat bangunan utuh yang kesemua komponennya saling menguatkan. Fondasi berupa aqidah, lalu kemudian diikuti dengan akhlak, ibadah, dan muamalah sebagai suatu kesatuan yang saling menopang.

Pandangan yang mengatakan bahwa jihad lebih penting dari segalanya adalah keliru. Sama halnya dengan upaya mendirikan negara Islam lebih penting dibandingkan dengan membina aqidah dan akhlak merupakan cara pandang yang tidak tepat. Semua komponen tersebut harus bersatu padu dan tidak bisa dipisah satu sama lain.

Muqtedar Khan (2011) menyebutkan bahwa Islam moderat menginginkan suatu masyarakat yang memerlakukan semua orang dengan martabat dan ras hormat. Tidak ada ancaman dan pemaksaan norma agama atau politik. Sebab Islam moderat menggunakan pendekatan Ijtihad sebagai pilihan metode yang disukai karena dianggap sebagai semangat pemikiran Islam untuk mengatasi berbagai persoalan. Hal itu akan membawa masyarakat pada sikap saling menghargai kebebasan berpikir sementara tetap mengakui perlunya eksistensi iman. Mereka bercita-cita untuk perubahan melalui kekuatan pikiran. Mereka meyakini bahwa internalisasi pesan Islam dapat membawa transformasi sosial yang diperlukan untuk pembentukan bangsa berbudi luhur.

Al Qur’an dalam surat Al Baqarah ayat 143 sudah menjelaskan bahwa sebagai umat Islam haruslah bersikap wasat (adil, tengah-tengah, terbaik).

Dan demikianlah Aku jadikan kalian umat yang wasat (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian. (QS. Al-Baqarah; 143)

Maka kaitannya peran umat Islam dalam meningkatkan ketahanan nasional di tengah paham radikal adalah menjadi umat Islam moderat (ummatan wasathan). Di dalam konsep Islam moderat yang disebutkan oleh Tawfik Hamid (2010), mantan anggota kelompok Islam radikal, Islam moderat berarti Islam yang menolak secara tegas hukum-hukum agama yang membenarkan kekerasan dan diskriminasi.

Mari, sebagai umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia ini, sudah seharusnya kita berperan meningkatkan ketahanan nasional dengan menerapkan empat pilar utama tersebut. Penulis yakin, segala bentuk radikalisme bukan lagi ancaman jika kita mau bersatu dan memahami Islam sebagai ajaran rahmatan lil’alamin. Semoga!