Oleh: Danang Firmanto

Monas

Monas (GUYUBMITRA/Danang Firmanto)

GUYUBMITRA, Suatu ketika dalam proses menuju kelulusan studi kuliah, saya ditanya oleh salah seorang dosen penguji skripsi soal cita-cita. Seolah tanpa keraguan, saya menjawab ingin menjadi jurnalis. Beliau, yang juga pernah menjadi ketua jurusan saat saya masih kuliah sedikit terhenyak mendengar jawaban itu. Mungkin berbeda dengan kebanyakan mahasiswa yang diampunya. Memang, sebagian besar ingin berkarier di dunia perbankkan, industri manufaktur, dan sebagainya selain dunia media.

Tanpa saya sadari, jawaban itu semakin mendekatkan apa yang selama ini menjadi impian. Oktober 2014 lalu, entah siapa yang membujuk, saya nekat melamar di sebuah perusahaan milik pemerintah, Lembaga Kantor Berita Nasional, ANTARA. Padahal saat itu tidak ada posisi wartawan yang dibuka. Lalu kenapa nekat?

Saya tertarik dengan perusahaan itu. Terlebih kontribusinya kepada bangsa Indonesia sejak 1937. Antara berhasil menyiarkan berita kemerdekaan RI.

Satu bulan berlalu, tidak ada respon sedikitpun yang saya terima dari lamaran itu. Di tengah penantian, saya tetap menulis seperti biasa. Saya juga masih terdaftar menjadi siswa kursus Bahasa Inggris di Balai Latihan Kerja, Yogyakarta. Saat ujian speaking di tempat kursus, untuk kedua kalinya saya dihadapkan pada pertanyaan yang sama, soal cita-cita. Kembali saya jawab, ingin menjadi jurnalis. Penguji di depan saya pun terkejut.

Lalu beliau mengorek satu kisah seorang wartawan yang dibunuh karena mencoba mengusut kasus korupsi salah seorang Bupati. Dalam hati saya tergugah!

Satu bulan lebih saya menunggu, akhirnya pada suatu sore saya mendapat telepon dari nomor berkode 021xx. Benar, suara perempuan berbahasa Indonesia pelan saya dengar. Dia adalah salah seorang karyawan bagian HRD yang mengundang saya ke Jakarta untuk wawancara. Tepatnya di Wisma ANTARA, lantai 19. Seketika badan saya gemetar, benar-benar gemetar sore itu. Saya melihat orang tua tersenyum, mereka bahagia. Ini adalah awal.

Singkat cerita, saya diberikan kesempatan merasakan dunia kerja di sana, meski belum sesuai dengan minat di dunia jurnalis. Namun sekali lagi, kesempatan itu ada di depan mata! SUSDAPE.

Sebuah refleksi yang kini saya alami. Dahulu, sejak SMA saya mulai mencintai dunia jurnalistik. Saat ini, bukan sekadar cinta, melainkan panggilan jiwa untuk terlibat di dalam ruang publik yang bernama media.

Sedikit mungkin yang bisa saya bagi, bahwa percayalah pada apa yang kita yakini. Kekuatan sugesti dalam diri, itu secara tidak disadari akan menggerakkan menuju apa yang kita impikan selama ini. Semoga bermanfaat.