Tags

,


Oleh: Danang Firmanto

Belum lama kita memperingati Hari Kartini yang katanya syarat dengan kebangkitan perempuan Indonesia. Kemarin kita memperingati Hari Buruh Internasional yang katanya pula mengusung kenaikan tingkat kesejahteraan buruh. Hari ini kita pun memperingati Hari Pendidikan Nasional yang juga katanya mengemban visi meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Bangsa ini tampaknya memiliki banyak hari peringatan sepanjang tahun. Namun semuanya hanya membekas dalam sebuah seremonial semata. Dari sekian banyak hari penting itu, ada satu hari yang hingga kini berbuntut menjadi persoalan bersama di hampir setiap tahunnya. Adalah Hari Buruh Internasional yang selalu diperingati dengan aksi demonstrasi mengangkat isu-isu kaum buruh migran baik yang bekerja di dalam maupun luar negeri.

Orasi Buruh Perempuan

Orasi Buruh Perempuan

Jumat, 1 Mei 2015 lalu penulis berkesempatan mengikuti jalannya aksi demo Hari Buruh Internasional di sekitar kawasan Monas, Jakarta. Dalam aksinya tampak perwakilan buruh perempuan dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) berorasi mengingatkan pentingnya kesejahteraan dan jaminan hak asasi manusia bagi buruh. Ia sempat menyinggung kasus salah satu terpidana mati asal Filipina, Mary Jane, buruh yang diduga menjadi korban perdagangan manusia untuk aksi penyelundupan narkoba ke Indonesia. Dengan lantang ia meneriakkan pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan bagi pemerintah dalam melindungi nasib buruh migran.

Indonesia sebagai salah satu negara pengirim tenaga kerja ke luar negeri, patut menjadi sorotan karena banyaknya kasus kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, maupun pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama ini.

HONGKONG, selama ini dianggap memiliki reputasi baik sebagai destinasi yang aman bagi buruh migran. Pada kenyataannya tidak, belakangan ini terungkap berberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa buruh migran asal Indonesia.

Kisah Kartika Puspitasari

September tahun 2013, news.liputan6.com, melansir kabar bahwa Tai Chi-Wai (42), salesman alat listrik asal Hongkong dijerat hukuman 3 tahun 3 bulan karena terbukti menyerang dan melukai korban. Istrinya, Catherine Au (41), pekerja rumah sakit, divonis 5 tahun 6 bulan karena berkali-kali menyerang korban yang tidak lain adalah buruh migran Indonesia, Kartika Puspitasari (30). Kedua pasangan tersebut menyiksa Kartika dengan pukulan bertubi bahkan hingga menyulut kulitnya menggunakan setrika panas. Siksaan itu dialaminya selama 2 tahun masa kerja sebelum akhirnya ia berhasil kabur dari rumah majikannya dan meminta pertolongan ke Konsulat Jendral RI.

Perlakuan diskriminasi justru ia dapatkan ketika bukti tidak semuanya diterima hakim. Hakim menolak keterangan bahwa Kartika diikat ke kursi saat keluarga majikannya berlibur ke Thailand. Kasus tersebut, dinilai hakim akan merusak reputasi Hongkong sebagai destinasi yang aman untuk para buruh migran. Mengejutkan, organisasi Mision for Migrant Workers menemukan 58% lebih dari 3000 pekerja perempuan di Hongkong mengalami kekerasan verbal, sisanya berupa kekerasan fisik dan seksual. Fakta di atas hanya satu dari deretan kasus tragis lain yang dialami para buruh migran baik di Hongkong maupun di negara lain.

Mereka Lebih dari Sekadar Pahlawan Devisa

Sebagian besar buruh migran Indonesia yang bekerja ke luar negeri adalah perempuan. Mereka memutuskan rela berpisah dengan keluarga demi satu tujuan yaitu meningkatkan taraf perkonomian. Sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri dan desakan kebutuhan ekonomi membuat mereka bertekad mengadu nasib ke negeri orang. Mereka belum tahu kondisi goegrafis, budaya, serta demografis atau penduduk di negara yang akan mereka tempati. Meninggalkan sanak saudara, terlebih putra-putri yang masih butuh bimbingan dan perhatian bukanlah hal mudah. Namun sekali lagi, mereka berangkat membawa niat baik.

Salah satu buruh migran asal Jawa Timur, FTR (36) yang penulis kenal, sudah lebih dari 5 tahun bekerja di Hongkong. Sudah lama ia berpisah dengan suaminya dan dikaruniai seorang putri yang kini beranjak remaja. Kebutuhan akan biaya hidup dan sekolah putrinya, memberanikan FTR sebagai single parent untuk berangkat ke Hongkong. Kisahnya berbeda dengan sebagian buruh migran lainnya, ia mendapat perlakuan baik. Bahkan siapa sangka, putrinya memiliki prestasi yang baik di sekolah.

Lain halnya dengan DR (45), seorang buruh migran yang juga penulis kenal, sudah bekerja lebih dari 3 tahun di Taiwan. Ia membawa misi kemanusiaan yang luar biasa. Di tempatnya bekerja, ia merawat perempuan lansia yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Belum lama diketahui perempuan itu meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Ia mengaku berangkat juga berlandaskan tekad dan niat baik untuk mencari nafkah demi membiayai kedua putranya yang masih sekolah. Bahkan hingga menginjak perguruan tinggi. Sungguh luar biasa. Dan yang perlu diingat, dirinya sama sekali tidak pernah mendapat perlakuan keji dari majikannya.

Tribunnews.com, Minggu, 26 April 2015 lalu melansir kabar mengejutkan dari buruh migran Indonesia di Hongkong. Lia Agista Setyawati (24), perempuan asal Payaman, Magelang, Jawa Tengah ini melakukan aksi heroik menyelamatkan nyawa majikannya, Liu Loh (98). Kejadian tersebut berlangsung saat mereka berada di sebuah apartemen Chi Cuk Village 60-69 Wan Fung st. Tsz Wan Shan, Hongkong. Apartemen yang mereka tempati terkena imbas ledakan mobil yang kemudian menjalar ke apartemen enam lantai tersebut. Dirinya berhasil menyelamatkan nyawa nenek berusia lanjut tersebut dari kebakaran. Ia bersusah payah menggendong majikannya menuruni 6 lantai gedung apartemen.

Butuh Payung Hukum yang Meneduhkan

Siapa yang rela meninggalkan keluarga untuk bekerja jauh di negeri orang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan? Penulis yakin sebagian besar mereka yang menjadi buruh migran khususnya di luar negeri adalah orang yang sudah berupaya keras mencari penghasilan di negeri sendiri namun masih belum bisa mencukupi kebutuhan hidup.

Aksi Teatrikal Buruh

Aksi Teatrikal Buruh

Konstitusi kita menjamin bahwa setiap warga negara berhak atas kehidupan yang layak. Namun hal itu tidak semudah yang kita bayangkan. Persoalannya bukan hanya membuka lapangan kerja lalu selesai. Lebih dari itu, ada tanggung jawab kemanusiaan yang harus dipegang pemerintah. Mereka butuh kepastian gaji yang layak, tunjangan bagi yang memiliki anak, bahkan jaminan kehidupan selepas mereka tidak bekerja karena faktor usia.

Pemerintah tidak berhak melarang mereka untuk bekerja ke luar negeri. Iming-iming gaji yang berlipat, kerap menjadi semangat pendorong mereka untuk menjadi buruh migran. Sistem pemerintahan demokrasi sudah diakui bersama bahwa raykat memiliki kekuasaan tertinggi. Maka dari itu, pemerintah harus mampu melayani rakyatnya dengan baik agar kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa buruh migran tidak terulang kembali.

Sebagai buruh migran tentu membutuhkan jaminan keselamatan dan payung hukum yang mampu meneduhkan mereka selama bekerja di luar negeri. Mereka yang sebagian besar perempuan adalah pahlawan-pahlawan bertekad kuat demi kesejahteraan keluarga di daerah yang ditinggalnya. Mereka membawa budaya bangsa yang luhur, santun, ramah, dan antikekerasan.

Dari Hongkong kita temukan perempuan-perempuan yang bukan hanya bekerja mencari nafkah, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti kisah Lia di atas. Penulis yakin masih banyak Lia yang lain yang belum terungkap kisah perjuangannya membawa misi kemanusiaan. Selamat Hari Buruh, Hidup Buruh Migran Indonesia!