Tags

, ,


Oleh: Danang Firmanto

Ketika saya akan memulai menulis sekelumit kisah seorang dokter asal Jawa Tengah ini, dalam hati bertanya, seberapa dalam pemahaman saya di bidang kedokteran?

img_20121024235658_50881ddaa2eef

Saya berhenti sejenak, memikirkan cita-cita saya dahulu yang pernah ingin menjadi seorang dokter. Kemudian saya terhenyak, inilah kesempatan baik bagi saya untuk mencicipi dunia kedokteran lewat seorang Dito Anurogo. Tentu melalui riset terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan sisi unik dari beliau. Sekarang saya benar-benar dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang saat ini saya tulis merupakan dokter yang bukan sekadar dokter.

Satu istilah kedokteran yang berhasil membuat saya mengeryitkan kening adalah Hematopsikiatri. Ilmu yang mempelajari hubungan golongan darah dengan kepribadian, gaya hidup dan kecenderungan pola penyakit, pencegahan serta solusinya. Bidang itulah yang kini menjadi salah satu fokus kajian dokter Dito Anurogo. Terutama untuk menemukan hubungan antara golongan darah dengan semua penyakit termasuk depresi dan skizofrenia di tingkat molekuler.

Kehadiran Dito Anurogo mampu memberi nyawa bagi dunia kedokteran yang sempat ‘mati’ akibat beberapa kasus yang pernah terjadi belakangan ini. Dalam sebuah konsultasi medis di media online, dokter Dito –sapaan akrab kami– mengungkapkan bahwa golongan darah A dan AB berkemungkinan lebih rentan atau lebih berisiko menderita depresi. Akan tetapi, bukan berarti semua orang yang memiliki golongan darah tersebut pasti pernah mengalami depresi. Dalam konteks kekinian, penemuan tersebut bisa menjadi upaya pencegahan bagi semua ibu agar jangan sampai mengalami depresi. Bisa jadi seorang ibu membawa gen atau kromosom tertentu yang membawa trait depresi pada keturunannya.

Kemudian isu yang mencuat ke permukaan akan pemanfaatan obat herbal yang dinilai belum sepenuhnya diterima medis, menjadi tantangan tersendiri bagi dokter Dito. Ketekunannya dalam bidang riset, membuat Dito Anurogo disebut-sebut sebagai peneliti Medicopomology (buah berkhasiat obat). Akan berdampak baik, jika terbukti bahwa berbagai tanaman dan buah bisa menjadi obat yang diterima secara medis. Apalagi masyarakat kini cenderung memanfaatkan obat alami guna mengobati sakit yang dialami.

Bagi sebagian besar orang, profesi dokter dianggap mulia. Hal itu karena dokter memiliki peran cukup besar dari setiap tindakan medis yang mereka lakukan untuk mengupayakan kesembuhan pasien. Indonesia memiliki banyak dokter yang ahli di berbagai bidang spesialis. Namun, dokter yang berhasil mendapatkan sertifikasi CME (Continuing Medical Education) dari berbagai universitas ternama di dunia ini berbeda dengan dokter lainnya. Selain memiliki banyak prestasi, dokter Dito pun merangkap menjadi penulis. Beliau menulis belasan buku dan e-book yang dipublikasikan baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa bukunya cukup menarik diantaranya, 123 Penyakit, 45 Penyakit Aneh dan Khusus, Cara Jitu Mengatasi Impotensi, dan lain sebagainya.

Menilik belasan tahun silam, prestasi akademik mulai membanjiri Dito sejak kecil. Duduk di bangku sekolah dasar, dokter alumni Fakultas Kedokteran UNISSULA Semarang, Jawa Tengah ini sudah berhasil menyabet gelar siswa teladan sekolah dasar tingkat Kotamadya Semarang. Ketertarikan pada dunia riset dari kecil juga mengantarkan pria ini menjadi delegasi SMPN 3 Semarang dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional. Luar bisa, itulah kata yang tepat melekat pada pribadinya serta kesederhanaan beliau.

Kemampuannya di bidang leadership pun mulai tampak ketika aktif di beberapa organisasi seperti OSIS, Rohis, bahkan Pramuka. Siapa sangka, saat dirinya menginjak masa SMA pernah menjadi delegasi SMAN 1 Semarang dalam Olimpiade Matematika Internasional. Hal itu semakin membuktikan bahwa Dito Anurogo merupakan sosok inspiratif bagi generasi muda Indonesia. Ternyata tidak sampai di situ saja, ia pernah menjadi nominator Lomba Penulisan Esai Imiah Populer, Harun Yahya International Award. Banyak orang yang belum tahu bahwa karya-karya beliau telah mengantarnya pada kesuksesan yang kini diraih.

Pria berkacamata ini dikenal sebagai pribadi yang agamis dan kadang humoris. Tetapi selain kental akan nilai akademis, dokter Dito juga memiliki sisi romantis. Sangat jarang kita temui seorang dokter yang doyan nulis bahkan pecinta sastra puisi dan pernah menerbitkan antologi puisi “Pelangi Jiwa”. Dalam salah satu karyanya yang berjudul “Menjelma Cahaya” sangat dalam makna yang bisa kita urai menjadi satu kesimpulan bahwa semua yang terjadi adalah karena cinta. Soal cinta diam-diam pria ini pernah meraih juara 1 pada Lomba Menulis Surat Cinta dari Harian Online Kabar Indonesia (HOKI).

Menyingung soal dunia tulis-menulis, dokter Dito sudah sangat lama mengenal dunia kepenulisan. Sejak SD ia memiliki hobi menulis. Buku harian manjadi awal mula karya-karya besar yang kini banyak memberi manfaat khususnya di dunia kesehatan. Lebih hebatnya lagi, dirinya belajar menulis secara otodidak. Berbagi ilmu pada sesama merupakan alasan dokter Dito aktif menulis, di samping profesinya sebagai dokter. Satu ungkapan menarik yang disampaikan dokter Dito yaitu ingin ‘membumikan ilmu kedokteran’ dengan cara menulis. Itu berhasil ia buktikan hingga ada sebutan unik untuknya, “Dokter Online”!

Teknologi informasi seperti internet tampaknya menjadi salah satu media yang pas bagi dokter Dito untuk melayani konsultasi kesehatan bagi masyarakat. Bahkan dalam salah satu artikel disebutkan dirinya merupakan perintis konsultasi kesehatan di internet. Kepedulian tinggi pada dunia kesehatan membuatnya berkecimpung sebagai konsultan kesehatan di beberapa situs online di Indonesia seperti detik.com dan netsains.net. Beliau pun tercatat aktif menulis puluhan artikel di Kompasiana sejak 2010 lalu.

Tidak hanya itu saja, Forum Lingkar Pena (FLP) dan Forum Aktif Menulis (FAM) penah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di dunia tulis-menulis. Menulis baginya bukan bakat, melainkan keahlian yang dapat dilatih. Berkat konsistensi dan kedisiplinan itulah yang membawa dokter Dito pada gelar Reporter of the Month Kabar Indonesia pada Desember 2007 lalu. Di tahun selanjutnya, HOKI kembali memberikan apresiasi pada dirinya sebagai juara 2 dalam Online Literary Awards 2008.

Menjadi seorang dokter sudah dipastikan bersedia mengabdi pada masyarakat. Masa-masa itu dijalani dengan penuh dedikasi. Pernah berkarya di RS. Keluarga Sehat, Pati, Jawa Tengah. Pria berkulit sawo matang ini juga pernah mengabdi sebagai dokter di RSI PKU Muhammadiyah Palangkaraya. Bahkan pernah menjadi staf ahli rektor di Universitas PGRI Palangkaraya. Dulunya pun sempat tercatat menjadi anggota IFMSA (International Federation of Medical Student Associations).

BEST-Dito-Anurogo-MD

Bukan dokter kalau tak punya karya. Pada tahun 2011 lalu dengan karyanya “Biomarker Stroke”, dokter Dito berhasil mengharumkan Indonesia di forum bergengsi Internasional AICST. Selang satu tahun, ia kembali terpilih menjadi delegasi Indonesia di forum yang sama dengan karya luar biasa “Neuropharmacogenetics: The Art of Epilepsy Management”. Kiprahnya sebagai dokter telah diakui dunia internasional. Pernah menjadi delegasi Indonesia pada International Training Exchange Program di Hungaria yang membahas isu terkait persoalan HIV-AIDS, kesehatan reproduksi dan bank darah. Dalam hal riset, tidak tanggung-tanggung sukses menjadi delegasi Indonesia bidang riset di University Degli Studio di Turino, Italia. Pada kesempatan itu dirinya mengkaji pengaruh endoglin pada carcinoma colorectal. Pengalaman berbagi ilmu juga dirasakan dalam kesempatannya menjadi pembicara di Forum Second International Graduate Student Conference on Indonesia di UGM 2010 lalu.

Banyak hal baru di dunia kedokteran yang menggugah telah disajikan dokter Dito Anurogo. Kalau keinginan dirinya membumikan ilmu kedokteran melalui jalan menulis, maka itu pilihan tepat. Akan sia-sia suatu ilmu pengetahuan apabila tidak diikat dalam sebuah tulisan. Itulah sang dokter dengan berbagai karya, prestasi dan dedikasinya di dunia kesehatan. [DF]