Tags

, ,


Oleh: Djan Fraumi

Semburat warna keemasan bercampur gelisah menyelimutiku satu jam menunggu tanpa kepastian. Aku merasakan telapak kaki mulai panas dan sesak dalam jeratan tali sepatu. Lutut yang belum mengerti arti perjuangan hidup perlahan melemas. Aku sedikit membungkuk, mencoba memijat-mijat pahaku ke bawah namun pinggangku justru menggeretak pelan. Aku merasa tidak kuat hidup jadi orang miskin. Juga prihatin.

Belasan taksi lalu-lalang begitu saja di hadapanku. Sesekali ada sopir taksi yang melambatkan taksinya di depanku kemudian kembali melaju setelah kepalaku menggeleng. Tukang ojek sudah berulang kali membunyikan klakson dan berhenti menghampiriku. Membujuk, merayu, kadang menipu, tetapi lagi-lagi aku menggeleng. Mereka frustasi, menggemborkan motornya lalu hilang ditelan tikungan. Aku mendengus sambil merogoh saku celana, mendapati dua lembaran kertas bergambar Tuanku Imam Bondjol mengenakan sorban.

Aku tidak sendiri. Ini sore hari yang ketiga aku menunggu bus ditemani mahasiswi atau mungkin karyawati kampus sebelah. Aku penasaran siapa perempuan itu. Sudah tiga kali kudapati ia berada di tempat yang sama, waktu yang sama pula, dan cara berdiri yang juga sama. Aku masih ingat, hari pertama ia mengenakan kemeja berwarna merah muda dengan rambut terurai sebahu. Hari kedua ia mengenakan kaos berkerah yang dimasukkan ke celana jeannya dengan rambut yang juga terurai sebahu. Di hari ketiga perempuan itu memakai kemeja dengan kelima kancing terbuka. Lalu kaos oblong berwarna biru muda kulihat melekat menutupi tubuhnya, ketat. Aku pikir ini saat yang tepat mengobati rasa penasaranku.

Aku mendekatinya beberapa langkah. Tepat satu meter di sampingnya, kuhujamkan mataku ke arah bulu matanya dari arah samping. Dia kemudian menoleh melihatku keheranan, mengernyitkan kening. Aku sontak gugup, jantungku terasa mau copot dan lututku makin lemas tak karuan. Kulihat matanya, bagiku dia sangat cantik.

Nafasku mulai sesak, tenggorokan tiba-tiba kering. Aku membuka pembicaraan.

“Hai! Naik bus lagi, emm….? Boleh tahu namamu?”

“Lindung Ambayagiri, panggil saja aku, Lindung,” kata dia mengenalkan diri.

“Lindung… aku Raga,” balasku singkat.

Lindung meneruskan ucapannya, “Iya, bus adalah hidupku. Aku merasa lebih bergairah untuk memulai dan mengakhiri hidup bersama kerumunan orang-orang itu.”

“Maksudmu, orang-orang itu siapa?” Mataku menyisir bibirnya yang tipis, kadang jeratan kawat gigi terlihat membingkai senyum manisnya.

“Mereka yang bergelut dengan hidup. Pagi hingga petang.”

“Oh…” Aku berusaha mengeja kalimatnya sebelum kutelan dan lenyap tanpa kupahami sedikitpun.

“Aku muak Raga, melihat ratusan orang yang tak habis-habisnya menyumbat dan makin menggila di jalan. Aku benci melihat orang-orang sibuk dengan teks dan suara tak berwujud!” tambahnya.

Lindung kian membuatku bingung. Tanpa sengaja mataku menyapu wajahnya, ayu. Lalu terhenti di kedua matanya beberapa detik. Kami sempat melemparkan senyum dan saling menemukan purnama dari sepasang mata yang terpaksa bercumbu. Namun sayang, aku berbeda dengannya. Tiga hari naik bus, itu adalah keterpaksaan. Mengenalmu mungkin juga keterpaksaan. Prihatin yang diwariskan kedua orang tuaku, keterpaksaan pula bagiku. Aku pun muak dengan hidupku Lind, batinku.

“Kau mahasiswi tingkat berapa?” tanyaku.

“Akhir. Kalau kau?”

“Baru saja mengecap pahitnya jadi mahasiswa tiga hari ini,” jawabku.

Aku terpaksa bertanya lagi, “Sejak kapan kau naik bus? Lalu kenapa tidak naik taksi saja, atau beli mobil sendiri. Kulihat kau anak orang kaya, ya kan?”

Lindung menatapku lalu berkata, “Sejak aku sepertimu. Hmm, papaku pengusaha juga dosen terbang yang kerjaannya ke luar kota mengajar mahasiswa di berbagai kampus. Mamaku penggila mobil, gonta-ganti mobil hampir setahun tiga kali. Aku muak Raga! Aku merasa mati tinggal bertahun-tahun bersama mereka. Aku lebih kerap mendengar papaku mengajak bicara rekan bisnisnya lewat telepon dibanding mengajakku berbicara soal mimpi. Cukup Raga, jangan kau campuri urusan pribadiku. Aku justru merasa hidup bersama orang-orang itu!”

“Orang-orang itu? Siapa lagi?” tanyaku penasaran.

“Nanti kau akan tahu sendiri, Raga.”

“Lalu bagaimana dengan mamamu, Lind?”

“Heh, mama…? Setetespun aku tak sudi mendonorkan darahku untuknya,” balas Lindung kecut.

“Apa dia bukan mama…?”

“Iya. Sudahlah, masih ada hal baik yang bisa kita bicarakan,”

“Jadi itu yang membuatmu betah berada di sini tiap sore?”

Lindung kembali menatapku lantas hanya mengangguk pelan.

“Baiklah, ngomong-ngomong jam berapa sekarang Lind?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Lindung menyibakkan lengan kemejanya, “Masih setengah lima sore, kenapa?”………(bersambung)

Sepenggal kisah, Desember 2014.