Oleh: Danang Firmanto

Dominasi penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pembangkit listrik di Indonesia kini menuai berbagai masalah serius. Permasalahan tersebut antara lain menyangkut biaya pokok produksi, tarif dasar listrik, polusi udara, dan ketenagalistrikan. Bahkan dalam jangka panjang, pemakaian bahan bakar minyak sebagai pembangkit listrik akan menyebabkan cadangan minyak kita habis untuk generasi mendatang. Hal itu disebabkan minyak merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui.

Masalah Biaya Pokok Produksi (BPP) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) terjadi karena produksi listrik harus mengikuti fluktuasi harga pasar minyak dunia. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai aktor tunggal penyedia listrik nasional memiliki beban dan tanggung jawab besar karena harus mengikuti trend harga minyak dunia. Hal ini dikarenakan PLN sudah masuk sebagai industri yang harus membeli bahan bakar minyak mengikuti harga pasar. Besarnya biaya investasi untuk pembangunan pembangkit listrik, biaya pengiriman, dan operasional lainnya juga semakin membebani PLN. Berbagai biaya yang dikeluarkan tersebut membuat BPP tinggi namun tidak sebanding dengan TDL yang ditetapkan pemerintah sebagai pemegang regulasi.

Ketua Umum Pengurus Pusat, Asosiasi Profesionalis Elektrikal Indonesia (APEI), Heru Subagyo, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan matematis, PLN akan terus mengalami defisit. Kita patut memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah memberikan subsidi untuk penyediaan listrik. Jika tanpa subsidi, pemadaman listrik secara bergilir akan terus dirasakan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, menurut saya subsidi listrik kepada masyarakat bukan solusi yang tepat untuk jangka panjang. Bangsa Indonesia tidak akan menjadi cerdas apabila subsidi minyak terus-menerus diberikan.

Permasalahan polusi udara juga akan terus terjadi akibat asap yang timbul dari konsumsi minyak sebagai energi pembangkit listrik. Masalah lain yang mencakup ketenagalistrikan seperti regulasi, jaminan investasi, instalasi yang tidak memenuhi standar, pemanfaatan listrik yang kurang tepat, bahkan ilegal juga akan merugikan PLN. Lebih dari itu, bangsa ini tidak akan maju jika tidak mau berinovasi. Melihat berbagai permasalahan tersebut, pemanfaatan energi alternatif sebagai sumber pembangkit listrik perlu dikembangkan.

Pusat Pendidikan dan Riset Energi Nasional

Menurut saya, cara yang relevan untuk mengembangkan energi alternatif adalah dengan mendirikan Pusat Pendidikan dan Riset Energi Nasional (Puspenrisenas). Puspenrisenas merupakan lembaga yang secara khusus melalukan pendidikan dan penelitian intensif terhadap potensi alam Indonesia yang bisa dikembangkan menjadi energi pembangkit listrik. Potensi alam yang digali adalah yang bersifat dapat diperbaharui. Misalnya energi panas bumi, angin, perairan laut, ataupun energi surya.

02072007152040

Lembaga ini bisa didirikan di berbagai wilayah yang memiliki potensi energi alternatif yang bisa diperbaharui. Salah satunya adalah potensi laut Indonesia yang bisa dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL). Di sepanjang wilayah selatan perairan di Indonesia tentu banyak sekali energi terbaharui yang bisa dikembangkan menjadi energi listrik. Penelitian yang dilakukan Masduki dan Yuningsih (2011) menemukan bahwa kawasan pesisir Flores Timur, NTT tepatnya di Selat Larantuka memiliki potensi arus laut yang dapat dikembangkan menjadi energi listrik dengan menempatkan turbin pembangkit listrik dengan kedalaman 15-25 meter.

Laut yang ada di kawasan Jimbaran, Bali ternyata juga menyimpan energi potensial dari gelombang laut yang bisa dijadikan pembangkit listrik. Wijaya (2010) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa laut kawasan Jimbaran dapat menghasilkan daya listrik tertinggi sebesar 4.174.007,641 Watt. Sedangkan daya listrik terendah yang mampu dihasilkan sebesar 175,892 Watt dengan menerapkan teknologi Oscillating Water Coloumn (OWC). Teknologi tersebut menggunakan konsep tekanan udara dari ruangan kedap air untuk menggerakkan turbin yang kemudian digunakan untuk menghasilkan energi listrik.

Indonesia memiliki panjang pantai sekitar 80.000 km yang terdiri sekitar 17.000 pulau lebih. Kondisi geografis tersebut tentunya menyimpan potensi PLTGL yang begitu besar. Akan tetapi baru sebagian kecil saja wilayah pesisir yang dikembangkan untuk memasok energi listrik. Terlebih lagi belum ada lembaga yang secara terpadu melakukan berbagai riset intensif dalam pengembangan PLTGL. Sampai saat ini riset hanya dilakukan oleh pihak perguruan tinggi bahkan mahasiswa. Untuk itulah Puspenrisenas perlu didirikan agar penelitian dan berbagai kajian empiris bisa dilakukan lebih mendalam oleh para ahli.

Pemerintah sudah seharusnya membuka keran investasi yang besar untuk melakukan penelitian mendalam guna mengembangkan PLTGL. Subsidi terhadap minyak harus mulai dialihkan menjadi alokasi untuk sumber pendanaan Puspenrisenas. Pendanaan tersebut dapat digunakan untuk membiayai para ahli dibidang kelistrikan dan pengadaan teknologi yang digunakan untuk mendukung riset energi alternatif tersebut. Selain itu alokasikan dana untuk membangun proyek-proyek pembangkit listrik di berbagai titik potensial di wilayah Indonesia. Hal tersebut harus didukung dana pemeliharaan alat dan pengawasan kinerja secara ketat.

Gerakan Peduli Listrik

Pengembangan energi alternatif untuk pembangkit listrik belum sepenuhnya berhasil jika masyarakat tidak memiliki kepedulian untuk menjaga keberlangsungan energi listrik. Saya menyarankan perlu dibentuk sebuah Gerakan Peduli Listrik (Gardu Listrik) untuk menanamkan kepedulian dan cinta energi listrik. Gardu Listrik bisa dibentuk skala nasional dan aksi nyatanya bisa dilakukan setiap hari misalnya dengan penanaman pola pemakaian listrik tepat dan hemat. Gerakan ini difokuskan pada dua hal yaitu sosialisasi dan aksi menumbuhkan kepedulian terhadap energi listrik.

PLN harus menjadi pemeran utama dalam melakukan sosialisasi. Masing-masing kantor wilayah PLN di seluruh Indonesia bisa melakukan sosialisasi secara rutin terkait penggunaan listrik efektif dan efisien ke lingkup rumah tangga dan industri kecil menengah. Gerakan ini bisa dilakukan secara terorganisir, misalnya kepada setiap ketua RT di satu desa atau secara masif dengan mengundang masyarakat untuk mendengarkan sosialisasi langsung dari PLN setempat. Langkah ini perlu dilakukan mengingat masih banyak masyarakat yang melakukan pemasangan alat-alat listrik yang belum memenuhi standar keamanan jaringan. Selain itu masih banyak hubungan arus pendek yang terjadi akibat kesalahan instalasi listrik.

Sebagai masyarakat, melalui Gardu Listrik ini diharapkan muncul aksi positif untuk menjaga keberlangsungan energi listrik kita. Caranya adalah dengan menggunakan listrik secara hemat dan seperlunya. Menaati prosedur PLN jika akan melakukan pemasangan instalasi listrik sederhana agar tetap aman dan sesuai standar. Bahkan masyarakat dapat memberikan aksi berupa kritik, saran, dan gagasan demi kemajuan listrik nasional serta PLN secara terbuka. Misalnya melalui gagasan yang ditulis di blog. Bahkan masyarakat bisa melakukan kampanye peduli energi listrik. Tentunya aksi tersebut harus dipenuhi dengan muatan pendidikan yang bisa diterima semua lapisan masyarakat.

Bangsa yang kuat adalah mereka yang mampu mengelola energi listrik secara berkelanjutan. Sudah saatnya kita berhemat untuk menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi listrik nasional. Mulai saat ini mari bersama-sama kita kembangkan energi alternatif dari potensi kekayaan alam yang dapat diperbaharui. Indonesia belum terlambat, negara-negara maju kini sudah mulai mengembangkan energi alternatif sebagai pembangkit listrik. Jerman, negara maju yang tidak memiliki wilayah perairan sebanyak Indonesia mampu memproduksi 250 kwh untuk mengaliri listrik 120 rumah. Jika Jerman saja berkeinginan mengembangkan PLTGL, bagaimana Indonesia? Sebuah tantangan yang harus dijawab demi masa depan bangsa ini.

Di era kepemimpinan yang baru ini, saya berharap ada perubahan yang terjadi khususnya masalah energi listrik di Indonesia. Penduduk Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan, kebutuhan akan energi listrik pun meningkat. Ironis, ketika negeri yang memiliki sumber energi alternatif melimpah masih saja kita dengar daerah yang belum terjamah listrik. Oleh karena itu pemerintah harus serius mengembangkan energi alternatif pembangkit listrik demi masa depan Indonesia yang lebih terang.