Tags

,


Oleh Danang Firmanto

Finalis Writing Project, Informatics Writing Experience, ITS, 2014

IMG-20141001-WA0004 copy

Ernest Becker, ahli evolusi menyebut kebudayaan sebagai sistem yang seolah tunggal dan pasti. Kebudayaan adalah rekaan, sesuatu yang sangat terikat pada wacana kerangka tertentu. Artinya banyak sekali unsur yang dapat menopang kebudayaan. Kebudayaan yang secara turun temurun diwariskan akan membekukan dan menunggalkannya menjadi sistem dengan pola-pola yang jelas. Bahkan dapat menjadi ciri khas kesenian suatu daerah, termasuk budaya Labuhan di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta.

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap roh dan kekuatan ghaib sudah ada sejak dulu. Hal tersebut didukung dengan keberadaan Gunung Merapi yang dianggap menjadi pusat kekuatan ghaib. Gunung Merapi diyakini memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Jawa. Menurut Herusatoto (2001) nenek moyang orang Jawa telah beranggapan bahwa semua benda di sekelilingnya memiliki nyawa. Semua benda yang bergerak dianggap hidup dan berkekuatan ghaib. Ada yang berwatak baik maupun buruk.

Mereka beranggapan dari semua kekuatan ghaib itu ada roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Agar terhindar dari roh tersebut, mereka menyembah dengan mengadakan upacara sesaji yang akan dipersembahkan kepada para roh. Prosesi upacara itulah yang dikenal dengan nama Labuhan. Tradisi tersebut merupakan akulturasi kepercayaan Hindu Budha yang kini masih berlangsung setiap tahunnya, Partokusumo (1995).

Makna Filosofis Sesaji dan Benda Labuhan

Persiapan upacara Labuhan bersifat tertutup, hanya dilakukan di dalam Kraton Yogyakarta. Pihak yang terlibat dalam persiapan upacara sakral ini adalah para putri kerabat kraton yang usianya sudah tua, abdi dalem, dan kyai penghulu. Hanya Sri Sultan didampingi keluarga beserta abdi dalem saja yang boleh menyaksikan persiapan upacara Labuhan. Selain menyiapkan perlengkapan Labuhan, juga menyiapkan perlengkapan ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono. Sementara untuk pelaksanaan upacara Labuhan bersifat terbuka. Dilakukan di Kendhit Merapi melibatkan abdi dalem dan pejabat di luar kraton seperti bupati, camat, lurah, juru kunci serta disaksikan warga sekitar.

Upacara tersebut dipimpin juru kunci yang dikatakan sebagai wakil masyarakat setempat dan bertindak atas nama raja. Dilaksanakan salah satunya guna menjaga kewibawaan keluarga Kraton Yogyakarta dan mempertahankan kemurnian kebudayaan tradisional. Upacara Labuhan dapat menunjukkan perbedaan antara keluarga raja dengan rakyat biasa. Hal itu disebabkan upacara Labuhan hanya boleh dilakukan oleh keluarga raja. Keluarga raja mempunyai kedudukan lebih tinggi dari rakyat biasa, sehingga keluarga raja bertindak sebagai wakil rakyat dan melakukan upacara Labuhan demi keselamatan rakyat seluruhnya, Astuti (2001)

Lebih lanjut Astuti menjelaskan ada beberapa sesaji yang dipersiapkan untuk upacara Labuhan diantaranya; sanggan berupa perlengkapan kinang, pisang raja, dan berbagai macam bunga; tukon pasar yaitu berbagai makanan kecil khas yang dijual di pasar; pala gumantung yaitu pepohonan yang buahnya menggantung seperti pepaya; pala kependhem yaitu pepohonan yang buahnya tertanam di dalam tanah seperti ubi-ubian; pala kesimpar yaitu pohon yang buahnya terletak di atas permukaan tanah seperti mentimun.

Sesaji yang dipersembahkan dalam Labuhan memiliki makna filosofis. Sanggan bermakna peyangga arwah raja, melambangkan harapan semoga menjadi keluarga yang mendapat jalan terang dan keberhasilan serta kemuliaan raja yang dilambangkan pada pisang raja. Tukon pasar dimaksudkan agar manusia selalu tercukupi kebutuhannya. Selain itu diharapkan agar rakyat yang hidupnya dari usaha dagang akan mendapatkan keberhasilan. Sedangkan pepohonan yang disajikan bermakna agar mahkluk halus mau menjaga tanaman hingga tumbuh subur dan menghasilkan.

Perlangkapan lainnya yang perlu dipersiapkan adalah tumpeng lengkap dengan lauknya yang bermakna pengharapan agar semua orang dapat bergaul satu sama lain bagaikan saudara. Payung warna kuning keemasan sebagai lambang kedudukan bagi seorang raja. Lampu minyak sebagai harapan agar Allah selalu memberikan jalan terang dan petunjuk bagi manusia. Juga bisa diibaratkan perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam. Lampu ibarat cahaya yang menerangi kegelapan. Kemenyan dimaksudkan agar makhluk halus membantu permohonan agar cepat sampai. Selain itu agar arwah nenek moyang tidak mengganggu manusia. Apem, yaitu makanan khas Jawa yang berarti ampun (afun). Diartikan sebagai manusia yang meminta ampun kepada Allah dari segala kesalahan yang diperbuat.

Sedangkan benda-benda yang dilabuh antara lain; potongan kuku Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun, potongan rambut Sri Sultan yang terkumpul dalam setahun, beberapa potong pakaian bekas Sri Sultan, benda bekas Sri Sultan yang berwujud payung, dan layon sekar yaitu sejumlah bunga layu dan kering dari bunga sesaji pusaka-pusaka kraton dalam setahun. Semua benda yang dilabuh tersebut dianggap memiliki kekuatan magis sehingga tidak boleh dibuang di sembarang tempat.

Nilai yang Terkandung

Di dalam upacara Labuhan terdapat nilai agama yaitu Aqidah dan Syariah. Aqidah adalah bentuk kepercayaan bahwa Allah itu Esa. Diwujudkan dalam setiap doa yang diucapkan selama upacara Labuhan. Yakni meyakini bahwa Allah yang memberi keselamatan bagi Sri Sultan, Kraton, dan masyarakat khususnya Yogyakarta. Sedangkan syariah adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan ajaran Islam. Labuhan syarat akan makna untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Ini yang dilakukan kraton dengan membuat nasi tumpeng yang akan dibagikan kepada masyarakat. Tuntutan sedekah ini akan memperkokoh Ukhuwah Islamiyah.

Nilai sosial juga diajarkan melalui upacara Labuhan ini. Yakni aksi gotong royong yang sangat terlihat dari serangkaian upacara Labuhan. Manusia tidak mungkin hidup sendiri. Pasti mereka membutuhkan bantuan dari pihak lain demikian juga sebaliknya. Labuhan ini diharapkan dapat memupuk rasa kebersamaan pada masyarakat Yogyakarta melalui interaksi sosial berupa semangat gotong royong yang terjalin harmonis dan humanis.

Upacara Labuhan juga memberikan rejeki bagi para pedagang. Selama upacara Labuhan berlangsung banyak pedagang yang berjualan di sekitar tempat upacara. Ini menandakan ada keadilan ekonomi yang terbentuk. Para pedagang ikut merasakan berkah berkat hasil jualannya yang laris selama upacara Labuhan. Bahkan nilai kepemimpinan pun tercermin melalui keterwakilan rakyat oleh kraton. Kraton yang berhak melakukan upacara Labuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan rakyat.

Meski 2 November 2010 lalu erupsi Merapi menewaskan sang juru kunci, Merapi masih menyimpan keberkahan dan tradisi hingga saat ini.