Tags


Oleh: Danang Firmanto

url

Banyak tenaga profesional kesehatan masih mempertanyakan kebenaran ilmiah jamu untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. Bahkan jika mencermati Undang-undang No. 9 Tahun 2004 prihal Praktik Kedokteran, tersirat bahwa dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memenuhi standar pelayanan medis. Prinsip dari pelayanan tersebut harus memenuhi kaidah praktik kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine). Adanya jamu sebagai pengobatan tradisional warisan leluhur dinilai belum terbukti kuat secara ilmiah untuk digunakan para tenaga profesional kesehatan.

Upaya yang dilakukan pemerintah maupun instansi lainnya dalam menyediakan bukti ilmiah tentang jamu patut diapresiasi. Melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah telah mengeluarkan peraturan terkait Saintifikasi Jamu. Tahun 2010 lalu, secara resmi dibentuk Komisi Nasional Saintifikasi Jamu sebagai gerbang kajian ilmiah melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tidak sampai disitu saja, hal serupa dilakukan oleh Pusat Penelitian Obat Tradisional (PPOT) Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya dengan merintis pendirian “Rumah Riset Jamu” sebagai klinik saintifikasi jamu (http://www.antaranews.com, 2014).

Satu-satunya cara yang dapat ditempuh baik pemerintah atau instansi terkait dalam membuktikan khasiat jamu adalah dengan penelitian. Bagaimanapun juga masyarakat luas akan lebih percaya dengan hasil penelitian ketimbang bukti yang dihasilkan bukan melalui riset empiris. Sebagai contoh, saat ini jamu asal Malaysia lebih dikenal dunia internasional karena keseriusan riset dan pengembangan yang mereka lalukan terhadap jamu. Tongkat Ali –dalam istilah Indonesia dikenal sebagai jamu pasak bumi– merupakan salah satu contoh nama jamu asal Malaysia yang dikenal dunia. Jamu Malaysia menjadi lebih dikenal dan banyak dikonsumsi karena penelitian yang dilakukan kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional.

Prof. Dr. Yaya Rukayadi, peneliti di Yosen University Seoul, Korea, menyebutkan bahwa butuh waktu 20 tahun bagi Korea untuk membuat ginseng yang kini terkenal di dunia. Yaya menambahkan bahwa sebenarnya tanaman ginseng didatangkan dari Kanada dan China lalu kemudian diteliti dan dikembangkan Korea sehingga menjadi produk konsumsi. Korea mampu melakukan hal tersebut karena memiliki lembaga penelitian yang secara khusus melakukan riset mendalam dan intensif terhadap ginseng. Pada akhirnya tanaman obat tersebut bisa dijadikan berbagai macam produk untuk kebutuhan masyarakat. (http://internasional.kompas.com, 2010).

Indonesia memiliki banyak tanaman obat yang memiliki beragam khasiat tetapi belum dilakukan penelitian secara intensif untuk memberikan bukti ilmiah yang kuat. Biofarmaka IPB telah berupaya mempublikasikan berbagai tanaman obat berkhasiat yang tumbuh di Indonesia. Seperti patah tulang, kumis kucing, urang aring, tanjung, sisik naga, dll. Berbagai tanaman tersebut memiliki kandungan zat yang berbeda-beda dan khasiat yang berbeda pula. Tanaman patah tulang diyakini dapat dijadikan obat sakit lambung, reumatik, bahkan keseleo. Contoh lain seperti tanaman kumis kucing yang digunakan sebagai upaya penyembuhan batuk, batu ginjal, demam, kencing manis, sifilis, hipertensi, dll (http://biofarmaka.ipb.ac.id, 2013).

Pusat Studi Ilmiah Jamu

Langkah yang harus segera dilakukan Indonesia adalah melakukan berbagai penelitian dan pengembangan secara intensif untuk memberikan bukti-bukti ilmiah dari manfaat tanaman obat (jamu) tersebut. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah mendirikan pusat-pusat studi ilmiah di instansi pendidikan. Instansi perguruan tinggi baik negeri maupun swasta harus mulai membuka pikiran untuk melakukan riset dan pengembangan secara intensif terhadap ratusan jenis tanaman obat yang tumbuh di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar muncul bukti-bukti ilmiah dari berbagai instansi pendidikan akan khasiat tanaman obat yang tumbuh tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dukungan pemerintah juga diperlukan untuk menopang keberlangsungan pusat-pusat studi ilmiah jamu tersebut. Pemerintah seharusnya memberikan alokasi dana yang cukup dan menyediakan fasilitas pendukung bagi masing-masing pusat studi ilmiah tersebut untuk melakukan riset intensif. Lalu kemudian memberikan akses agar hasil riset dapat dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah internasional. Sebab, era global telah mencetak manusia-manusia yang memiliki pola pikir semakin cerdas. Mereka akan semakin percaya dengan bukti-bukti ilmiah yang sudah dipublikasikan secara global melalui jurnal-jurnal penelitian terkini.

Langkah strategis juga harus dilakukan oleh pemerintah daerah yakni melakukan konservasi lahan yang cocok untuk budidaya tanaman obat. Seperti di daerah Merbung, Klaten, Jawa Tengah, terdapat banyak tanaman kunir yang diolah menjadi jamu. Sangat dimungkinkan sebagian lahan di daerah tersebut dijadikan daerah budidaya tanaman kunir bahkan temulawak lainnya. Di daerah lain tentu juga memiliki potensi yang sama untuk didirikan lahan budidaya tanaman obat sesuai kondisi lahan dengan jenis tanaman obat yang cocok. Jika langkah tersebut dapat dilakukan, optimis Indonesia akan memiliki lumbung-lumbung tanaman obat yang tetap lestari.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah banyak orang yang tahu khasiat berbagai tanaman obat akan tetapi belum mengetahui bagaimana proses pengolahan yang baik sesuai standar keamanan konsumsi. Untuk itu, perlu didirikan pusat-pusat pengolahan tanaman obat menjadi jamu yang terstandarisasi. Misalnya setiap provinsi memiliki satu lokasi pengolahan jamu yang berstandar operasional prosedur. Adakan pengawasan yang ketat dalam pengolahan jamu sehingga memiliki tingkat keamaman dan kualitas yang terjamin.

Sosialisasi dan Pelatihan Produksi Jamu

Banyaknya produsen jamu di Indonesia juga tak luput dari berbagai persoalan seperti jaminan keamanan jamu yang dihasilkan. Mereka bisa mengolah tanaman seperti empon-empon, temulawak, menjadi jamu siap konsumsi umunya dari ilmu yang mereka dapat secara turun-temurun. Akan tetapi hal yang sangat dikhawatirkan adalah kualitas dari produk jamu yang dihasilkan bukan menyembuhkan tetapi justru membahayakan kesehatan. Sholichah (2012) menyatakan bahwa di Kelurahan Merbung, Klaten, Jawa Tengah, terdapat 16 penjual jamu gendong jenis kunir asem. Dari 16 produsen jamu tersebut, hanya sebesar 6,3% produsen jamu yang memenuhi syarat dari Departemen Kesehatan RI. Artinya hanya ada 1 sampel yang menjual jamu layak konsumsi.

Lalu bagaimana dengan para penjual jamu yang sering kita lihat bahkan menjadi langganan kita? Bisa jadi tingkat keamanan dan kualitasnya masih belum terjamin. Lebih lanjut Sholichah menjelaskan bahwa ditemukannya bakteri escherichia coli dalam jamu gendong kunir asem di daerah Merbung menunjukkan sebagian besar jamu kunir asem di daerah tersebut tercemar fases manusia dan hewan berdarah panas yang memicu penularan penyakit diare. Oleh sebab itu sosialisasi dan pelatihan proses pembuatan jamu yang sesuai standar keamanan harus dilakukan.

Terakhir sebagai masyarakat mari kita dukung upaya pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan riset dan pengembangan terhadap jamu Indonesia. Termasuk langkah yang ditempuh Institut Pertanian Bogor dengan mendirikan Biopharmaca Research Center (BRC) perlu kita dukung sepenuhnya. Sebagai generasi muda, jangan ragu untuk meminum jamu yang sudah terjamin kualitas dan keamanannya. Bahkan penggunaan obat-obatan alami tidak menimbulkan efek samping yang berlebihan.

Butuh keseriusan dari pemerintah dan instansi terkait untuk meneliti serta mengembangkan jamu di Indonesia. Didukung dengan kekayaan akan tanaman obat yang tumbuh di Indonesia dan riset yang terus dikembangkan intensif, sangat mungkin 20 tahun lagi jamu asli Indonesia lebih dikenal di dunia internasional dibanding jamu dari negara lain. Selain itu, adanya bukti-bukti ilmiah yang kuat dari hasil penelitian intensif, jamu dapat diterima sesuai standar pelayanan kesehatan. Dengan demikian jamu Indonesia dapat dikonsumsi baik nasional maupun internasional dan menjadi salah satu alternatif pengobatan secara berkelanjutan.

Referensi:

Sholichah, Verawati. (2012). Kulitas Mikrobiologi Jamu Gendong Jenis Kunir Asem yang Diproduksi Di Keluarahan Merbung, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro. Vol. 1. No. 2. Hlm 504-513.

http://www.antaranews.com/berita/449758/universitas-di-surabaya-rintis-rumah-riset-jamu

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

http://internasional.kompas.com/read/2010/09/29/17255832/Jamu.Indonesia.Perlu.Dukungan.Penelitian