Tags

, ,


Oleh: Danang Firmanto

Pernah ngebayangin nggak jika sehari saja kita tidak makan nasi sesendokpun?

Kata orang jawa, nek ora mambu sega, durung wareg. Artikan sendirilah ya.

Tulisan ini saya tulis atas nama rasa syukur dan menghargai para petani Indonesia, terlebih para buruh tani yang selama ini menjadi partner kerja. Mereka itu tetangga, saudara, bahkan keluarga.

Proses Memanen Padi

Proses Memanen Padi

Ngomongin soal buruh tani, pekerjaan mereka nggak sebanding dengan upah yang diterima. Dari pagi hingga sore hanya 25ribu dollar, rupiah keleus. Tapi makan dan snack ditanggung yang punya sawah. Plus nanti setelah kerjaannya selesai, mereka diberikan bawon (gabah hasil panen yang dihitung dengan ukuran tertentu). Biasanya jika panen mendapatkan 10 kantong gabah, mereka mendapat 1 kantong yang dibagi rata sebanyak jumlah buruh yang bekerja. Tapi dengar-dengar sistem itu sudah berganti. Bukan berdasarkan berapa jumlah kantong gabah yang didapat, melainkan menggunakan sistem bawon tetap. Misal berapapun hasil panennya, jika buruh bekerja dari pagi hingga sore maka ia akan mendapatkan bawon satu ember ukuran sedang. Kira-kira begitulah.

Ada yang menarik sebenernya yang ingin saya angkat. Sekali lagi, mereka bukan buruh melainkan sedulur sebab kata buruh hanya sebutan. Ada hubungan kekeluargaan yang kental terjalin antara yang punya sawah dengan mereka. Ketika masa panen tiba, pemilik sawah menghubungi mereka untuk membantu proses panen. Dari memotong padi, hingga memisahkan padi dari tangkainya dengan alat yang dikayuh seperti yang kalian lihat di gambar itu. Umumnya para buruh sudah banyak dipesan para petani lain. Jadi ya harus nunggu antrian, sabar.

Buruh pun nggak cuma bekerja secara personal, mereka punya kelompok paling tidak 3-5 orang. Keren kan! Mereka nggak egois, ketika memang jadwal mereka padat dan ada petani yang ingin meminta jasanya, mereka dengan bijaknya menolak dan memberikan saran untuk menghubungi kelompok buruh yang lain. Mereka setia lho, bekerja sampai benar-benar selesai. Setelah proses panen selesai, antara buruh dengan petani saling memaafkan jika selama bertemu, bekerja, melayani, ada kata-kata yang kurang berkenan, dan lain sebagainya. Itu orang Jawa yang kental akan tindak-tanduk sopan-santun.

Ingat, nasi yang kita makan bahkan kita buang, itu prosesnya panjang dan penuh perjuangan! Mau bukti? Turunlah ke sawah, lepas sepatumu, lipat celana panjangmu, lakukan apa yang para buruh kerjakan dari pratanam hingga pascapanen. Beeeh..dijamin, nangis darah😀

Yuk, sama-sama kita hargai mereka para petani dan partnernya. Simpel kok, berhentilah makan sebelum kenyang. Ambillah porsi makan yang tidak berlebihan, jangan mentang-mentang sedikit-banyak nasi harganya sama. Mending ambil banyak sekalian lalu sebagian kita bungkus, bawa pulang hehehe..toh harga nasinya sama. Maksud saya bukan seperti itu. Semoga kita lebih bijak dan mau menghargai proses dalam setiap capaian.