Tags

,


-wawancara eksklusif-

Oleh: Andreas Tri Pamungkas

Harian Jogja, Rabu Legi, 26 Juni 2013

Keberadaan bus kota diharapkan bisa mengurangi kepadatan jalan dari meningkatnya jumlah kendaraan pribadi di tiap tahunnya. Namun adanya kenaikan tarif angkutan menyesuaikan kenaikan harga BBM, membuat harapan itu kian jauh panggang dari api. Berikut Laporan Wartawan Harian Jogja, Andreas Tri Pamungkas.

Danang Firmanto terlihat duduk di salah satu shaf tempat duduk bus kota Jalur 2 yang tengah menunggu penumpang di Pojok Beteng Timur, tepatnya di utara Pos Polisi, Selasa (25/6). Menyisakan satu kursi, Danang menanti jalannya bus sambil membaca artikel yang belakangan diketahui adalah bahan ujian akhir semester siang itu.

Sudah hampir dua tahun ini, Danang yang tinggal di Bantul itu, menggunakan bus kota untuk berangkat dan pulang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, Jalan Colombo. Dari Projotamansari itu, ia biasa menaiki bus kecil jurusan Jogja-Bantul. Setibanya di perbatasan kota, ia kemudian oper menggunakan bus kota jalur dua tersebut.

Baginya, menggunakan bus sebagai transportasi nyaman-nyaman saja. Seperti yang ia lakukan di dalam bus siang itu. Danang bisa berangkat kuliah sambil belajar. Itu tak bisa ia lakukan kalau ia naik motor. Hanya persoalannya selama ini, ia kerap mendapatkan kejadian buruk di dalam bus.

Suatu sore, ketika hendak pulang dari kampusnya, Danang naik bus jalur Jogja-Bantul. Cuaca hari itu tidak begitu bersahabat. Hujan turun dengan lebatnya. “Ternyata atap bocor. Jadi walau naik kendaraan beratap, saya tetap basah,” tuturnya.

Hal buruk lain yang dialaminya ketika bus jalur 2 yang dinaikinya hampir sampai diperbatasan kota, tapi tiba-tiba bus putar arah dan kondektur memintanya agar oper menggunakan bus lain.

Adanya kenaikan tarif bus, uang uang akan dikeluarkan Danang untuk ongkos transportasi bakal lebih besar dan lebih boros. Bus Jogja-Bantul tarifnya Rp3.000. Padahal sebelumnya cukup Rp2.000. Sedangkan bus jalur 2 ditarif Rp3.000 dari sebelumnya Rp2.500. Dihitung dengan pulangnya, sehari Danang bisa menghabiskan biaya sampai Rp12.000.

Menggunakan sepeda motor menurutnya memang lebih efisien. Dari segi waktu, dari rumah ke kampus dengan sepeda motor bisa kurang dari satu jam. Tapi dengan bus bisa satu jam bahkan lebih. “Sebetulnya tak masalah menggunakan bus, asalkan nyaman,” katanya.

Adapun Fidyah, 24, pengguna kendaraan umum mengaku tak punya pilihan dengan kenaikan tarif angkutan. Ia tidak memiliki kendaraan pribadi.

Pernah suatu hari, pegawai Toko Ramayana itu, melihat seorang pengemudi kecopetan saat hendak turun dari bus jalur 2. Pengemudi itu dipepet orang tak dikenal seketika mendekati pintu bus. Dan ketika turun, dompetnya sudah tidak lagi berada di saku.

Menurutnya, bus jalur dua tak terlalu rawan copet. Bus jurusan Jogja-Bantul lah yang sering ia dapati pencopetnya. Maka, ketika naik bus, Fidyah, 24 mengaku tak pernah mengeluarkan benda berharga dari kantong atau tasnya.

Ia memilih tidak menggunakan tas punggung sebab lebih rawan dicopet. “Enak sih naik motor. Tapi kalau sama-sama naik (ongkos BBM) ya bingung juga,” kata warga Sewon, Bantul itu. (andreas@harianjogja.com)