Oleh: Danang Firmanto

Harian Jogja, Selasa Pon, 14 Juni 2011 hal. 8

Tidak henti-hentinya negeri ini diselimuti masalah lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan masih menjadi isu hangat yang sampai sekarang belum mampu dipecahkan. Salah satunya kini hutan berubah menjadi lahan perumahan karena peningkatan jumlah penduduk. Permasalahan menjadi semakin kompleks dengan banyaknya sampah.

Sayangnya, peningkatan jumlah penduduk tidak diikuti peningkatan kesadaran untuk merawat lingkungan. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya masih kurang. Misalnya di sepanjang jalan di Kota Jogja, masih banyak kita temui sampah plastik dan botol bekas berserakan. Bahkan ada tempat penampungan sampah yang terletak di tepi jalan raya. Ini menyebabkan polusi udara dan mengganggu pernapasan.

Langkah preventif harus kita lakukan sejak dini dan mulai dari diri sendiri. Langkah ini bisa diawali dengan mengubah kebiasaan pola hidup yang terkesan acuh lingkungan. Diawali dari lingkungan keluarga, dengan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan pada anggota keluarga. Tentunya dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana.

Bagi ibu rumah tangga, sampah plastik biasanya akan menumpuk dari sisa-sisa kemasan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ini bisa diminimalisasi dengan membiasakan penggunaan wadah dan tas sendiri dari rumah saat akan berbelanja. Bisa juga menggunakan tas daur ulang yang dapat terurai jika sudah menjadi sampah.

Bagi anak-anak, orangtua juga harus menanamkan kondisi ramah lingkungan dengan membiasakan membawa bekal sendiri saat berangkat ke sekolah. Selain hemat dan sehat juga lebih ramah lingkungan karena anak-anak tidak perlu jajan makanan yang kemasannya biasa dibungkus dengan plastik. Ini dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi botol plastik dan bungkus makanan.

Kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan. Sebagai contoh seperti di Dusun Badegan, Kabupaten Bantul. Masyarakat setempat mendirikan bank sampah, sebuah organisasi yang kemudian disebut bank tempat masyarakat setempat mengumpulkan sampah yang telah dipisah-pisahkan sesuai kategori (sampah organik dan non organik) kemudian diberi ganti rugi dengan sejumlah uang.

Sampah yang terkumpul di bank sampah ini kemudian didaur ulang. Pemerintah sudah seharusnya memberi apresiasi tinggi bagi masyarakat seperti di Badegan tersebut yang kemudian menjadi percontohan bagi desa-desa lain untuk menerapkan bank sampah ini sampai tingkat kabupaten bahkan provinsi di seluruh Indonesia.

Adapun hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan. Jika manusia mampu merawat lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistemnya, kehidupan menjadi serasi. Tidak akan timbul polusi udara dan bencana alam seperti banjir maupun tanah longsor. Masa depan lingkungan untuk puluhan tahun kemudian, terletak pada pola hidup kita sekarang ini. Butuh kesadaran penuh untuk merawat lingkungan, karena manusia hidup membutuhkan lingkungan yang bersih dan terawat. Mulai dari hal yang sederhana dengan mengubah kebiasaan acuh menjadi peduli lingkungan.