Tags

,


 

Putih abu-abu! Jaman SMA! Aku pernah ngerasain yang namanya duduk di bangku SMA. Nggak usah lama-lama, cukup tiga tahun saja. Alhamdulillah LULUS di tahun 2010 lalu. Sangat bangga! Ini dia ceritanya.

Tahun 2004 aku masuk SMP favorit di Bantul. Letaknya di Jalan R.A. Kartini, Trirenggo, Bantul. Buat pembaca yang merasa alumni dari situ pasti tahu dong SMP yang aku maksud. Suasana persaingan begitu kental waktu itu. Jelas, hanya orang-orang yang memenuhi syarat saja yang bisa masuk. Dulu masuk SMP menggunakan tes tertulis yang cukup ketat. Syukurlah, aku masuk daftar siswa yang diterima meski bukan 100 besar. Waktu sekolah di SMP, aku biasa saja, hanya menjadi siswa culun yang kurang pergaulan. Nggak ada yang bisa aku tonjolin waktu itu. Hebatnya, beberapa teman sekelas kabarnya menjadi idola. Entah dia yang jago basket, pinter di akademik, cantik, bahkan ganteng bro.

Aku masih penakut dan malu dulu. Kadang minder, nggak tahu kenapa. Akhirnya aku jalani saja masa SMP itu dengan biasa-biasa saja. Sampai pada tahun 2007 aku lulus, lumayan sih nilainya. Ya, rata-rata delapan lebihlah. Aku pikir bisa lanjut ke SMA pilhanku, ternyata nggak. Persaingan makin ketat. Inget tuh, dulu sudah ambil formulir pendaftaran di SMA pilihanku yang pertama. Hari-hari awal sih nilaiku masih masuk daftar calon siswa yang diterima. Tapi sedih, akhirnya nilaiku tergeser perlahan-lahan dan lenyaplah sudah impianku masuk di SMA itu.

Jodohku jatuh di SMA yang letaknya hanya berseberangan dengan SMPku dulu. Tetep, naik sepeda ke sekolah. Bukan sok irit sih, tapi berusaha ngerti kondisi ekonomi orang tua. Jadi kalau anak-anak lain minta dibelikan motor baru, aku hanya minta sepeda. Sekarang masih tuh di rumah, main aja ke rumahku kalau mau pinjem buat sepedaan. Gratis hehe! Well, setelah dinyatakan resmi diterima di SMA pilihan kedua, mulailah aku beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebenarnya mengikuti arus ke mana hati ini ingin memilih.

Biar nggak culun dan kuper seperti waktu SMP, akhirnya aku beranikan diri ikut organisasi. Rohis, itu organisasi pertama yang aku ikuti di SMA. Alhasil, bertemu deh dengan orang-orang yang menurutku nyambung dengan pemikiran dan guyonanku. Seneng tuh, kumpul-kumpul, bikin acara, nambah wawasan, dan kegiatan keagamaan lainnya. Tapi uniknya, anggota Rohis mudah banget dikenali waktu itu. Mungkin karena orangnya anteng-anteng (kalem) kali ya. Kalau ngelihat sekarang, jadi malu sama diri sendiri yang nggak mencerminkan jebolan Rohis. Tapi In sha Allah akan terus memperbaiki diri.

Organisasi SMA yang paling keren kata sebagian orang adalah OSIS. Akhirnya tahun 2008 aku pun tergiur masuk menjadi pengurus OSIS. Awalnya sekadar ikut-ikutan, tapi ternyata enggak. Organisasi itu memberikan aku banyak pelajaran berharga meski hanya 1 tahun periode keikutsertaan. Jelas, efek sampingnya makin banyak mengenal dan dikenal orang. Pasti yang sekarang jadi pengurus OSIS merasa ‘bangga’ gimana gitu.

Tahun 2009 melirik yang namanya MPK. Silakan cari sendiri kepanjangannya ya. Itu organisasi yang lebih tinggi dibanding OSIS, sebab MPK mempunyai wewenang melantik para calon pengurus OSIS. Wuih, keren kan. Dipercaya mendapat jabatan bendahara umum kala itu. Aku masih inget siapa dalang di balik itu semua yang menjebloskan aku menjadi bendahara umum. Tapi patut berterima kasih buat kalian yang memberikan aku kesempatan bergabung di kepengurusan MPK. Kalian hebat!

Nggak tahu kenapa diberikan kesempatan pula menjadi pemimpin redaksi majalah di SMA. Mumet ternyata jadi Pemred. Tapi sungguh pengalaman yang begitu berharga dapat bekerjasama dengan kalian. Iya kalian! Terima kasih buat kalian yang telah membidani proses kelahiran EXSOTIC Perdana di Mei 2009 lalu. Meski sekarang sudah nggak terbit lagi, haha.

Naik ke kelas tiga membuat saya sedikit berpikir untuk mengurangi aktivitas organisasi. Tapi lagi-lagi ada teman yang menawari bergabung dalam sebuah grup nasyid! Apa-apaan, suara jelek begini dipaksa nyanyi. Waktu itu ada teman yang meneleponku secara mendadak. Duh, semoga kamu nggak baca ya. Berkali-kali dibujuk, dirayu, dan dipaksa ikut gabung ke dalam grup itu. Awalnya aku tolak, benar-benar menolak. Tapi karena aku orangnya nggak enakan, akhirnya aku terima deh tawaran itu. Sekarang aku harus mengucapkan banyak terima kasih buat kamu bro, yang sudah mengajariku teknik bernyanyi meskipun aku sering salah ambil nada, dan fals hahaha..! Sekali lagi terima kasih, semoga kamu dan kita yang dulu sering latihan bareng, bisa sukses dan jaya di masa mendatang!

Ujian Nasional menanti! Tinggal beberapa bulan lagi ceritanya. Tapi kok ya persiapanku biasa-biasa saja. Malah mikir yang penting lulus. Bener deh! Aku lulus dengan sangat biasa. Nilaiku terendah, paling rendah di antara teman-teman jurusan sosial seangkatanku! Memalukan sekali! Tapi aku masih bisa bangga karena itu adalah hasil kerja kerasku sendiri. Awalnya memang merasa nggak adil, tetapi keadilan memang akan terwujud buat kita yang selalu berusaha jujur. Jujur pada diri sendiri, dan orang lain.

Hasil ujianku adalah sebuah tamparan bagi mental dan pribadiku sendiri. Aku masih ingat ketika harus meminjam pakaian adat jawa lengkap dengan blangkon dan selopnya hanya untuk ditampilkan di depan guru, teman, dan orang tua mereka juga orang tuaku sendiri dengan hasil yang mengecewakan keluargaku. Percayalah, aku berdiri paling belakang di deretan anak-anak jurusan sosial. Waktu itu adalah momen sangat ‘berkesan’ dan menjadi titik balik pendidikanku selama SMA. Awalnya aku malu menghadiri wisuda kelulusan SMA tahun 2010 lalu. Malu harus diperlihatkan kepada banyak tamu undangan bahwa aku memiliki nilai terendah ujian nasional. Tapi kalian harus tahu, pada akhirnya aku memutuskan datang di perayaan wisuda itu dengan membawa kejujuran!!!

Aku berjalan perlahan mendekati panggung dengan sangat bangga. Aku jabat satu-persatu guru yang telah mendidikku dengan sabar. Aku lemparkan senyum tulus dan mendalam kepada mereka. Dalam hatipun aku berkata, “Keadilan itu pasti ada, tidak akan pernah sirna bagi siapapun yang berusaha menanamkan kejujuran di dalam dirinya.”

IMG_6848 copy

Puji syukur, Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah telah memberiku kesempatan menjadi salah satu mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi angkatan pertama pada 22 Juni 2010 lalu. Terima kasih pula karena telah memberiku kesempatan berjabat tangan dengan orang jujur seperti Bpk. Bambang Widjojanto, 7 Desember 2012 lalu.