Oleh Danang Firmanto

 

Kesibukan orang tua bekerja sering kali menelantarkan kebutuhan pendidikan bagi putra putrinya. Orang tua yang bekerja 8 jam sehari hanya menyisakan waktu 8 jam efektif untuk mendidik anak. Selebihnya, anak hanya dititipkan kepada pembantu atau kakek neneknya. Padahal hasil riset mutakhir bidang neuroscience dan psikologi menunjukkan bahwa anak usia 0-6 tahun membutuhkan pendidikan yang memadai untuk tumbuh dan berkembang.

.

Anak usia 0-6 tahun membutuhkan pendidikan karena potensi kecerdasan dan perilaku seseorang terbentuk pada usia tersebut. Pada usia emas itu, anak memerlukan wadah untuk menuangkan kreatifitas, kepekaan, dan membentuk perilaku terpuji. Selain itu, pendidikan bagi anak usia dini akan membantu mereka mencegah berbuat negatif. Sekaligus membantu orang tua mendidik secara tepat bagi anak. Untuk itulah, memasukkan anak pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pilihan terbaik.

.

Pemerintah sangat mendukung program PAUD ini dilakukan. Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 pasal 9 ayat 1 menyatakan bahwa anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakatnya. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia 6 tahun. Dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk mambantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani. Tujuannya agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

.

Kurikulum yang diajarkan pada jenjang PAUD pun sudah didesain sesuai konsep Developmentally Approriate Practice (DAP). Konsep ini tercetus dari organisasi National Association for the Young Children (NAEYS) di Amerika Serikat yang peduli terhadap PAUD. Konsep DAP berorientasi pada pola perkembangan anak. Menitikberatkan pada pelayanan kepada anak sebagai individu utuh melibatkan komponen pengetahuan, ketrampilan, sifat alamiah, dan perasaan yang saling terkait. Konsep tersebut sangat memungkinkan diterapkan pada pengajaran PAUD di Indonesia dengan berbagai metode.

.

Salah satu metode yang dapat dilakukan para pendidik adalah menerapkan pendidikan berbasis alam (back to nature school). Inti dari pendidikan berbasis alam yaitu mengajak anak belajar pada lingkungan nyata seperti alam sekitar, kegiatan produksi barang, atau jual beli di pasar. Pakar pendidikan asal Belanda, Jan Ligthart mengatakan bahwa pola pendidikan berbasis alam akan menumbuhkan keaktifan anak dalam mengamati serta mempelajari lingkungan. Anak akan memiliki rasa keingintahuan tinggi dan wawasan yang luas. Metode ini juga menghindarkan rasa kebosanan pada anak untuk belajar.

.

Para orang tua harusnya sudah mulai mengikutsertakan anaknya dalam program PAUD. Sebab pada jenjang PAUD ini, pendidikan dilakukan dengan pendekatan holistik. Yakni menempatkan pendidikan dalam suatu konteks lingkungan yang saling terkait. Pendekatan holistik berusaha membangun pribadi yang sehat dan seimbang dalam berbagai aspek; spiritual, intelektual, moral, emosional, imajinasi, budaya, dan estetika. Nantinya akan lahir generasi emas Indonesia yang memiliki kesiapan mental, moral, dan intelektual untuk bersaing secara global.

.

Oleh karena itu, butuh kesadaran dari pemerintah, sarjana pendidikan guru PAUD, dan masyarakat luas untuk terus mencerdaskan putra putri bangsa. Caranya dengan menerapkan pendidikan bagi anak sejak usia dini.