Tags

,


 

Fotografer: Mas Dewo

Fotografer: Mas Dewo

Kini, 53 tahun sudah engkau terlahir sebagai pahlawan seperti Kartini. Engkau adalah putri satu-satunya dari Almh. Guyub Mitro W. yang telah membesarkan aku dan ketiga saudaraku. Ibu, aku masih ingat ketika kau rengkuh aku dalam pelukanmu saat aku menangis. Kau ambil seutas lendang yang panjang, lalu kau gendong ragaku ketika aku sakit. Dirimu adalah wanita yang paling mengerti di dalam kehidupanku selama ini. Menjaga, menasehati, dan terkadang menegur tingkah lakuku yang kurang baik.

Aku tahu engkau tidak bekerja seperti kebanyakan wanita karier saat ini. Namun, engkau sudah menghasilkan seorang putri dan ketiga putra yang begitu sayang padamu. Aku mendengar sekelumit kisahmu membesarkan ketiga kakakku. Betapa besar perjuangan dan pengorbanan yang tertuang dalam setiap langkahmu. Kau tutupi segala kekurangan dan persoalan dengan senyum dan doa yang tak pernah putus kau ucapkan dalam shalatmu. Ibu, aku sangat paham, dirimu bukan istri seorang pegawai, pejabat, atau pensiunan yang memiliki penghasilan pasti. Banyak cercaan dan bahkan hinaan yang pernah engkau alami selama ini. Tetapi, engkau selalu tegar menghadapi itu.

Aku sangat bangga engkau lahirkan di dunia ini. Meskipun dengan kesederhanaan dan keterbatasan ekonomi, namun banyak pelajaran hidup yang kau ajarkan kepadaku. “Sabar dan jujur.” Iya, Ibu selalu sabar dan bersikap jujur dalam menghadapi setiap masalah. Ibuku, kasih sayangmu tak pernah kurang. Ibu masih ingat kan? Engkau adalah orang yang paling tahu ke mana langkah kakiku ini pergi. Aku selalu menyempatkan berpamitan dan mencium tanganmu ketika aku ingin bepergian. Ibu, engkau juga orang yang pertama kali aku cari ketika aku pulang. Ibu masih ingat kan? Setiap kali aku pulang sekolah aku selalu menanyakan keberadaanmu. Memastikan Ibu sehat, dan tersenyum menyambutku.

Kebanggaanku tak terkira ketika sekarang engkau sudah bisa mengaji membaca Al Quran. Bertahun-tahun Ibu ingin bisa membaca Al Quran, sejak 2006 lalu sebelum gempa bumi melenyapkan sebagian masyarakat Bantul. Bahkan aku tahu sekarang, bacaan Ibu sudah sampai di Juz ke 24. Aku melihat semangat dan kesabaranmu yang luar biasa belajar membaca Al Quran di tengah kesibukanmu mengurus rumah tangga dan juga cucumu. Ibu, engkau selalu ada buat aku dan ketiga kakakku. Bukan semata materi yang engkau berikan, melainkan palajaran, pendidikan, dan makna kehidupan yang kau tularkan kepada kami. Kami bangga Ibu, sangat bangga padamu.

Ibu, tentu banyak kesalahan yang aku perbuat selama ini kepadamu. Tingkah lakuku yang sering menyakiti perasaan, meski Ibu menutupi dengan senyum tanpa amarah. Perkataan yang kasar yang pernah terlontar dari mulutku yang membuat Ibu tersinggung. Perintah yang sering aku sepelekan dan tidak aku patuhi yang sering membuat Ibu kecewa. Aku minta maaf Ibu, belum bisa sepenuhnya menjadi anak yang baik. Aku haturkan maaf karena sering melukai perasaanmu bahkan mungkin membuat Ibu menangis. Aku minta maaf Ibu dari hatiku terdalam.

Terima kasih Ibu, atas doa yang selalu engkau panjatkan untuk kami. Atas pengorbanan dan perjuangan yang engkau berikan selama ini untuk kami. Terima kasih Ibu. Aku yakin Allah mendengar dan mengabulkan doa yang Ibu panjatkan di setiap shalatmu dan di sepertiga malam yang khusyu’. Aku masih ingat ketika Almh. Simbok kurang mendukungku untuk kuliah karena biaya yang mahal. Tetapi pengabdianmu merawat Simbok yang sakit selama 4 tahun dilihat oleh Allah, karena itu juga akhirnya putra ragilmu bisa kuliah.

Kau harus sehat Ibu, kami selalu mendoakan kesehatan, panjang umur, dan keberkahan untukmu. Ibu harus kuat, karena kami yang akan selalu menguatkan langkahmu. Ibu harus tersenyum, karena kami tidak akan menjadi seperti ini kalau bukan karena ibu juga yang membesarkan dan mendidik kami. Ibu harus selalu ceria karena sudah ada dua cucumu -Kenzie dan Abyasa- yang kini hadir menemanimu setiap hari.

Salam cinta dari putramu yang paling bungsu, Danang Firmanto