Tags

, , ,


Oleh Danang Firmanto

Kampung halaman identik dengan suasana pedesaan yang masih asri. Banyak pepohonan rimbun yang berjejer memadati sepanjang jalan. Kemacetan pun hampir tidak terlihat di ruas-ruas jalan. Bahkan ketika esok pagi sinar matahari hanya mampu bersinar hangat menembus celah ranting-ranting pohon. Kekhasan yang tak boleh terlewatkan adalah sawah yang membentang berhektar-hektar yang menjadi tumpuhan ekonomi masyarakat kampung halaman.

Persawahan di Bantul, DIY

Persawahan di Bantul, DIY

Siapa sangka? Ditengah ribuan tanaman padi yang tumbuh subur terdapat suatu kegalauan ekonomi yang nyata. Adalah petani yang memiliki peran besar sebagai penyumbang sektor pangan bangsa, ternyata menyimpan duka. Harusnya mereka kaya dan sejahtera. Namun kondisi yang saya lihat di daerah Bantul, Yogyakarta tampak jelas bahwa mereka masih belum sejahtera. Tingginya biaya operasional dari persiapan lahan hingga pascapanen tidak sebanding dengan hasil panen yang mereka peroleh. Belum lagi jika cuaca buruk menerpa dan hama yang membabi buta tanaman mereka.

Kondisi Nyata Petani

Kamis pagi, 20 Februari 2014, saya menyempatkan berdialog langsung dengan salah seorang petani di wilayah Bantul, DIY. Yakni Widimulyono (64) yang menjelaskan matematis sederhana mengenai perhitungan keuntungan yang ia dapatkan menjadi seorang petani. Dari satu petak lahan sekitar 1200 meter persegi akan menghasilkan kurang lebih 5 kwintal gabah dengan kualitas baik. Akan tetapi setelah gabah itu dijemur dan digiling, menjadi 3,5 kwintal atau sekitar 350 kilogram beras. Perlu diketahui bahwa diperlukan waktu selama 4 bulan untuk menghasilkan padi kualitas unggul. Tentunya dengan pemeliharaan yang optimal, jauh dari gangguan hama, dan cuaca yang mendukung agar kualitas padi terjamin.

Dari luas lahan pertanian 1200 meter persegi tersebut menelan biaya operasional sedikitnya 600.000 rupiah per satu kali panen. Pengolahan tanah dengan cara membajak menggunakan traktor menghabiskan paling tidak 100.000 rupiah. Pada masa tanam, biaya yang dibutuhkan sekitar 140.000 rupiah untuk upah 7 orang buruh tanam. Untuk pupuknya sendiri menghabiskan 150.000 hingga 200.000 rupiah. Belum lagi saat masa panen, buruh panen diberikan upah 25.000 rupiah dan biasanya terdiri dari tiga orang buruh. Itu pun belum termasuk biaya yang bersifat insidental jika tanaman mendadak terserang hama.

Lalu bagaimana dengan harga beras saat ini? Di wilayah Bantul, harga beras di pasaran kisaran 8.000 rupiah per kilogram. Jika dihitung dari total 350 kilogram beras yang dihasilkan maka seorang petani akan mendapatkan keuntungan sebesar 2.800.000 rupiah. Itu keuntungan kotor untuk satu kali masa panen selama 4 bulan dengan kualitas terbaik. Keuntungan bersih yang mereka peroleh hanya sebesar 2.200.000 rupiah, sehingga per bulan mereka hanya mengantongi uang 550.000 rupiah saja. Untuk petani yang memiliki dua lahan pertanian tentunya akan memperoleh keuntungan sebesar 1.100.000 tiap bulan. Ironis bukan? Indonesia sebagai negara agraris namun kesejahteraan petani masih dipertanyakan.

Para petani umumnya menjual hasil panennya bisa setengah dari total hasil panen mereka, sisanya untuk konsumsi sehari-hari. Parahnya, mereka menjual hasil itu kepada tengkulak yang mematok harga di bawah harga pasaran. Praktik tengkulak ini terus berlangsung sebab petani tidak memiliki akses pasar untuk menjual hasil panennya dengan harga normal. Masalah akan bertambah lagi jika cuaca ekstrim seperti kemarau berkepanjangan atau musim hujan yang datang berlarut-larut. Otomatis hasil panen mereka tidak optimal bahkan sering kita dengar di beberapa wilayah di Indonesia mengalami gagal panen.

Petani ibarat kendaraan yang dipaksa terus-menerus berkendara dengan pengendara yang terus silih berganti. Banyak pihak yang justru mendapatkan keuntungan lebih dibanding petani sebagai produsen beras nasional. Misalnya tengkulak yang tak bergelut langsung memelihara tanaman padi. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisih hasil panen yang mereka jual kepada konsumen dengan harga panen yang dibeli langsung dari petani. Kemudian pengusaha warung makan pun ikut merasakan keuntungan yang jauh lebih besar dari jerih payah petani. Apalagi kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah semakin menyulitkan kondisi petani dalam negeri. Impor beras secara tidak langsung mematikan harga beras dalam negeri. Padahal jika dilihat dari kualitas, produksi beras kita tak kalah bersaing dengan produksi beras luar negeri.

Upaya Pemerintah

Pemerintah harus tanggap untuk mengatasi persoalan ini. Subsidi pupuk, bibit, bahkan hibah peralatan pertanian tampaknya langkah yang harus ditempuh pemerintah segera. Sebagai contoh pemerintah bisa menghibahkan beberapa traktor untuk daerah dengan mayoritas penduduknya bermata percaharian petani. Fungsinya agar para petani dapat mengoperasikan alat tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya. Sedangkan untuk biaya pemeliharaan bisa diambil dari kas desa secara proporsional.

Langkah selanjutnya bisa melakukan revitalisasi lumbung padi sebagai basis produsen padi nasional. Seperti di wilayah Bantul yang mayoritas penduduknya bertani, bisa saja dijadikan salah satu lumbung padi nasional sebagai penyokong pangan nasional. Petani akan semakin diperhatikan ketika langkah tersebut ditempuh. Di Pulau Jawa sendiri mayoritas daerahnya sangat potensial untuk kegiatan pertanian. Berapa ribu petani yang akan lebih sejahtera jika pemerintah mau memperhatikan nasib mereka? Langkah ini juga akan menghapus kebijakan impor beras yang selama ini dilakukan pemerintah.

Terkait harga beras yang fluktuatif, pemerintah bisa melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga beras nasional. Fungsinya adalah untuk melindungi petani dari oknum nakal yang kerap kali menjadi dalang penentuan harga beras di pasaran. Kenaikan harga beras biasanya dipengaruhi berbagai macam faktor termasuk kenaikan ongkos produksi padi. Untuk itu dengan berbagai upaya pemerintah salah satunya dengan memberikan subsidi di bidang pertanian, saya yakin nasib petani Indonesia perlahan membaik.

Sebagai generasi muda, mari kita bersama-sama meneladani para petani kita. Menghargai perjuangan mereka sebagai pahlawan pangan negara. Harapan saya lima hingga sepuluh tahun kedepan, kampung halaman yang didominasi para petani akan semakin memesona. Bahkan julukan Indonesia sebagai negara agraris bukan sebuah keraguan lagi.