Tags

, ,


Oleh Danang Firmanto

Suguhan Panorama Eksotis

Suguhan Panorama Eksotis

Saya pernah beberapa kali berkunjung dan mengamati daerah Metropolitan di Indonesia. Kemudian membandingkan dengan kampung halaman saya yang masih tradisional. Anda tahu apa yang membuat keduanya berbeda? Masalah fasilitas, bangunan, dan transportasi jelas terlihat perbedaan yang mencolok. Namun bukan itu yang menggelitik di pikiran saya. Perbedaan yang tak kasat mata adalah persoalan apa dan siapa. Tidak main-main, sebab menyangkut mind set masyarakat perkotaan dengan pedesaan hingga saat ini.

.

Satu pertanyaan yang menggambarkan kesenjangan antara masyarakat di kota dengan kampung halaman adalah, hari ini mau makan ‘siapa atau apa’? Di kampung saya, Bantul, apa saja bisa dimakan asal tidak beracun. Bonggol pisang pun sekarang sudah jadi keripik yang lezat. Apalagi jantung pisangnya, bisa jadi olahan sayur yang istimewa. Masyarakat desa memang lebih humanis dengan guyonan apa lagi yang bisa dimakan? Bukan siapa lagi yang bisa dimakan?

IMG_1315.

Pola pikir yang terbentuk dan mendarah daging bagi masyarakat kampung halaman akan membentuk mental yang kuat. Satu pertanyaan lagi yang menggerus masyarakat perkotaan, siapa lagi yang bisa dijual? Sebaliknya di kampung halaman dengan kondusifitas alam serta masyarakatnya tentu akan bertanya, apa lagi yang bisa dijual? Di sini kita lihat ada perbedaan yang kental antara subyek dengan obyek. Obyek yang dimaksud dalam ranah kampung halaman yaitu hasil-hasil bumi yang melimpah ruah yang bisa diperjualbelikan untuk kehidupan masyarakat. Bukan malah subyek yang mengarah pada perdagangan manusia yang kini marak terjadi di kota besar.

.

Nuansa perputaran roda perekonomian di kampung halaman menyuguhkan sisi uniknya. Kebanyakan profesi yang disandang masyarakatnya secara matematis tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Sebab, penghasilan seorang petani atau buruh sudah pasti tidak sejalan dengan pepatah banyak anak banyak rejeki. Padahal jika kita mau melihat lebih detail, anggota keluarga dalam satu rumah sederhana bisa mencapai tujuh bahkan lebih. Ini yang saya amati ketika mendapati orang tua yang memiliki anak lebih dari tiga. Belum lagi jika kakek dan nenek mereka tinggal serumah. Lalu mereka makan apa sehari-hari?

Sun rise

Sun rise

.

Pernah mendengar seorang tukang becak bisa menyekolahkan buah hatinya hingga sarjana? Atau seorang buruh tani, proyek bangunan, bisa melihat putra-putrinya diwisuda dengan prestasi yang membanggakan? Itu sering dialami pada masyarakat pedesaan. Pasalnya, mereka memiliki daya juang tinggi untuk bangkit. Soal makan dan keperluan sehari-hari bukan jadi halangan. Banyak sekali kekayaan melimpah yang bisa dijual. Untuk bayar biaya kuliah tak jarang orang tua menjual hewan ternak seperti ayam, kambing, sapi, dll. Bahkan pepohonan pun tak luput ikut andil demi pendidikan sang anak. Sering saya mendengar orang di desa yang menjual pohon kelapa, jati, untuk kebutuhan biaya pendidikan. Selalu ada rasa nerima ing pandum (menerima keadaan) yang membuat mereka bertahan.

.

Masyarakat kampung halaman ternyata masih mengenal istilah barter. Mereka menukarkan barang untuk mendapatkan barang tertentu yang menjadi kebutuhan. Seorang yang mempunyai hasil panen padi, kerap kali menukarkan berasnya dengan sayur atau lauk. Sering juga menukarkan hasil kebun seperti pisang atau rambutan dengan kebutuhan lain yang diinginkan. Uniknya, mereka sama sekali tidak merasa dirugikan. Ini bisa terjadi karena rasa kekeluargaan pada masyarakat kampung masih melekat erat.

.

Kampung halaman memang terkesan kuno dan jauh dari fasilitas memadai. Namun jangan salah, di sini masih ada perputaran perekonomian dan nilai-nilai yang lebih agung dibanding masyarakat metropolitan. Apakah Anda kenal dengan tetangga yang jaraknya beratus-ratus meter dari rumah Anda? Inilah salah satu tolok ukur seberapa kuat pola pikir komunal masyarakat kampung halaman. [dF]