Oleh Danang Firmanto

Duduk di bangku sekolah dengan sistem pembelajaran konvensional-bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa-selama 12 tahun, ternyata tidak efektif bagi perkembangan siswa. Itulah yang dulu saya rasakan ketika menjadi siswa. Saya dituntut harus menelan banyaknya mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan dengan pembelajaran monoton. Mendengarkan guru menjelaskan, bertanya, mengerjakan tugas, lalu ujian. Sistem tersebut membatasi gerak seorang siswa untuk memiliki akses teknologi pembelajaran yang menarik. Hasilnya, siswa menjadi jenuh bahkan cenderung stres dengan pola pembelajaran seperti itu.

.

Waktu belajar di sekolah pun semakin meningkat dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Pada tingkat SD kelas satu, siswa umumnya mulai masuk kegiatan belajar mengajar dari pukul tujuh hingga sepuluh pagi. Peningkatan tersebut saya alami ketika sudah menginjak bangku SMA. Pembelajaran dari jam tujuh pagi bisa berakhir pukul tiga sore ditambah dengan kegiatan les dan ektrakurikuler. Hal tersebut semakin menekan kondisi psikologis siswa.

.

Saat ini dunia pendidikan semakin maju dengan munculnya produk teknologi pendidikan yang mendukung proses pembelajaran di sekolah. Salah satunya adalah Electronic Learning (E-Learning). Menurut pakar e-learning, William Horton (2003) dalam bukunya Technology and Tools for E-Learning mendefinisikan e-learning sebagai segala pemanfaatan atau penggunaan teknologi internet dan web untuk menciptakan pengalaman belajar. Bisa disederhanakan menjadi segala bentuk pemanfaatan teknologi yang berbasis internet untuk mendukung proses pembelajaran, seperti di sekolah. Menarik bukan?

.

Pembelajaran berbasis e-learning ini memiliki beberapa jenis. Diantaranya pembelajaran mandiri berbasis e-learning, pembelajaran konvensional berbasis e-learning, pembelajaran kombinasi berbasis e-learning, fast respons e-learning, dan bimbingan pelatihan berbasis e-learning. Kelima jenis e-learning tersebut memiliki peranan sangat penting bagi perkembangan siswa selama masa studi di sekolah. Siswa dan guru menjadi melek teknologi. Tingkat kejenuhan dalam pembelajaran pun dapat ditekan. Hasilnya tentu lebih efektif dan efisien sebagai pendukung proses pembelajaran, tanpa mengurangi peran guru dalam mendidik siswa secara langsung di sekolah.

.

Pembelajaran mandiri bisa dilakukan dengan cara guru mengunggah berbagai materi dengan memanfaatkan jaringan internet. Misalnya membuat blog kemudian mem-posting berbagai materi pembelajaran ke dalam situs tersebut. Seorang guru bisa dengan cepat menginformasikan materi tersebut kepada ketua kelas atau mengumumkan secara lisan di kelas. Siswa dapat dengan mudah mambaca materi melalui internet tanpa harus bertatap muka secara langsung. Selain efektif, cara seperti itu akan meningkatkan pemaanfaatan teknologi yang tepat bagi guru dan siswa.

.

Pembelajaran konvensional berbasis e-learning juga bisa dilakukan. Cara yang sederhana adalah meminta siswa untuk membuat akun blog. Blog tersebut nantinya bisa berisi tugas-tugas yang sudah dikerjakan siswa dan diunggah ke masing-masing blog siswa. Cara lain yang lebih sederhana adalah membuat akun electronic mail (e-mail). Akun tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk proses pembelajaran, pengiriman materi, dan tugas antar guru dan siswa. Siswa dapat secara langsung menerima respon dari guru melalui e-mail. Bahkan tanya jawab dalam bentuk chatting melalui e-mail akan mata pelajaran atau tugas yang dikerjakan.

.

Pembelajaran kombinasi adalah memadukan antara pembelajaran konvensional dengan mandiri. Bentuk pemanfaatan internet yang bisa dilakukan misalnya membentuk kelompok diskusi online. Seperti membentuk akun facebook yang tertutup khusus untuk guru dan siswa. Di dalam akun tersebut, bisa saling mengutarakan pendapat bagi para siswa. Kemudian guru bisa merespon dalam bentuk komentar-komentar yang dapat dibaca semua anggota kelompok diskusi. Saya yakin metode pembelajaran seperti ini sangat menarik untuk diterapkan.

.

Kemudian pembelajaran fast respon e-learning bisa dilakukan dengan menghubungkan ponsel ke dalam jaringan internet. Saat ini hampir semua jenis ponsel bisa terkoneksi internet dengan harga yang terjangkau. Guru dan siswa bisa saja membentuk WhatsApp Group atau jejaring sosial menarik lainnya. Anggotanya tentu hanya guru dan siswa didik. Di dalam grup tersebut akan secara otomatis diketahui jika seorang siswa mengirimkan pesan tertentu. Seorang guru bisa dengan cepat memberikan tanggapan yang jelas terhadap siswa terkait topik yang ingin didiskusikan.

.

Terakhir adalah bimbingan dan pelatihan berbasis e-learning. Guru bisa membuat sebuah media pembelajaran interaktif yang berisi tutorial atau pelatihan ketrampilan tertentu kepada siswa. Media pembelajaran tersebut bisa diunggah ke dalam berbagai situs yang bisa di unduh semua siswa secara gratis. Bahkan guru bisa membuat video pembelajaran yang menarik dan bisa di download siswa. Dengan menerapkan beberapa metode pembelajaran berbasis internet tersebut, saya yakin kemajuan sistem pendidikan di Indonesia bisa terwujud. Tunggu apalagi, kalau ada e-learning kenapa tidak?