Oleh Danang Firmanto

Klaim warisan budaya Indonesia oleh negeri jiran beberapa waktu lalu merupakan tamparan tersendiri bagi bangsa ini, kata Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Regional Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, Nurmatias. (http://oase.kompas.com)

Pernyataan di atas dapat penulis perjelas dengan beberapa contoh warisan budaya Indonesia yang diklaim negara tetangga. Masih ingatkah kita dengan lagu Rasa Sayange dari Maluku, tari Reog Ponorogo, motif batik parang dari Yogyakarta, bahkan alat musik angklung dari Jawa Barat pun pernah diklaim negeri jiran. Belum lagi artefak berupa naskah-naskah kuno dari Sumatra dan Sulawesi turut diklaim, juga kuliner khas Indonesia.

Penyebab klaim warisan budaya itu salah satunya arus globalisasi yang tak bisa kita bendung. Banyak sekali budaya asing yang masuk ke Indonesia melewati arus globalisasi. Salah satunya di dunia kesenian modern. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan boyband dan girlband dari luar negeri yang mampu membius jutaan generasi muda Indonesia. Tanpa disadari, generasi muda kita menjadi acuh terhadap kesenian-kesenian asli daerah yang begitu banyak. Bahkan malu dan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang luhur. Hal itu menjadi penyebab banyaknya budaya kita yang diklaim negara lain.

Untuk menguatkan identitas bangsa ditengah arus globalisasi, penulis memiliki gagasan solutif. Yakni dengan visualisasi nilai-nilai Pancasila secara konkret dalam kehidupan sehari-hari melalui koneksi sosial media. Artinya, penulis mencoba menguraikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila untuk kemudian divisualisasikan secara nyata dalam bentuk budaya yang dihasilkan bangsa Indonesia. Visualisasi tersebut harus disesuaikan dengan kelima sila dalam Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Memiliki pemahaman adanya Tuhan, menjamin warga negara untuk memeluk agama sesuai keyakinan masing-masing, serta menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Bisa kita visualisasikan dalam bentuk perayaan hari raya masing-masing agama yang diakui di Indonesia. Kemudian dialog antaragama yang bersifat konstruktif demi kesatuan bangsa. Selain itu budaya dari masing-masing daerah yang syarat dengan nuansa relijius, seperti Sekaten di Kraton Yogyakarta dan Solo atau wayang yang syarat makna agama.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Mampu menempatkan manusia sesuai hak dan kewajibannya, menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta memandang sama terhadap semua individu dengan kedudukannya dihadapan hukum. Ini bisa divisualisasikan dalam bentuk kisah-kisah kesetaraan gender seorang wanita terhadap pria, misalnya seorang wanita yang bekerja dan memiliki jabatan tinggi layaknya pria. Atau kinerja Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dalam menjunjung tinggi HAM setiap warga negara Indonesia.

Persatuan Indonesia

Memiliki rasa nasionalis, cinta tanah air, mampu menggalang persatuan dan kesatuan, menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan. Ini bisa kita visualisasikan melalui budaya gotong royong yang sudah lama terjalin di masyarakat kita. Kalau kita hidup ditengah-tengah masyarakat desa, tradisi gotong royong tersebut masih sangat kental kita rasakan. Budaya Indonesia juga syarat akan aspek kebersamaan (gotong royong), seperti tradisi pindah rumah, dan Labuhan di pantai Parangtritis.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Esensi dari sila ini adalah demokrasi. Sedangkan permusyawaratan memiliki makna mengusahakan setiap putusan dilakukan secara musyawarah mufakat bersama. Dapat divisualisasikan dalam bentuk pemilihan umum baik di tingkat desa hingga skala nasional untuk memilih presiden dan wakilnya. Seperti halnya setiap suku di Indonesia tentunya memiliki kepala suku yang mencerminkan sikap bijaksana dan mengedepankan musyawarah mufakat.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Mengandung pemahaman bahwa kemakmuran harus merata bagi seluruh rakyat Indonesia, seluruh kekayaan alam dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, dan sikap melindungi kelompok kecil. Bisa divisualisasikan dalam wujud budaya berbagi yang masih turun temurun di masyarakat pedesaan, kisah pemimpin negeri seperti Soekarno yang berusaha melawan penjajah untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi warna negara Indonesia.

Setelah memvisualisasikan kelima bentuk nilai-nilai pancasila di atas, langkah selanjutnya adalah menampung kelima bentuk visualisasi tersebut ke dalam wadah yang kita kenal sebagai jejaring media sosial. Adalah memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, twitter, youtube, bahkan media masa seperti televisi untuk melakukan kampanye budaya dari masing-masing daerah, yang diambil dari hasil visualisasi pancasila. Bentuknya bisa dengan mengunggah video budaya seperti Labuhan, Reog Ponorogo, Musyawarah Adat di daerah tertentu, gotong royong dalam masyarakat desa dan memberikan siaran televise secara kontinyu khusus menayangkan budaya asli Indonesia.

Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya. Menjadi penguat identitas bangsa ditengah arus globalisas. Sebagai bentuk kampanye budaya agar tidak ada lagi negara yang berani mengklaim budaya asli Indonesia. Selain itu juga sebagai wujud multikulturalisme bangsa Indonesia.

Peran jejaring media sosial dalam komunitas global sangatlah signifikan. Media berfungsi sebagai jembatan informasi yang bisa diakses secara luas. Media yang akhir-akhir ini hanya memberitakan sisi buruk dari Indonesia seperti tawuran, konflik suku, korupsi, dan kriminalitas harus mampu dikurangi. Alasannya karena media yang kerap memberitakan sisi buruk Indonesia, justru akan semakin membentuk stereotip buruk masyarakat terhadap kondisi Indonesia sesuai yang diberitakan.

Dengan demikian, melalui medialah budaya kita bisa dikenal secara luas di dunia internasional. Selain itu, berkat media pula kita sebagai generasi muda bisa menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya penguatan identitas bangsa dalam komunitas global dan multikultural. Semoga!