Tags

, ,


Ditulis oleh Danang Firmanto

Cucu keempat dari almarhumah Guyub Mitro Wiyono (1919-2010)

 

Anda pernah mendengar istilah Nyewu? Kalau belum, datanglah ke Jogja, dan tanyakan istilah ini kepada salah seorang yang Kalian anggap tahu. Orang tua misalnya, atau simbah-simbah. Saya yakin, Anda akan dapat jawaban yang cukup membuat kening Anda berkerut penasaran.

Kali ini saya akan menceritakan sekilas istilah nyewu yang akrab di telinga masyarakat Jogja. Nyewu menurut saya merupakan peringatan meninggalnya seseorang yang sudah memasuki hari keseribu. Terhitung setelah orang tersebut meninggal hingga 1000 hari pascameninggal. Dalam Bahasa Jawa nyewu berasal dari kata sewu yang artinya seribu.

Begitu juga di keluarga saya. Kemarin, Jumat Kliwon, 15 Februari 2013 kami melangsungkan tradisi nyewu. Kami peringati ini atas meninggalnya almarhumah Guyub Mitro Wiyono, nenek saya. Beliau meninggal pada Minggu Legi, 23 Mei 2010 lalu.

Sebelum penyembelihan kambing

Tradisi nyewu berlangsung dalam serangakian acara. Diawali dengan penyembelihan satu ekor kambing yang dilakukan oleh sesepuh desa kami. Saya tidak tahu persis alasan dilakukan penyembelihan kambing pada tradisi nyewu. Tetapi saya memaknai hal ini sebagai wujud rasa kebersamaan dan ucapan terima kasih kepada semua yang telah mendoakan nenek saya. Serta rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang dan rejeki yang dilimpahkan kepada kami. Selain itu juga sebagai sedekah kepada warga sekitar.

Penyembelihan kambing

Acara kedua dilanjutkan dengan pemasangan kijing pada makam nenek saya. Kijing merupakan sejenis batu nisan yang terbuat dari batu hitam yang dipahat menyerupai bentuk bangun trapesium yang padat. Dulu sebelum nenek saya meninggal, sempat berpesan untuk dibuatkan kijing di atas makamnya jika sudah 1000 hari setelah meninggal. Saya pun tidak tahu pasti makna dari pemasangan kijing itu. Mungkin hanya sebuah kebudayaan jaman dahulu yang masih melekat hingga sekarang. Mungkin juga sebagai pertanda makam seseorang yang sudah meninggal.

Perjalanan menuju makamPemasangan kijing disaksikan oleh beberapa tetangga saya. Pemasangan tesebut juga dipimpin oleh sesepuh desa kami. Dilakukan doa bersama terlebih dahulu sebelum meletakkan maijan –dua pahatan batu kecil berbentuk persegi – di sisi kanan dan kiri atas kijing. Setelah meletakkan maijan,  baru kami taburkan bunga di atas kijing dan di makam sekitar makam nenek saya. Dibenak saya, terlintas masa lalu yang mengingatkan saya akan nenek saya semasa hidup.

Suasana di pemakaman

Suasana di pemakaman

Inilah hidup. Waktu akan terus berlalu, setiap manusia yang hidup akan mengalami hal seperti ini. Tinggal berusaha menjadikan hidup kita berkah, agar mendapat kemuliaan di hari kemudian.

 

 

Bersama ayahku

Bersama ayahku

Sore harinya dilakukan tahlilan atau doa bersama dengan mengundang warga sekitar. Dalam tahlilan ini, juga dipimpin oleh sesepuh desa kami. Acara tahlilan ini merupakan acara terakhir dari tradisi nyewu di desa kami. Di akhir doa bersama, dibagikan berkat yang berisi bahan-bahan pokok seperti gula, beras, mie instan, dll, kepada tetangga yang hadir.  Ini sebagai wujud tali kasih kepada tetangga sekitar rumah saya. Tak lupa diberikan uang seribu sebagai wajib (istilah jawanya) yang dibungkus amplop tertutup dan dimasukkan ke dalam berkat tersebut.

Kenduri

Kenduri

Selamat jalan Nek.. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu. Semoga Allah memberikan tempat terindah untukmu. Aamiin..