Oleh: Danang Firmanto

DafiRutinitasku berangkat dan pulang kuliah dengan bus memberikan banyak pengalaman hidup. Saya mengenal banyak orang baru yang tidak saya kenal sebelumnya. Mereka dari berbagai desa, usia, dan kepentingan yang berbeda pula. Kami membaur dalam satu angkutan kota. Sering saya tak mendapatkan tempat duduk, bahkan sering berdesak. Penat dan berkeringat! Tetapi, saya tetap bertahan dan memaknai ini sebagai perjuangan hidup. Perjuangan untuk kemenangan di esok hari.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang sama di dalam bus yang saya tumpangi. Hingga saya mulai hafal rutinitas mereka. Ada simbok-simbok pedagang di pasar tradisional di daerah Bantul, Yogyakarta. Ada segerombolan palajar yang turut memadati bus. Juga ada mahasiswa sepertiku yang satu bus denganku.

Begitu juga dengan pengamen bus jalur 2 yang selalu saya lihat, dan dengar suara seraknya menyanyikan lagu lawas sambil memainkan gitar. Pria yang sederhana menurutku. Baju yang ia kenakan, kusam. Hanya mengendarai vespa dan menenteng gitar lusuhnya setiap hari. Pria itulah yang menginspirasiku untuk tetap semangat berjuang melawan kerasnya hidup.

ugm

Belum lama saya tahu namanya. Adalah Hann, nama itu yang sempat saya dengar dari seorang kondektur bus jalur 2 Jogja yang memanggil pengamen itu. Hann berwajah tegas, dengan lengan bertato tetapi sering ia tutupi dengan mengenakan kaos lengan panjang. Orang ketika pertama kali melihatnya pasti mempunyai stereotip negatif terhadap Hann. Begitu juga denganku.

Di suatu pagi, saya berangkat kuliah dengan menumpangi bus. Saya menumpangi dua bus untuk bisa sampai ke kampus. Bus pertama yang saya tumpangi cukup penuh, saya putuskan duduk di belakang. Di sela-sela kursi yang masih kosong. Pagi itu adalah kali pertama saya duduk disamping Hann. Tidak disangka. Kami bertemu di bus yang melaju ke arah kota Jogja. Dalam hati bertanya-tanya, ini pengamen yang aku lihat atau bukan.

Hann justru yang menyapa saya lebih dulu. Saya sedikit heran, Hann ternyata ramah serta bersahabat. Dari situlah ada banyak kisah yang saya gali dari kehidupan Hann sebagai pengamen bus. Dari latar belakang kehidupannya hingga kesibukannya sehari-hari selama tinggal di daerah Srandakan, Kab. Bantul, DIY. Juga komuter yang ia jalani.

Di dalam bus yang kami tumpangi, banyak cerita yang saya dapatkan dari Hann. Hann adalah pemuda perantauan dari Jambi. Dia sudah delapan tahun hidup di Jogja bersama kawan-kawan seperantauan. Dia bukan sekadar anak rantau, melainkan mempunyai keahlian dibidang otomotif. Kadang saya melihat dia sedang mengotak-atik vespa satu-satunya, ketika saya pulang kuliah. Dalam kisahnya ia pernah mendapat bantuan seperangkat peralatan bengkel dari pemerintah. Juga disediakan lahan untuk membuka bengkel bersama kawannya. Tapi menurut Hann, lokasi yang disediakan tidak strategis. Bengkel itu tidak bertahan lama. Kondisi ekonomi membuatnya rela menjual alat-alat bengkel untuk kebutuhan hidup mereka.

Di Jogja sendiri, Hann mempunyai komunitas pecinta vespa. Saya sempat ditunjukkan tempat berkumpulnya komunitas tersebut. Kesan pertama yang saya tangkap dari komunitas vespa adalah vespa tua dan unik. Cukup membuat saya tertarik. Di tempat itu dipajang belasan vespa dengan modifikasi unik. Semakin membuat saya kagum. Dia bukan hanya pengamen bus. Di dalam diri Hann menyimpan berjuta kisah inspiratif. Yang tidak pernah disangka sebelumnya.

Hann bercerita panjang lebar. Ia menceritakan teman-temannya yang juga sebagai pengamen. Ada beberapa temannya yang sering mabuk-mabukan. Bahkan hafal dengan para pencopet di dalam bus di Jogja. Hann mengajakku berdiskusi selama kami menumpangi bus. Saya salut kepadanya, dia tidak termasuk orang-orang seperti itu. Dia masih tahu aturan dan norma.

Hann memiliki banyak teman di berbagai wilayah di Indonesia. Seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan luar Pulau Jawa. Sudah seperti komunitas yang sangat kuat. Terintegrasi kuat, serta saling menjaga komunikasi antarwilayah. Bisa dikatakan memiliki jaringan yang kuat yang saling mendukung. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya seorang pengamen memiliki jaringan yang cukup luas di berbagai wilayah.

Saya sempat tidak percaya akan kekuatan jaringan yang sudah terbentuk diantara mereka. Ketika itu, salah seorang anggota komunitasnya mengalami permasalahan. Hann bersama komunitasnya turut membantu menyelesaikan masalah tersebut. Bahkan kawan-kawannya dari berbagai daerah datang berombongan dengan kereta. Hanya untuk satu teman yang sedang mengalami masalah. Begitu kompak dan penuh rasa senasib sepenanggungan yang mereka tunjukkan. Tidak ada rasa egoisme. Egaliter yang sudah terbentuk sekian tahun, semakin membuktikan bahwa persatuan itu indah dibanding perpecahan.

Hann tetap berjuang sebagai perantau. Mengamen dan bekerja apa adanya. Kesetiaan dan rasa kasih sayang kepada saudaranya membuat Hann harus membiayai adik-adiknya yang masih sekolah. Dia pernah bekerja sebagai penjaga rumah di daerah Jogja. Sekarang pekerjaan itu masih ia tekuni sambil menyalurkan kemampuan bermusiknya dengan mengamen di dalam bus kota. Setiap hari ia berangkat dari Srandakan ke Jogja. Kerap menggunakan vespanya, lalu ia parkir di dekat rumah yang ia jaga. Terharu saya mendengarkan kisah Hann.

Masih ada orang seperti Hann yang rela merantau untuk menghidupi adik-adiknya yang masih berjuang menempuh pendidikan. Dia berkeinginan agar adiknya jauh lebih mapan darinya. Bisa membanggakan keluarga dan bangsa.

Hann sempat bertutur, pengorbanan hidupnya ia dedikasikan untuk saudara-saudaranya agar dapat menempuh pendidikan. Hidup itu benar-benar perjuangan. Bagi anak perantau seperti Hann, harus siap dengan segala risiko. Risiko penolakan menjadi warga baru di lingkungan masyarakat. Adaptasi dengan budaya dan lingkungan baru. Juga risiko menghadapi persaingan hidup sesama perantau. Namun ia berhasil menghadapi risiko yang muncul. Terbukti delapan tahun Hann hidup di tanah Jogja. Dia mampu menyesuaikan sifat dan perilakunya terhadap masyarakat.

Selain komunitas yang telah terbentuk bersama kawan rantauannya, Hann juga tergabung dalam sebuah sanggar kreatif. Ketika saya bertanya, Hann menyebutkan nama sanggar itu. Yakni Sanggar Taring Padi. Sanggar yang beranggotakan para pemuda dan juga para rantauan seperti Hann. Sanggar itu terletak di daerah Srandakan. Sepertinya juga menjadi tempat tinggal Hann dalam kesehariannya. Tentu bersama penduduk sekitar dan berbaur menjadi satu kesatuan warga masyarakat Srandakan.

Nama sanggar itu cukup unik. Setelah saya tanya, nama Taring Padi diambil karena lokasi sanggar yang berada di dekat persawahan yang identik dengan hasil panen padi. Banyak pemuda yang bergabung di dalam sanggar itu. Karena saya yakin, pasti ada sesuatu hal yang menarik di dalamnya.

Sanggar Taring Padi adalah sebuah paguyuban yang berisi anak-anak rantauan juga masyarakat sekitar yang mempunyai tujuan sama yaitu mengeksplorasi kreatifitas. Hann bercerita kepadaku bahwa di dalam sanggar itu banyak kegiatan positif. Sanggar Taring Padi menghasilkan kreatifitas dalam bentuk kerajinan, pernak pernik yang dibuat oleh para anak perantauan dan masyarakat sekitar.

Hann membuktikan, bahwa ia bukan semata anak rantau, tapi juga punya kreatifitas dan daya juang tinggi. Meski ia sekarang menjadi pengamen, akan tetapi perjuangan hidupnya patut kita beri apresiasi. Bagaimanapun juga, perantau masih satu saudara sebangsa dan setanah air dengan kita.

Hidup memang keras, terkadang kita harus menempuhnya dengan keras pula. Yaitu dengan perjuangan sekuat tenaga agar kita dapat bertahan. Dapat tetap tersenyum ditengah pengorbanan kita dalam kehidupan. Seperti tercermin dari kisah Hann. Maka tidak ada alasan buat kita untuk menyerah pada hidup.

Begitulah cerita singkat dari Hann, semoga menginspirasi kawan-kawan semua. Tetap jaga kehormatan diri untuk bangsa yang lebih baik. Semoga!