By: Danang Firmanto

Mengaku saudara sesama muslim tetapi tidak saling sapa saat bertemu. Bahkan terkadang menghindar saat bertemu saudara atau orang lain yang kita kenal. Perilaku demikian sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang menjunjung tinggi persaudaraan. Ironis memang, fenomena ini terjadi dalam masyarakat yang sebagian besar memeluk agama Islam. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi di Indonesia? Bagaimana bisa masyarakat madani tercapai dalam kondisi demikian?

Persaudaraan secara lisan mudah diucapkan, tetapi pada sikap dan perilaku sulit diwujudkan. Faktanya, seringkali persaudaraan kembali muncul pada momen-momen tertentu. Misalnya, ketika bulan puasa sebagian besar kaum muslim di Indonesia terfokus pada pencarian pahala dan memperbanyak amal shaleh. Salah satu bentuknya ialah mempererat tali persaudaraan dengan saling memberi, bersedekah kepada fakir miskin dan saling menolong. Tidak heran jika muncul anggapan, kesejahteraan masyarakat khususnya di Indonesia tercapai saat kondisi keimanan masyarakatnya tinggi. Tetapi selepas bulan puasa, fenomena itu menghilang ditelan waktu. Masyarakat kembali pada posisi semula, dengan kesibukan masing-masing. Rasa kepedulian pun terkikis dan menjadi pribadi yang egois.

Fakta kedua, persaudaraan justru timbul disaat masyarakat dalam kondisi sulit. Ini yang sering terjadi di negara kita, contohnya ketika masyarakat mengalami bencana, tali persaudaraan kembali kokoh. Berbagai pihak bahu-membahu saling membantu kepada masyarakat yang sedang dalam kesulitan. Bahkan, ada juga yang unjuk perhatian sehingga terkesan pamer dalam memberikan bantuan. Tidak salah, tetapi alangkah indahnya jika perhatian itu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Bukan pada momen tertentu, melainkan kontinuitas guna menciptakan masyarakat madani.

Dalam kajian ilmu sosiologi, persaudaraan akan muncul manakala memiliki kepentingan dan tujuan yang sama. Seperti terlihat pada tipe hubungan yang bercorak geselleschaft. Suatu kelompok akan tetap menjaga persaudaraan dan hubungan yang erat sebelum tujuan kelompok tersebut tercapai. Setelah tujuan tercapai semakin lama rasa persaudaraan memudar. Demikian yang terjadi dalam masyarakat kita khususnya pada kelompok-kelompok kepentingan. Berbeda halnya dengan corak hubungan gemeinschaft. Meskipun telah berhasil mencapai tujuan dan kepentingan, rasa persaudaraan tetap akan terjalin antar individu.

Dalam konsep Islam, persaudaraan tidak mengenal adanya pemisahan kelas maupun kasta. Tidak ada perbedaan dalam memilih saudara. Entah dari ras, agama, budaya, ataupun daerah semuanya sama. Ada salah satu hadist yang mengungkap keutamaan menjalin persaudaraan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya yang berada di desa lain. Allah mengirim Malaikat di perjalanannya. Ketika berjumpa dengannya, Malaikat tersebut bertanya, ’Anda mau ke mana?’ Ia menjawab, ‘Saya ingin mengunjungi saudaraku yang ada di desa ini.’

Malaikat bertanya, ‘Apakah ada kenikmatan yang Anda inginkan?’ Ia menjawab, ‘Tidak, hanya saja saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat tersebut berkata, ‘Saya adalah utusan Allah kepadamu untuk memberitahukan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana Anda mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim no. 2567)

Dari kutipan hadist di atas, begitu indahnya jalinan persaudaraan yang timbul antar individu. Rasa cinta terhadap saudara karena Allah, menjadikan penyebab cinta Allah kepada hamba. Dengan demikian, keterkaitan akan terjalin membentuk hubungan yang saling bersinergi. Relasi semacam ini yang kerap tidak kita sadari dan terapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Seorang pengemis buta beragama Yahudi di pinggiran jalan Madinah, begitu keterlaluan menghina Nabi Muhammad SAW. Menyatakan beliau tak tahu diri, menganggap beliau bukan rasul hingga berani mengatakan beliau gila. Ia mengatakan hal tersebut di depan Nabi sendiri. Para sahabat geram mendengar umpatan pengemis itu. Namun, Nabi Muhammad SAW justru setiap hari mengantarkan makanan kepadanya. Berhubung pengemis itu buta, Nabi menyuapi pengemis itu dengan kasih sayang. Adakah persaudaraan semacam itu terjalin pada saat ini?

Sangat sulit kita jumpai sekarang, apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Apa yang sudah beliau lakukan menjadikan konsep persaudaraan dalam Islam. Tidak ada perbedaan untuk menjadikan kita bersaudara dengan orang lain. Bahkan seburuk apapun kelakuannya terhadap kita, tidak menjadi masalah bagi kita untuk mengikat tali persaudaraan. Rasulullah tidak mendasari persaudaraan berdasarkan momen tertentu. Tetapi setiap hari beliau menjalin persaudaraan dengan orang lain. Ini yang perlu diterapkan dalam masyarakat kita untuk menuju masyarakat madani yang menjunjung tinggi persaudaraan antar umat beragama.

Keberhasilan Rasulullah menciptakan tatanan masyarakat madani pada masa itu, menjadi teladan bagi bangsa kita. Beliau berhasil menjadikan masyarakat sadar akan status dan peran masing-masing. Beliau telah mengubah masyarakat yang tadinya berada dalam kondisi jahiliyah, kedalam kondisi penuh keberkahan. Sebagai umat Rasulullah, seharusnya mencontoh dan menerapkan cara beliau dalam menciptakan masyarakat madani.

Permasalahan yang muncul dalam masyarakat kita sudah semestinya dapat diatasi. Tentunya dengan berbagai cara yang sinergi dengan kondisi masyarakat di Indonesia. Cara tersebut harus sesuai dengan konsep dalam ajaran Islam. Cara yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan cara Rasulullah dalam menjaga persaudaraan pada masa lalu. Implementasinya bisa diwujudkan dalam hal-hal sepele di kehidupan sehari-hari.

Tersenyum dan mengucapkan salam ketika bertemu dengan teman. Hal kecil tetapi jarang dilakukan. Salam adalah sebuah doa, semoga keselamatan, rahmat dan barakah dari Allah tercurahkan kepadamu. Sungguh mulia ketika seorang muslim mengucapkan salam kepada sesama muslim yang lain. Jikalau tadinya tersimpan amarah, seketika hilang dengan guratan senyum dan salam yang keluar dari bibirnya.

Bersedekah juga merupakan cara yang sederhana untuk memperkokoh persaudaraan. Ingat, sebagian harta kita adalah milik orang lain. Harta yang kita sedekahkan karena Allah, akan menjadi pahala bagi kita. Nikmat kita senantiasa akan ditambah oleh Allah SWT. Sedekah yang dilakukan secara berkelanjutan akan lebih baik daripada sedekah yang dilakukan hanya menunggu waktu yang tepat.

Yang terpenting untuk menciptakan persaudaraan sesuai konsep Islam adalah memahami status dan peran dalam lingkungan masyarakat. Harus tepat dalam memosisikan diri kita saat berada bersama orang lain. Saat bertemu orang yang lebih tua, persaudaraan akan semakin erat apabila kita bersikap sopan dalam berbicara dan berperilaku. Berbeda halnya ketika kita bersama orang yang lebih muda, persaudaraan akan terjalin manakala kita merangkul dan memberikan rasa aman kepadanya.

Masyarakat Indonesia bisa mencapai tatanan masyarakat madani jika mampu menerapkan konsep persaudaraan secara islami. Perlu adanya penanaman pokok-pokok pikiran kepada masyarakat perihal pentingnya menjalin persaudaraan antar individu. Rasulullah sudah memberikan teladan yang sederhana tetapi dampaknya mencakup semua kalangan masyarakat pada masa itu. Dalam hadist di atas juga telah menegaskan pentingnya mencintai saudara. Dengan memahami dan mampu menerapkan konsep tersebut, bangsa Indonesia akan mudah mencapai masyarakat madani yang selama ini belum terwujud sepenuhnya.