(Oleh: Danang Firmanto)

Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mengetahui jalinan kasih dua negara, Indonesia dengan Maroko. Meski sudah setengah abad hubungan kedua negara terjalin, sejauh ini masih terkesan monoton. Hubungan persahabatan Indonesia-Maroko (INDOMA) memang tidak mengalami banyak konflik. Meski demikian, bukan berarti hubungan INDOMA sudah mencapai puncak keemasan. Hal ini dikarenakan belum ada gebrakan inovatif dari kedua belah pihak. Masih banyak bidang yang perlu dioptimalkan untuk menambah jalinan kemesraan hubungan Indonesia dengan Maroko.

Di tengah konflik yang dialami Indonesia dengan Malaysia bahkan Arab Saudi beberapa waktu lalu, sekarang waktu yang tepat untuk menunjukkan Indonesia mampu menjalin hubungan persahabatan yang awet, mutualis dan harmonis dengan Maroko. Penulis memberikan beberapa langkah yang efektif-inovatif guna meningkatkan hubungan persahabatan kedua negara yang memiliki banyak perbedaan ini. Langkah ini secara intensif harus diwujudkan. Mengingat kedua negara telah memiliki pondasi kokoh dengan kesatuan visi yang dibawa Soekarno bertahun-tahun silam. Langkah ini secara langsung akan menguatkan integrasi baik sosial, budaya, politik, maupun ekonomi masyarakat Indonesia dengan Maroko.

Pertama, optimalisasi bebas VISA untuk kedua negara. Ketika presiden Soekarno berkunjung ke Maroko, Raja Muhammad V menawarkan hadiah kepada Soekarno atas dukungan terhadap kemerdekaan Maroko. Namun, Soekarno hanya meminta agar rakyatnya bebas berkunjung ke negara Maroko. Permintaan itu dikabulkan oleh Raja Muhammad V. Implementasinya, masyarakat Indonesia bebas berkunjung kurun waktu tiga bulan ke negara Maroko. Sangat disayangkan, banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui hal ini. Bebas VISA yang disepakati harusnya dijadikan jembatan demi mengharmoniskan persahabatan.

Sebaliknya, Indonesia juga harus mengimbangi kemudahan yang diberikan Maroko dengan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat Maroko yang berkunjung ke Indonesia. Bebas VISA juga perlu diberlakukan secara optimal bagi masyarakat Maroko yang hendak mengunjungi Indonesia. Tentu saja dengan segala keamanan dan kenyamanan serta kebijakan yang menguntungkan kedua negara tersebut.

Langkah konkret yang penulis berikan terkait penerapan bebas VISA ini ialah program kunjungan tahunan INDOMA. Setiap tahun pemerintah Indonesia memberi kesempatan kepada satu provinsi yang terdiri dari perwakilan jajaran pemerintahan daerah, masyarakat, serta pelajar untuk melakukan kunjungan ke Maroko. Kunjungan tersebut harus disusun terencana dan kontinuitas dengan kesepakatan dua negara. Dalam setiap kunjungan akan disambut dengan menampilkan kebudayaan Maroko kepada setiap provinsi di Indonesia. Program kunjungan ini juga diterapkan untuk setiap wilayah di Maroko agar masyarakatnya berkesempatan mengunjungi Indonesia tiap tahun. Ini merupakan program yang mampu meningkatkan silaturahmi serta memberikan ruang untuk semakin mengenali negara sahabatnya.

Banyak keuntungan yang diperoleh kedua negara jika mampu mengoptimalkan program kunjungan ini. Terutama dalam bidang kebudayaan, kedua negara mampu saling mengenal lebih dekat. Pengenalan kebudayaan Indonesia kepada Maroko akan semakin mudah begitu juga sebaliknya. Seperti kesenian tradisional Indonesia, batik, maupun budaya tiap daerah di Indonesia dan Maroko menjadi magnet yang melekatkan jalinan kasih keduanya. Di mata masyarakat, program ini akan dirasakan secara langsung karena berdampak positif bagi kemajuan pemikiran masyarakat kedua negara.

Langkah kedua ialah meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi dengan peningkatan ekspor impor produk INDOMA. Saat ini industri kreatif Indonesia mulai menggeliat di pasar internasional. Potensi ini bisa dimaksimalkan dengan menetapkan Maroko sebagai salah satu tujuan utama ekspor industri kreatif Indonesia selain sektor sumber daya alam. Bentuknya bermacam-macam jenis seperti keramik, fashion, dan kerajinan lainnya. Begitu juga dengan Maroko, Indonesia juga harus memberikan tempat bagi Maroko untuk memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk menambah kedekatan secara ekonomi dengan saling menggunakan produk dari kedua negara tersebut.

Pengembangan pasar bagi produk-produk INDOMA tentu memiliki risiko ancaman persaingan harga dengan produk negara lain. Untuk itu penulis memberikan langkah antisipatif dengan menerapkan beberapa kebijakan. Diantaranya, birokrasi ekspor impor dipermudah. Artinya, terkait perizinan ekspor atau impor bagi tiap-tiap unit usaha yang berorientasi go international dipermudah. Pemerintah juga turut berperan dengan memberikan subsidi ekspor sehingga produk kedua negara bisa saling bersaing. Secara tidak langsung, persaingan tersebut memberi stimulus bagi produk-produk lokal untuk ikut bersaing.

Kemudian dari segi harga, harga produk kedua negara harus disesuaikan dengan tingkat perekonomian negara. Namun, tetap harus melihat tingkat daya beli konsumen kedua belah pihak. Lalu perlu adanya jaminan persaingan yang sehat, dalam arti tidak ada maksud untuk menggeser produk lokal masing-masing negara. Kualitas produk juga mendapat prioritas penting untuk menjaga eksistensi produk di pasaran. Aspek keseimbangan pasar perlu diwujudkan, tidak seperti produk Cina dan Jepang yang mendominasi pasar Indonesia.

Jarak yang jauh antara Indonesia dengan Maroko bisa menjadi permasalahan jika tidak ditangani, sehingga faktor keamanan dan kemudahan transportasi perlu ditingkatkan. Untuk melaksanakan langkah tersebut butuh komitmen pemerintah Indonesia dengan kerajaan Maroko. Komitmen tersebut bisa diwujudkan melalui peningkatan aspek pertahanan dan keamanan kedua belah pihak. Tidak terlepas dari menjaga kestabilan politik Indonesia dengan Maroko.

Langkah-langkah yang penulis berikan di atas, tidak akan mungkin tercapai jika komunikasi masih menjadi kendala. Komunikasi merupakan sarana penting dalam menjalin kerjasama. Salah satu keberhasilan hubungan kerjasama ditentukan dari kualitas komunikasi antar negara. Kemampuan menyampaikan gagasan menjadi faktor pendorong negara untuk tertarik menjalin kerjasama. Dengan demikian bahasa memiliki kedudukan penting sebagai unsur komunikasi. Penulis menawarkan satu cara yang efektif mewujudkan integrasi dalam proses kerjasama. Cara ini semakin menguatkan persahabatan INDOMA melalui program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Maroko dan Bahasa Arab bagi Indonesia.

Pembelajaran Bahasa Indonesia telah dikembangkan di beberapa universitas di Australia dan Cina. Bahasa Arab pun telah dikembangkan di Indonesia. Kini saatnya mengembangkan Bahasa Indonesia dan Arab sebagai bahasa resmi persahabatan Indonesia dengan Maroko. Alasan yang mendasar ialah Bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan jumlah penutur terbesar kelima yang tersebar di dunia. Di tingkat Asia Tenggara pun, dari sekitar 600 juta orang, 40% berbahasa Indonesia  (Antara News, 8 Mei 2011). Begitu juga Bahasa Arab sebagai bahasa resmi Maroko yang juga banyak digunakan di negara-negara Islam. Sistem pembelajaran kedua bahasa ini diberikan secara sederhana dan bertahap. Yakni, menyesuaikan bentuk kerjasama yang dilakukan. Misalnya, kedua belah pihak menjalin kerjasama dalam bidang ekonomi, pembelajaran yang diberikan adalah penggunaan kata-kata yang berkaitan dalam bidang ekonomi. Sama halnya ketika bekerjasama dalam bidang politik, sosial atau budaya.

Persahabatan Indonesia dengan Maroko secara resmi diawali oleh presiden Soekarno. Terjalin begitu harmonis dan mesra hingga saat ini. Waktu yang cukup lama hubungan persahabatan ini terjalin indah. Kedua negara mampu memaknai arti sahabat sekaligus saudara kandung yang memiliki perbedaan namun satu visi. Penulis yakin, pada akhirnya hubungan persahabatan Indonesia dan Maroko mampu menduduki puncak keemasan. Lakukan gebrakan inovatif mulai sekarang, untuk kejayaan masa mendatang.