Dua Anak Penjaga Rindu Kampung Halaman


IMG_20161206_180712
Foto kami bertiga saat mudik beberapa bulan lalu di Jogja.

Selembar tiket kereta itu masih ia simpan di sela-sela tumpukan baju. Tidak jauh dari situ, masih dalam satu lemari, lembaran uang kertas berbagai pecahan tampak menyembul. Anak berusia 7 tahun itu masih punya mimpi bisa berlibur ke Jakarta bersamaku.

Aku sering dibuat haru setiap pulang kampung mendengar cerita anak itu. Namanya Kenzie, keponakanku yang saat ini tengah duduk kelas satu sekolah dasar. Kebiasaannya menyimpan tiket kereta bukan sekadar hobi mengoleksi melainkan asa liburan yang belum terwujud hingga saat ini.

Kenzie kerap sekali menyimpan tiket keretaku saat aku pulang. Tiket yang sudah tidak terpakai itu menjadi angan dia untuk bisa ke Jakarta, suatu saat. Dan tumpukan uang itu adalah hasil dari ketekukannya menabung. Dia berharap bisa ke Jakarta menggunakan sepur dengan uang tabungannya.

Aku sempat tidak percaya, uang saku yang diterima Kenzie pada lebaran tahun lalu masih terkumpul dan tertata rapi. Entah berapa jumlahnya, mungkin masih utuh. Setiap kali aku tanya, ia menjawab uang itu untuk beli tiket kereta.

IMG_20161128_204714
Kenzie dan Aby membaca buku cerita

Belum lama ini aku kembali pulang. Kala itu ia pun menagih. “Om tiketnya mana,” kata dia. Tanganku mencoba merogoh tas dalam-dalam. Sebab, selembar tiket yang sudah tak kupakai usai bepergian biasa kuletakkan di bawah tumpukan barang di ransel. Maka dari itu, aku jarang sekali membuang tiket kereta. Tak berbeda jauh, aku pun sering menyimpan barang kecil itu.

Melihat tiket di tanganku, Kenzie lekas menyimpannya. Tapi kadang kalau lupa, selembar kertas berindentitas itu hanya kuletakkan di atas meja. Lalu dengan sendirinya berpindah tempat berkumpul bersama beberapa lembar lainnya. Pasti dia yang mengambil dan menyimpannya.

Putra sulung kakakku itu memang selalu menjadi pengingat pada rumah di Jogja. Tidak hanya itu, percakapan kami pun semakin melekatkan rindu kampung halaman. Setiap kali aku menelepon orang tua, ia selalu mendekat jika berada di samping mereka. Awalnya sekadar menanyakan siapa yang menelepon. “Siapa, Mbah?” Namun tak jarang telepon itu ia rebut kalau tahu aku yang menghubungi. Suara dia juga masih lekat dalam ingatanku sekarang.

Selain Kenzie, ada satu lagi kemenakanku yaitu Aby. Aby adalah adiknya yang masih berusia 3 tahun. Berbeda dengan kakakkya, tubuh anak itu gempal. Pipinya terlihat selalu penuh dengan makanan. Keduanya memang menjadi penjaga rinduku pada kampung halaman.

Ohya, ada satu pertanyaan yang masih aku ingat saat berbicara dengan Kenzie atau Aby di sambungan seluler. “Om, kapan pulang?” Atau kadang perkataan dia menembak seolah-olah aku akan pulang kampung dalam waktu dekat. “Om, besok ya pulangnya.”

Saat mendengar suara dan pertanyaan itu perasaanku mendadak gundah. Rindu pada keluarga dan rumah terurai sudah. Beberapa tahun tinggal di rantau tetap tidak bisa mengalihkan kenangan di kampung. Dan aku sering kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan sulit dari dua anak itu. Tapi kadang aku iyakan saja biar mereka lega.

Jpeg
Kenzie dan Aby bermain sepeda di halaman rumah.

Sebenarnya, kami sering bertemu dulu. Bahkan mereka sesekali terlelap dalam tempat tidurku. Saat itu aku masih studi di Jogja. Kenzie masih duduk di TK sementara Aby masih belajar berjalan. Rumah kami pun bersebelahan hanya terpisah sepelemparan batu. Jadi hampir setiap hari aku melihat tingkahnya bahkan bermain apapun di halaman rumah.

Namun sekarang perjumpaan kami bisa dihitung jari dalam setahun. Mungkin saat lebaran atau beberapa bulan sekali. Bisa dibilang, kesibukanku di rantau kerap menjadi pemisah cerita kami bertiga. Tapi dalam hati aku berangan ingin memberikan hadiah mengajak mereka ke Jakarta naik kereta api. Bisa juga saat libur sekolah agar kami bisa jalan-jalan berlibur menikmati wisata Ibu Kota. Sebab, hobi kami sama yaitu suka jalan-jalan. Semoga suatu saat impian itu terwujud. http://www.elevenia.co.id/ctg-mokado-fun-event

 

Oleh

Danang Firmanto

Alisya dan Tangis Malam Itu


img-20160702-wa0025

Aku merasakan bibirnya yang hambar ketika kami saling mendekap. Tubuhnya dingin tidak seperti yang kubayangkan malam itu. Temaram lampu kamar samar-samar menampakkan sisa-sisa paras ayu perempuan 25 tahun tersebut. “Alisya, apakah ini yang pertama kali kau rasakan?” kataku lirih.

Alisya hanya mengangguk pelan. Dua matanya masih terpejam lekat menikmati dinginnya AC dua puluh derajat. Aku menggeser pantatku, kusandarkan punggung di dinding kamar sambil mencari letak kacamata yang terlepas dari mataku.

Alisya masih terbaring di sampingku. Dia menarik selimut dan menyelimuti kakiku. “Aku tahu kau juga kedinginan, sayang,” katanya. Kami pun akhirnya bersandar pada tembok bercat putih. Aku mengusap kelopak mata dan mengenakan kacamata minus satu.

Aku meminta izin kepada Alisya untuk beranjak sebentar menyalakan lampu kamar. Ia membolehkan. Tetapi begitu mataku menyapu wajahnya, kulihat pipinya basah. Alisya menangis.

Perempuan berdarah Jawa itu tidak bisa menyembunyikan emosinya yang bergejolak. Aku merapatkan tanganku ke lengannya. Aku sedikit mengusap pelan pundaknya ke bawah. “Jangan membuatku gusar, ceritakan sekarang.”

Wanita berambut sebahu itu hanya menggeleng. Ia tak ingin menceritakan alasannya menangis malam itu. Tapi aku terus membujuk. Alisya masih bergeming. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur menjauhiku. Sebuah tas ransel berwarna hitam ia tunjukkan. Namun aku masih tidak memahami sikapnya.

Aku menghampiri dan memeluknya dari belakang. “Ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan?” Tangisnya malah semakin menjadi. Air matanya merambat membasahi bibir. Saat itu aku semakin kebingungan. Dekapanku kian erat.

“Kau lihat ini!” ucap Alisya. Ia menunjukkan selembar foto bergambar anak kecil yang ia keluarkan dari tas itu. Anak kecil itu tampak tengah duduk di dalam gerbong kereta. Tidak ada keterangan apapun di foto itu. Tapi gambar anak perempuan yang sepertinya belum genap lima tahun telah menyita pandanganku seketika.

Aku melepas peluk terhadap Alisya. Gadis kecil di foto menurutku sangat mirip dengan perempuan yang ada di depanku malam itu. “Aku tahu maksudmu, Alisya. Tapi aku belum siap.”

Alisya menceritakan darah dagingnya sendiri dengan sangat detail. Setiap akhir pekan, ia habiskan waktu untuk putrinya. Ia beralasan, cara itu adalah yang terampuh untuk melupakan kejadian pahit satu tahun lalu. Ia mengakui kini sudah berdamai dengan masa lalunya. “Aku tidak ingin kecewa lagi,” kata Alisya menutup pembicaraan malam itu.

Penulis: Danang Firmanto

Tulisan ini diilhami dari kisah nyata

Pertemuan Dua Pekan Lalu


Oleh Danang Firmanto

 

dsc_0055-copy
Bapak, selepas mengayuh sepeda di Bantul, Yogyakarta. Rabu, 7 Desember 2016/Danang Firmanto

Aku benci dengan diriku sendiri. Kebencian yang mungkin juga dirasakan orang lain ketika berhadapan dengan perasaan rindu. Tapi kebencianku tak bisa berbuah kemarahan. Aku benci karena sulit mengeja rasa cinta dan kasih kepada dia melalui kata-kata. Selalu saja begitu.

Aku kesulitan mengekspresikan dia dengan tulisan, kecuali rasa bangga yang membuncah. Mungkin, sudah ada ribuan cerita yang mengisahkan perjalanan hidup orang-orang baru yang aku kenal. Sudah banyak cerita aku tulis dari orang-orang yang akan menjadi sejarah. Sudah ada banyak orang yang kutemui dalam perjalanan hidup. Mereka dengan mudah kukisahkan. Tapi kisah dia, sangat sulit aku terjemahkan dalam rangkaian kata.

Sudah dua puluh tahun lebih aku mengenal dia. Aku sangat paham cara dia bicara, marah, gelisah, bahkan menyembunyikan bahagia dan harapan. Aku pun paham pengorbanan dia, rasa sakit, peluh, keringat yang tak kunjung mengering, dan air mata yang jarang kulihat keluar darinya. Tapi tetap saja aku benci karena sampai detik ini, aku tak bisa berbuat lebih untuk dia. Bahkan sekadar mengisahkan dalam cerita.

Sekitar dua pekan lalu, aku merencanakan bertemu dia kembali di sebuah desa. Niatku sengaja memberikan kejutan untuknya. Aku menempuh perjalanan yang menelan waktu delapan jam lebih di dalam kereta, malam itu.

Pada 5 Desember 2016, aku kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran, ratusan kilometer dari Ibu Kota. Sepelemparan batu dari posisiku berdiri, rumah itu tak berbeda jauh kondisinya dengan beberapa tahun lalu. Namun aku melihat atap yang semakin menghitam, dinding-dinding yang tampak lumutan, dan sepedanya yang menyimpan sejuta cerita. Dedaunan pun masih rimbun serta bau wewanginan alam seolah mengobati kerinduan.

Aku sudah membayangkan dia sumringah ketika melihatku nanti. Aku membayangkan dia tak akan tidur lebih cepat karena ingin mendengar ceritaku malam nanti. Pasti juga akan ada sajian yang tidak kutemui di perantauan.

Namun saat itu, aku tidak langsung menemui dia. Langkahku kepergok oleh dua anak kecil yang ternyata juga menyimpan rindu terhadapku. Mereka mencuri perhatianku. “Om kriting,” kata anak yang belum genap 3 tahun itu sambil memandangi mukaku. Seolah tak percaya apa yang dia lihat saat itu.

Aku tersenyum haru. Tapi juga ingin tertawa melihat batang hidung dan pipinya. Kami pun tertawa pada akhirnya. Dia memburuku dengan sebongkah keceriaan dan cerita yang sudah disimpan lama. “Om Dan pulang,” kata kakak anak itu menimpali. Mereka lari memanggil ibunya, mengabarkan kepulanganku dua pekan lalu.

Tapi saat itu, aku masih belum melihat orang yang sebenarnya ingin kutemui. Aku masih bersembunyi di balik tembok rumah dua anak itu yang bersebelahan dengan rumahnya. Aku berharap masih ada waktu untuk memberi kejutan. Tapi tampaknya tidak.

Suara dua anak itu sampai di telinganya. Suaraku pun tampaknya sudah akrab di telinganya. Tak lama setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang juga tak asing. Suara itu datang dari arah belakang rumahnya. Aku sudah menduga, pasti dia, pasti dia. Tidak salah lagi.

Ya Allah, kerinduan kami terlunasi saat itu juga. Guratan senyumnya masih sama. Suaranya yang khas. Tapi langkahnya tidak setegap dulu lagi. Raut mukanya sudah tak sekencang dulu. Aku melihat jelas lipatan kerut di keningnya. Kantung matanya…suaranya yang semakin berat…rambutnya yang kian memutih rata… mataku mulai berkaca-kaca. “Pak, ragilmu pulang!”

Ketika Saya Memburu Wiranto


img_20161104_203635
Suasana kerusuhan pada demo 4 November 2016 di depan Istana Negara/Danang Firmanto

Kali ini saya ingin cerita sedikit soal liputan menjelang demo massal Jumat, 4 November 2016. Lebih khususnya soal bagaimana saya memburu Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto. Awalnya kantor menjadwalkan saya mengikuti agenda Wiranto dari pagi sampai selesai. Sekitar pukul 10.00 saya sudah harus berada di kantornya. Nungguin dia rapat.

Sebelum sampai ke kantor Wiranto, sambil jalan kaki saya mengamati pendemo sudah mulai memadati ujung Jalan Medan Merdeka Barat, di dekat patung Arjuna Wijaya (patung kuda). Kaget juga, mereka buanyak, berpakaian serba putih, dan membawa bendera serta spanduk. Takbirr..

Sampai kantor Menkopolhukam, suasana kantor sepi. Tapi dari kantor mulai terdengar orasi mereka yang mendesak Ahok dipenjara karena dugaan penistaan agama. Pidato mereka cukup lama sampai menjelang salat Jumat. Meski rapat sudah selesai Wiranto tak kunjung keluar dari kantornya.

Seusai salat Jumat, Pak Menkopolhukam dijadwalkan bertemu dengan Menteri Sekretariat Negara Pratikno (dulu Rektor UGM), dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin di kantor Sekretariat Negara pukul 14.00. Sekitar pukul 13.00 Wiranto keluar dari kantor. Dia pakai baju putih lengan pendek dan bertopi. Mobil dinas sudah disiapkan lengkap dengan pengawalnya. Koordinasi pun dilakukan. Tapi ternyata dia memilih jalan kaki dengan pengawalan.

Wajah Wiranto cukup datar saat itu. Saya dan beberapa wartawan mencoba mendekat untuk wawancara, tapi ditolak. Sakit ya rasanya ditolak. Tapi okelah, kami membuntuti dia hingga keluar dari kantor. Sempat dilarang untuk mengikuti langkahnya. “Sudah, jangan ikuti saya,” kata Wiranto sambil menoleh ke arah kami. (kurang lebih begitu ya)

Ratusan pendemo yang melihat Wiranto agak kaget. Beberapa dari mereka sempat mengambil foto Wiranto yang tanpa ekspresi itu. Saya clingak-clinguk memastikan dia tak lepas dari pandangan. Ia menyeberang jalan lewat jembatan penyeberangan orang di dekat kantor Menkopolhukam. Waktu itu massa demonstran sudah mulai longmarch dari Merdeka Barat ke Istana Negara.

Sampai di samping patung kuda, satu unit mobil polisi bersiap untuk menjemput Wiranto untuk bertemu dengan Pratikno dan Lukman. Lalu, wusss… Wiranto dan mobil itu menerabas tengah-tengah area dalam Monas.

img_20161104_151223
Sejumlah demonstran salat Ashar berjamaah di Jalan Merdeka Barat pada 4 November 2016/Danang Firmanto

Massa makin membludak memadati jalan. Saya memutuskan untuk mengikuti mereka ke Istana. Menjelang sore masih belum ada kerusuhan. Ketika Ashar, saya melihat banyak dari mereka yang salat berjamaah di jalan. Bagi-bagi air minum, roti, bahkan ada juga kurma.

Saya pun terjebak kerumunan di depan Istana Negara. Mau balik kanan susah, akhirnya dengan kartu sakti, bisa menerobos pertahanan polisi bertameng. Saya benar-benar semakin terjebak di depan Istana. Ruas Jalan Merdeka Utara dan Barat ditutup dengan penjagaan berlapis. Gulungan kawat juga dipasang di depan kantornya Presiden Jokowi.

Situasi semakin tak kodusif menjelang Maghrib. Entah siapa yang memulai, saya melihat beberapa pendemo melempari benda ke arah polisi. Orasi terus berjalan, puluhan seruan takbir juga terdengar jelas. Sewaktu Maghrib tiba, situasi mereka. Begitu pula saat Isya datang.

Doorrr….doorrr… saya mendengar percikan api di langit. Tembakan gas air mata. Situasi setelah Isya semakin memanas. Kerusuhan pun pecah. Beberapa orang pendemo ditangkap. Saya pun meihat seorang polisi dipapah masuk ke ambulans dengan wajah penuh darah. Kobaran api membumbung, satu unit mobil ludes dibakar.

Saya mulai merasakan perih di bagian mata akibat efek gas air mata. Ratusan orang terlihat mengoleskan bagian bawah kelopak matanya dengan odol. Nafas mulai sesak, saya menutup hidung dengan slayer. Malam itu, saya benar-benar kehilangan jelak Wiranto.

Cerita Singkat Bagaimana Saya Akhirnya Menjadi Wartawan


Oleh Danang Firmanto

img-20160917-wa0036
Selepas wawancara dengan mantan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi.

Sudah satu tahun lebih saya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Enggak terasa dan tanpa diduga memang. Sebab, saya tak pernah membayangkan sebelumnya bisa menjadi bagian dari Tempo. Seperti mengalir saja, tapi ada sedikit cerita seru sebelum memutuskan menjadi wartawan.

Saya mulai dari SMP ya. Saya sekolah di SMP 1 Bantul. Termasuk sekolah favorit saat itu dan mungkin sampai sekarang. Waktu itu, saya masih berpikir untuk menjadi ilmuan, arsitek, dan cita-cita yang berbau eksak. Saya kasih tahu, cita-cita saya itu banyak dulu. Bahkan tak terhitung jari, tetapi sekadar impian yang silih berganti.

Sekolah di SMP membuat saya mengenal lebih banyak kawan, pelajaran, dan perasaan. Dulu pelajaran yang paling asik waktu SMP seperti Biologi, Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. Tapi ketika beranjak ke kelas IX, saya suka sama Bahasa Indonesia. Suka menulis puisi-puisi enggak jelas gitu. Nyambung dengan perasaan yang sedang muncul saat itu.

SMP kelas 9 saya mulai jatuh cinta dengan seseorang. Ini serius cuy.. Orang itu yang tidak sengaja membuat saya suka menulis. Gadis itu pula yang tanpa sadar menggiring saya menamatkan sebuah buku tentang cinta setebal 400an halaman. Saya mendadak jadi romantis, beberapa malam terlewat untuk membuat puisi berlembar-lembar. Entah, sekarang beberapa puisi itu ke mana larinya.

Enggak cukup dengan puisi, cerita pendek pun lahir untuk si cewek itu. Saya jadi semakin ingin menulis saat itu. Hingga lulus dan sekolah di SMA 2 Bantul, kegiatan menulis pun berlanjut. Tapi yang membedakan, tulisan saya beralih ke jenis yang lebih ilmiah. Mulai belajar menulis artikel. Bahkan beberapa kali menang lomba menulis. Kuncinya simpel, yang penting seneng.

Semasa SMA lumayan banyak kegiatan. Beberapa organisasi saya ikuti. Tidak luput yang berbau jurnalistik. Oleh salah seorang Guru Bahasa Indonesia, saya ditunjuk memimpin redaksi majalah pada 2009. Waktu itu saya kelas XII IPS. Jujur, agak berat waktu itu karena masih belum pengalaman. Tapi ya akhirnya terbit juga majalahnya.

Bicara soal cita-cita, sejak mau lulus SMA sudah mulai mengerucut. Ingin menjadi seorang penulis. Dorongan ingin menjadi penulis lahir dari saya sendiri. Setelah SMA lulus, saya memutuskan memilih jurusan komunikasi. Mungkin menarik ya, saya ini lulusan dengan hasil nilai paling jelek di Ujian Nasional.

Saya mendaftar ke beberapa kampus dengan memasukkan Komunikasi sebagai salah satu pilihan jurusan. Tapi dari sekian kampus, tidak ada yang menerima saya di jurusan itu. Agak kecewa waktu itu. Tapi bersyukur, masih diberikan kesempatan masuk di Manajemen UNY tanpa tes dan gratis sampai lulus.

Kesibukan menulis tetap lanjut dong. Saya gabung di Hima Manajemen pada 2010 dan masuk di divisi media. Tahun selanjutnya menjadi Kepala Departemen Media di Hima. Keinginan untuk terus menulis kala itu cukup gila-gilaan. Saya sering banget ikut lomba menulis. Pada 2011 saya bikin blog. Tahun selanjutnya diundang ke KPK untuk menerima penghargaan menulis. Pada 2013 saya ikut proyek menulis di Gramedia sampai terbit satu buku antologi cerita. Kuncinya simpel, yang penting seneng.

Masih banyak lagi cerita soal dunia menulis yang saya geluti. Tapi saya ingin kembali ke topik yang mengantarkan saya menuju ke Tempo. Pada 2012, kampus membuat acara workshop jurnalistik. Salah satu pembicaranya adalah Kepala Biro Tempo Jogja, enggak usah saya sebutin namanya kali ya. Sebab, dia sekarang jadi redaktur saya di Tempo.

Di sela diskusi pada acara workshop itu, saya tanya bagaimana caranya bisa bergabung di Tempo. Nah, pembicara itu bilang silakan daftar saja kalau sudah lulus. Saya lulus pada Agustus 2014 dengan IPK 3,47. Setelah lulus itu saya ingin menjadi wartawan. Tapi melihat kesempatan yang ada, saya melmar di beberapa lowongan pekerjaan. Mulai dari BPJS Kesehatan, CPNS Kementerian Keuangan, Editor Buku, Freelance, dan sebagainya.

Sedikit melupakan Tempo, karena memang enggak ada lowongan di sana waktu itu. Pada Februari 2015 saya memutuskan menjadi marketing di LKBN Antara, perusahaan milik pemerintah. Tapi bekerja di marketing tidak bertahan lama, karena mungkin memang tak cocok. Belum genap satu tahun, saya keluar dari Antara.

Galaunya, saat akhir Mei 2015, Tempo membuka kesempatan untuk menjadi calon reporter. Wah, keren ini! Saya bingung waktu itu, karena bagaimanapun juga bekerja di perusahaan BUMN itu menjadi impian banyak orang. Tapi di sisi lain, saya ingin mewujudkan impian sejak dulu.

Setelah berdiskusi yang cukup alot dan sedikit dramatis, saya memutuskan mendaftar sebagai calon reporter. Beberapa tahapan berhasil saya lewati. Hingga akhirnya, di salah satu tahapan tes yaitu wawancara saya benar-benar tidak menyangka. Saya bertemu dengan Kepala Biro (Kabiro) Tempo Jogja yang dulu saya temui saat mengisi acara di kampus pada 2012. Tampaknya, dia sudah tak lagi menjadi Kabiro. Dan sekarang hampir setiap pekan kami bertemu dan bertegur sapa.