Cokelat Panas di Kedai Susu


DSC_2398 copy

Ilustrasi

Perempuan berkacamata itu tengah duduk di bangku kayu. Matanya tertuju pada ujung anak tangga yang berjarak sepelemparan batu. Ia mengenakan jaket dan kerudung yang tak jauh beda warnanya.

Tangannya menggenggam telepon seluler. Wajahnya tampak sumringah di antara gelagat belasan pengunjung sebuah kedai susu di Jogja yang berdiri sejak enam tahun lalu. Ia duduk sendiri menanti Abrial, laki-laki 26 tahun yang mengajaknya bertemu.

Lewat sekian menit dari pukul delapan malam, Abrial datang mengenakan kemeja hitam. Ia melangkah pelan, matanya menyapu ruangan lantai dua di kedai susu utara Kampus Biru. Dia sempat tak mengenali perempuan itu lantaran mereka belum pernah bertemu. Namun sorot matanya tiba-tiba mengarah pada perempuan yang melemparkan senyum.

“Hai Ta, sudah lama menunggu?” tanya Abrial mendekati Cetta. Mereka berjabat tangan.

“Aku juga baru datang kok,” kata Cetta membenarkan posisi duduk.

Mereka duduk berhadapan, hanya berjarak seuluran tangan. Abrial melepas jaket. Cetta masih tampak memandangi Abrial. Entah kenapa, mereka mengenakan baju dengan warna sama. Tak lama setelah itu, Cetta pun melepas jaket tipisnya. Keduanya mengawali obrolan dengan kesibukan masing-masing sembari memesan dua gelas cokelat panas.

Jumat malam itu adalah kali pertama mereka bertemu. Abrial tak bisa menepis rasa buncahnya buyar seketika melihat paras perempuan asal Pekalongan itu. Ia memang sudah lama ingin menemui Cetta yang dikenalnya sejak Mei dua tahun lalu. Kesibukan Abrial sebagai seorang pemburu berita terkadang membelenggu keinginan untuk bersua. Mungkin sama dengan Cetta, yang sibuk menyelesaikan tesisnya.

Seorang pramusaji mendekat, membawakan pesanan mereka. Cetta menempelkan jemarinya di dinding gelas. “Masih panas ya,” kata dia. Abrial menyelipkan senyum.

Abrial mencoba menyeruput seduhan cokelat panas di depannya, memang masih panas. Rasanya tak begitu manis, tapi minuman dan pertemuan itu menjadi pelangkap masa cutinya di Jogja. Dia memandangi sesaat kedua mata Cetta yang terhalang lensa. “Aku sebenarnya ingin bisa menetap di Jogja, Ta,” ujar Abrial.

Gadis 25 tahun itu melipatkan tangannya di atas meja dan mendengarkan cerita Abrial. Sesekali ia menimpali atau melempar pertanyaan. Dia juga menceritakan kehidupannya yang tak bisa lepas dari kota yang romantis. Ia pun mengingat sisi-sisi romantis dari kota kasultanan itu. “Karena Jogja terbuat dari aku, kamu, dan pantai,” tutur dia berkelakar.

Abrial sangat terkesan dengan tawa yang dilepaskan perempuan di depannya itu. Juga gurauan Cetta soal dangdut pantura di daerahnya yang kerap mengusik kesibukan. Hampir dua jam mereka melepas cerita. Malam di Jogja sepertinya tak akan habis ditemani lantunan musik dan semilir angin.

Cetta mengambil jaket, ia merapatkan jaket abu-abu itu menyelimuti badan. Tampaknya, secangkir cokelat yang ia pesan tak mampu menghangatkan dari udara Jogja malam itu. “Lama-lama dingin juga ya,” kata dia menatap laki-laki asal Jogja itu.

Abrial kembali menyelipkan senyum sambil menatap paras Cetta yang menarik. Dia tak mampu mengungkapkan lebih, selain keinginan untuk bisa bersama Cetta di kota kelahirannya.

Danang Firmanto

Advertisements

Menelusuri Jejak Korporasi di Lantai 50


IMG_20170825_000018

Foto: Ilustrasi/Dokumen Pribadi 2017

Langkahku terhenti di gedung pencakar langit Ibu Kota. Untuk pertama kalinya, aku memijakkan kaki tepat di lantai 50. Di tempat itu salah satu perusahaan subkontrak proyek yang kini tersangkut korupsi, berkantor. Mataku menyapu ruangan bersekat-sekat kaca. Jariku menelusur papan nama perusahaan yang menyewa ruangan.

Ada puluhan perusahaan yang memasang namanya di papan persegi panjang samping lift ruangan. Sial, tidak ada nama perusahaan yang aku tuju. Aku menghampiri dua laki-laki berjas hitam rapi yang tengah duduk tak jauh dari lift. Mereka adalah resepsionis ruangan di lantai 50.

Satu orang petugas mengatakan bahwa perusahaan yang kumaksud memang ada di salah satu ruangan itu. Aku memutuskan duduk dan mengamati satu demi satu orang yang berada di sekitaran meja resepsionis. Wajah-wajah keturunan orang asing, laki-laki pengantar barang, perempuan-perempuan bersepatu hak tinggi, sampai lalu lalang office boy berkaus biru. Tak ada satupun yang aku kenali.

Hampir 4 jam aku berada di lantai itu. Menunggu orang yang belum pernah kutemui sama sekali. Bahkan wajahnya tak terlintas di kepalaku. Dua laki-laki itu juga enggan menunjukkan ruangan perusahaan yang aku cari.

Kemarin, aku tengah mereportase salah satu kantor perusahaan rekanan proyek pemerintah. Dan pada tanggal yang sama pula, usiaku genap 2 tahun menjadi seorang wartawan.

Cerita di atas hanya sebagian kisah sehari-hari ketika liputan. Aku menuliskan sebagian pengalaman itu untuk mengingatkan bahwa kerja jurnalistik seperti menyusun sebuah puzzle. Suatu saat setelah keping-keping puzzle itu tersusun, akan tergambar jelas cerita sebuah peristiwa.

Pada 24 Agustus 2015, aku memutuskan keluar dari perusahaan BUMN. Keputusan memilih menjadi jurnalis tentu menuai perdebatan emosional antara aku dan orangtua. Terus terang, keputusan itu berat bagi mereka. Sebab, mereka ingin aku bekerja pada waktu yang terjadwal dan bisa menikmati libur seperti kebanyakan orang. Namun pada akhirnya, mereka memahami impian yang secara tidak sadar aku ungkapkan dari hati.

Salam,

Danang Firmanto

(Reporter TEMPO)

Selepas Maghrib di Masjid


 

Seorang laki-laki berjubah putih mengambil posisi imam saat salat Maghrib di salah satu masjid dekat kost saya, hari ini. Suaranya terdengar lirih tak seperti imam biasanya. Di barisan pertama, beberapa orang dengan pakaian serupa menjadi makmum. Sebanyak 12 orang jemaah Tabligh itu membaur dengan jamaah lain.

Saya pikir dia akan membaca surat panjang, namun bacaan imam itu di luar dugaan. Ia membaca surat-surat pendek sama seperti imam-imam lain di masjid itu.

Setelah salat, imam tak memimpin zikir layaknya imam biasanya. Makmum hanya berzikir sendiri-sendiri. Ada sebagian jamaah yang langsung bergegas meninggalkan masjid. Tidak sampai 15 menit, satu orang ketua rombongan jemaah Tabligh berdiri. Dia mengenakan jubah namun berwarna cokelat muda. Jamaah masjid lainnya berdiri mendekatinya sambil memberikan kode mengacungkan dua jari, mungkin maksudnya 2 menit.

Pemuda itu berceramah di depan jamaah masjid. Saya tidak menghitung tepat, tapi kira-kira ada 15 menit ia menyampaikan pesan-pesan agama. Perihal keimanan, cerita dakwahnya, hingga cara menggapai surga sebagai umat Rasulullah.

Ceramah singkat itu lalu ditutup salat sunnah ba’da Maghrib. Saat itulah seorang jemaah Tabligh lainnya menghampiri saya. Agak kaget, dia tiba-tiba menjabat tangan saya dan menanyakan nama. Dia lebih banyak berbicara seperti menceramahiku soal agama. Soal pesan-pesan agama yang harus disampaikan. Saya berusaha merespons dan melemparkan pertanyaan.

Laki-laki yang duduk di samping kiri saya itu adalah Salam, 24 tahun asal Brebes. Kami ngobrol cukup lama. Dia menceritakan sudah sekitar 7 tahun bergabung dalam jemaah itu. Awalnya ia bingung tak memiliki kesibukan di rumah hingga datang beberapa kali seseorang yang mengajaknya untuk ngaji.

Salam mengaku orang tua awalnya tidak setuju saat ia meminta izin untuk bergabung di salah satu pondok di Tegal. Sekian waktu ia mendekati mereka agar luluh akhirnya membuahkan hasil. Pada 2010 ia berangkat mondok. Tapi saat itu dia belum terlalu intensif untuk ikut program dakwah ke daerah-daerah. Sebab, jemaah ini memang selalu ke wilayah-wilayah untuk berdakwah.

Baru pada 2011, laki-laki itu mulai aktif ke sejumlah kota untuk bersyiar. Ia menceritakan mulanya singgah di Gunung Kidul, Yogyakarta selama 2 bulan. Lalu berlanjut ke Temanggung dan Semarang, Jawa Tengah masing-masing satu bulan. Total ada 4 bulan yang ia luangkan dalam satu tahun untuk berdakwah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Instruksinya pun hanya dari satu pemimpin yang saat ini berada di India. Salam menuturkan apabila pemimpin menginstruksikan untuk belajar soal tertentu maka sampai ke anggota jemaah pun demikian.

Ternyata jemaah itu juga punya hitung-hitungan yang dinilai sesuai anjuran sunnah untuk berkeliling berdakwah. Dalam setahun ada 360 hari secara pembulatan. Mereka biasanya meluangkan waktu 4 bulan dalam satu tahun untuk keliling. Sebesar 10 persen dari total hari dalam setahun itulah yang dijadikan penentu untuk ke sejumlah daerah. Yaitu dari 3,6 dibulatkan menjadi 4, artinya 4 bulan. Waktu itu pun berlaku minimal untuk mengikuti program dakwah selama usia hidup menusia. Sehingga minimal ada 4 bulan selama hidup yang digunakan untuk syiar ke daerah-daerah.

Salam mengatakan pada 2012 sekitar 4 bulan ia kembali berdakwah ke Kalimantan. Biaya hidup menjadi tanggungan orang tuanya yang akhirnya mendukung upaya itu. Perkiraan biaya hidup antara Rp 1-1,5 juta sudah cukup di sana selama menyampaikan pesan agama. Cara dakwahnya bisa dari masjid ke masjid atau dari rumah ke rumah untuk mengajak taklim. Selama di Kalimantan mereka jalan kaki dari satu titik ke lokasi lain.

Bisa dibilang tidak semua ajakan berhasil. Salam berujar ada sebagian masjid yang menolak. Bahkan kawannya sempat masuk penjara karena dilaporkan oleh salah satu lurah yang melihat tengah itikaf di masjid. Dia menganggap perlakuan itu sebagai sikap yang belum paham sehingga memiliki penilaian berbeda terhadap jemaah Tabligh.

Salam melanjutkan cerita, ia sempat ke Maluku, Sulawesi, India, hingga Bangladesh. Ia juga berkali-kali menyampaikan sunnah-sunnah Rasul kepada saya. Termasuk jubah, jenggot, dan sifat tabligh Rasul yang ia terapkan saat ini. Saya hanya mengangguk..azan Isya’ tak lama berkumandang.

Mega Proyek Jokowi Menuju Poros Maritim Dunia


Oleh Danang Firmanto

Screen Shot 2017-05-04 at 1.55.56 PM

Skema Tol Laut dalam mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia pada 2045. Sumber: Bappenas 2015

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengetok mega proyek infrastruktur tol laut yang menelan total dana sekitar Rp 700 triliun. Proyek itu telah ia tuangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam lima tahun masa jabatan, 24 pelabuhan strategis di kawasan Indonesia Barat dan Timur akan dibangun. Ratusan triliun rupiah mengucur untuk membiayai proyek itu termasuk belanja pengadaan 609 kapal. Pemerintah pun membuka keran investasi baik dalam maupun luar negeri lantaran pembiayaan proyek yang sangat besar.

Presiden Jokowi mengharapkan pembangunan tol laut dapat memuluskan konektivitas antardaerah, memperkuat jaringan pelayaran, dan memangkas ongkos logistik nasional hingga 15 persen. Target jangka panjangnya adalah Indonesia akan menjadi poros maritim dunia yang berkepentingan untuk ikut menentukan masa depan kawasan Pasifik dan Hindia.

Impian Indonesia menjadi poros maritim dunia bakal terwujud pada 2045 apabila proyek infrastruktur yang digadang-gadang itu berhasil. Sejumlah proyek pendukung kini mulai dibangun, misalnya pembangunan Pelabuhan Belawan melalui pinjaman Islamic Development Bank senilai US $ 87,5 juta. Selain itu Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara dan Makassar. Lobi demi lobi pun terjalin antara pemerintah dan swasta, begitu pula asing lewat lawatan Presiden untuk menarik investasi.

Investasi dana proyek Indonesia dalam angka ratusan triliun tersebut bukan jumlah sedikit. Untuk itu pembangungan tol laut dalam program prioritas 5 tahun akan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan swasta. Salah satunya adalah PT Pelayaran Indonesia (Pelindo) yang bakal menggarap sejumlah pelabuhan baik pengumpul maupun pengumpan.

Update-program-jokowiWEB

Tol Laut jadi salah satu program prioritas Presiden Jokowi. Sumber: Katadata

Tujuan dari pembangunan tol laut sebenarnya untuk menjawab tantangan ekonomi global, menekan mahalnya biaya logistik, dan disparitas harga komoditas barang di Indonesia. Direktur Transportasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prihartono menyebutkan konektivitas menjadi kunci dalam menjawab tantangan globalisasi ekonomi.

Data statistik mencatat hingga saat ini masih ada perbedaan harga komoditas antara wilayah barat dan timur Indonesia. Pada pekan pertama Mei 2017, harga daging sapi di Jakarta senilai Rp 115.000 sedangkan di Jayapura mencapai Rp 133.000 per kilogram. Harga telur ayam di Jakarta Rp 20.000 sementara di Jayapura Rp 28.000 per kilogram. Begitu pula harga bawang pada periode tersebut di Jakarta senilai Rp 33.000 namun di Jayapura mencapai Rp 50.000 per kilogram.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sepakat bahwa proyek tol laut tersebut mampu menurunkan disparitas harga komoditas yang terjadi antara wilayah barat dan timur Indonesia. Namun sebaiknya ada upaya revitalisasi pelabuhan-pelabuhan pendukung untuk proyek tol laut. Revilatisasi pelabuhan nantinya akan menjadi nilai tambah bagi Indonesia.

Dalam cetak biru Bappenas, proyek tol laut memang akan menghubungkan rantai ekonomi antarwilayah yang bisa mengurangi ketimpangan harga barang-barang komoditas dan logistik. Maka, dari 24 pelabuhan strategis pendukung tol laut itu, 5 pelabuhan dijadikan pelabuhan pengumpul (Hub) sedangkan 19 lainnya sebagai pelabuhan pengumpan (Feeder).

Adapun 5 Pelabuhan Hub yaitu Pelabuhan Belawan/Kuala Tanjung Sumatera Utara, Tanjung Priok/Kali Baru Jakarta Utara, Tanjung Perak Surabaya, Makassar, dan Bitung Sulawesi Utara. Sedangkan 19 Pelabuhan Feeder antara lain Malahayati, Batu Ampar Batam, Teluk Bayur, Jambi, Palembang, Panjang, Tanjung Emas Semarang, Pontianak, Sampit, Banjarmasin, Kariangau Balikpapan, Palaran Samarinda, Pantoloan, Kendari, Tenau Kupang, Ternate, Ambon, Sorong, dan Jayapura.

tol laut katadata

Skema Tol Laut. Sumber: Katadata

Pembangunan poros maritim nasional atau tol laut juga dapat membuka akses pelayaran petikemas regional. Untuk itu perlu membuat suatu pelabuhan besar berskala internasional yang dapat melayani kapal-kapal niaga besar di atas 3.000 TEUs atau sekelas dengan kapal Panamax 6.000 TEUs. Konsepnya dengan jalur distribusi logistik menggunakan kapal laut dari ujung Pulau Sumatera hingga Papua. Sehingga kapal-kapal tersebut bisa lalu lalang melintas membawa barang.

Katadata pada Kamis, 4 Desember 2014 melansir bahwa pembangunan tol laut pemerintah Indonesia sejalan dengan usulan Presiden Cina, Xi Jinping. Cina bakal membangun kembali konektivitas pelayaran Jalur Sutra. Jalur itu akan menghubungkan Afrika, Hindia, hingga Asia Timur. Dan Indonesia menjadi pintu masuk penting dari jalur tersebut yaitu melalui Selat Malaka, Sunda, Lombok dan Pulau Wetar.

Sangat mungkin, dengan tol laut impian Indonesia menjadi poros maritim dunia terwujud sehingga pemerataan ekonomi akan tercapai di semua wilayah. Selain itu pengurangan disparitas harga komoditas dan biaya logistik hingga 15 persen pun menjadi urusan mudah. Biaya logistik di Indonesia termasuk termahal di dunia yaitu sempat berada pada kisaran 27 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal biaya logistik terhadap PDB di Amerika hanya 9,9 persen, Malaysia 15 persen dan Cina 16 persen.

Lantaran termasuk mega proyek, faktor keamanan tol laut menjadi kunci agar keterbukaan akses sektor maritim tidak merugikan Indonesia. Pemerintah perlu meningkatkan keamanan di bidang tersebut. Begitu pula jaminan keamanan industri pendukung beroperasinya tol laut agar mereka berkembang.

Apabila Cina serius membuka Jalur Sutra, Indonesia akan memperoleh keuntungan besar. Jalur Sutra bakal meramaikan wilayah laut Indonesia, terlebih apabila proyek ratusan triliun yang diinisiasi Presiden Jokowi tersebut berjalan sukses.

Sementara itu, dunia sudah lama mengenal Indonesia sebagai negara maritim. Sejarah membuktikan penjelajah Belanda Cornelis de Houtman berhasil menemukan jalur pelayaran Eropa ke Indonesia pada 1596. Saat itu negara-negara barat melirik potensi Indonesia. Maka sekarang dengan tol laut, masa depan poros maritim dunia dalam genggaman kita.

Dua Anak Penjaga Rindu Kampung Halaman


IMG_20161206_180712

Foto kami bertiga saat mudik beberapa bulan lalu di Jogja.

Selembar tiket kereta itu masih ia simpan di sela-sela tumpukan baju. Tidak jauh dari situ, masih dalam satu lemari, lembaran uang kertas berbagai pecahan tampak menyembul. Anak berusia 7 tahun itu masih punya mimpi bisa berlibur ke Jakarta bersamaku.

Aku sering dibuat haru setiap pulang kampung mendengar cerita anak itu. Namanya Kenzie, keponakanku yang saat ini tengah duduk kelas satu sekolah dasar. Kebiasaannya menyimpan tiket kereta bukan sekadar hobi mengoleksi melainkan asa liburan yang belum terwujud hingga saat ini.

Kenzie kerap sekali menyimpan tiket keretaku saat aku pulang. Tiket yang sudah tidak terpakai itu menjadi angan dia untuk bisa ke Jakarta, suatu saat. Dan tumpukan uang itu adalah hasil dari ketekukannya menabung. Dia berharap bisa ke Jakarta menggunakan sepur dengan uang tabungannya.

Aku sempat tidak percaya, uang saku yang diterima Kenzie pada lebaran tahun lalu masih terkumpul dan tertata rapi. Entah berapa jumlahnya, mungkin masih utuh. Setiap kali aku tanya, ia menjawab uang itu untuk beli tiket kereta.

IMG_20161128_204714

Kenzie dan Aby membaca buku cerita

Belum lama ini aku kembali pulang. Kala itu ia pun menagih. “Om tiketnya mana,” kata dia. Tanganku mencoba merogoh tas dalam-dalam. Sebab, selembar tiket yang sudah tak kupakai usai bepergian biasa kuletakkan di bawah tumpukan barang di ransel. Maka dari itu, aku jarang sekali membuang tiket kereta. Tak berbeda jauh, aku pun sering menyimpan barang kecil itu.

Melihat tiket di tanganku, Kenzie lekas menyimpannya. Tapi kadang kalau lupa, selembar kertas berindentitas itu hanya kuletakkan di atas meja. Lalu dengan sendirinya berpindah tempat berkumpul bersama beberapa lembar lainnya. Pasti dia yang mengambil dan menyimpannya.

Putra sulung kakakku itu memang selalu menjadi pengingat pada rumah di Jogja. Tidak hanya itu, percakapan kami pun semakin melekatkan rindu kampung halaman. Setiap kali aku menelepon orang tua, ia selalu mendekat jika berada di samping mereka. Awalnya sekadar menanyakan siapa yang menelepon. “Siapa, Mbah?” Namun tak jarang telepon itu ia rebut kalau tahu aku yang menghubungi. Suara dia juga masih lekat dalam ingatanku sekarang.

Selain Kenzie, ada satu lagi kemenakanku yaitu Aby. Aby adalah adiknya yang masih berusia 3 tahun. Berbeda dengan kakakkya, tubuh anak itu gempal. Pipinya terlihat selalu penuh dengan makanan. Keduanya memang menjadi penjaga rinduku pada kampung halaman.

Ohya, ada satu pertanyaan yang masih aku ingat saat berbicara dengan Kenzie atau Aby di sambungan seluler. “Om, kapan pulang?” Atau kadang perkataan dia menembak seolah-olah aku akan pulang kampung dalam waktu dekat. “Om, besok ya pulangnya.”

Saat mendengar suara dan pertanyaan itu perasaanku mendadak gundah. Rindu pada keluarga dan rumah terurai sudah. Beberapa tahun tinggal di rantau tetap tidak bisa mengalihkan kenangan di kampung. Dan aku sering kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan sulit dari dua anak itu. Tapi kadang aku iyakan saja biar mereka lega.

Jpeg

Kenzie dan Aby bermain sepeda di halaman rumah.

Sebenarnya, kami sering bertemu dulu. Bahkan mereka sesekali terlelap dalam tempat tidurku. Saat itu aku masih studi di Jogja. Kenzie masih duduk di TK sementara Aby masih belajar berjalan. Rumah kami pun bersebelahan hanya terpisah sepelemparan batu. Jadi hampir setiap hari aku melihat tingkahnya bahkan bermain apapun di halaman rumah.

Namun sekarang perjumpaan kami bisa dihitung jari dalam setahun. Mungkin saat lebaran atau beberapa bulan sekali. Bisa dibilang, kesibukanku di rantau kerap menjadi pemisah cerita kami bertiga. Tapi dalam hati aku berangan ingin memberikan hadiah mengajak mereka ke Jakarta naik kereta api. Bisa juga saat libur sekolah agar kami bisa jalan-jalan berlibur menikmati wisata Ibu Kota. Sebab, hobi kami sama yaitu suka jalan-jalan. Semoga suatu saat impian itu terwujud.

Oleh

Danang Firmanto